Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
Hello world!
June 28th, 2010Rumah Pantai
June 24th, 2010Rasanya seperti menari sambil duduk. Segala sesuatunya terjadi dalam urutan dan irama yang sempurna. Setiap kali tuas gas kupuntir ke belakang, sepeda motorku langsung melonjak dan menderu maju bagai seekor kuda balap terlecut cambuk. Begitu mengasyikkan. Hari itu Sabtu malam, lima belas menit sebelum dimulainya sebuah pesta. Dan bukan sekedar pesta biasa. Pesta ini, adalah sebuah pesta intim senilai 2 milyar rupiah yang diselenggarakan oleh Barry Nugroho dan istrinya, Annisa, salah satu dari banyak pasangan konglomerat di negeri ini. Tempatnya di sebuah Rumah Pantai besar seharga 40 milyar milik mereka. Dan aku terlambat! Kuinjak persneling ke gigi lima, sekali lagi menyentak gas, dan membiarkan sepeda motorku melesat membawaku membelah lalu lintas yang untungnya malam ini tidak begitu ramai. Bagiku, sepeda motor adalah tempat berpikir yang paling tenang. Ini kuketahui dari kakakku, Jack, si mahasiswa hukum semester akhir. Biasanya dia yang sering melakukannya. Tapi akhir-akhir ini aku juga ikutan, sambil meliuk-liuk menghindari mobil aku memikirkan kelakuanku. Aku sadar, di usiaku yang sudah 25 tahun, aku tidak tumbuh dengan baik dan benar. Dua ratus meter mendekati rumah itu, aku sudah bisa melihat gemerlapnya lampu pesta menerangi halamannya. Aroma garam dan wangi bunga bakung perlahan mengisi hidungku. Seorang satpam gendut bersetelan putih menyeringai lebar dan melambai padaku, mengijinkanku masuk melewati pintu gerbang. Aku melaju pelan memasuki halaman depan yang luas. Kupandangi rumah besar di depanku. Meski sudah sering kemari, aku masih tetap terkagum-kagum setiap kali melihatnya. Berdiri di atas lahan seluas 45.500 meter persegi, rumah itu nampak mewah, gagah, berlebihan, serasi dengan tamannya yang luas dan indah, yang penuh dengan deretan semak dan bunga yang melandai langsung ke pantai berpasir putih alami.
Di sepanjang jalan masuk yang bertabur kerikil putih, tampak beberapa mobil di parkir sembarangan, semuanya mobil mahal keluaran terbaru. Aku tersenyum, tampaknya aku belum begitu terlambat. Pesta malam ini termasuk kecil, kurang dari 40 orang, tapi semuanya termasuk pesohor di negeri ini. Ada pengacara, pengusaha, miliarder, hingga anggota DPR. Tersebar sebagai penggembira pesta, tampak beberapa artis, penyanyi, hingga host dan penyiar berita yang semuanya cewek. Tapi jangan keburu iri dulu. Aku juga tidak tercatat dalam daftar tamu. Aku disini untuk memarkir mobil!! Pelanggan pertamaku datang 2 menit kemudian, seorang pengacara senior yang sering muncul di TV. Disampingnya, menggelayut manja layaknya kekasih, seorang gadis muda yang sangat cantik. Pakaiannya sudah awut-awutan. Dia berusaha menutupi pahanya saat aku mengambil alih mobil. Aku cuma tersenyum. Aku sudah biasa melihat pemandangan seperti itu. Dalam waktu 10 menit, aku sudah mengisi pelataran parkir dengan empat sedan Eropa tipe terbaru. Di bawah cahaya bulan,sedan-sedan itu berkilau bagai tanaman metalik. Aku suka menjadi tukang parkir, hanya sibuk di awal dan akhir acara, selebihnya bisa nyantai. Mobil terbaik datang saat pesta sudah dimulai, sebuah Ferrari merah hati yang dikendarai seorang artis muda yang cantik.
“Perlakukan dengan lembut, ya.” Dia berbisik mesra di telingaku dan menekan 200 ribu rupiah ke telapak tanganku.
Periode awal yang sibuk pun berlalu. Aku mengambil sekaleng minuman soda dan sepiring nasi jatah. Duduk di rerumputan di samping jalan masuk, kunikmati makan malamku. Dari situ, aku bisa mendengar apa yang terjadi di dalam rumah. Teriakan, jeritan, desis dan bisikan, tercampur menjadi satu, bersahut-sahutan dengan suara tawa dan umpatan-umpatan kotor yang seharusnya tidak mungkin keluar dari orang-orang seperti mereka. Aku cuma menghela nafas. Yah, inilah dunia. Apa yang terlihat baik di luar, belum tentu sama dengan kenyataan sebenarnya. Awalnya aku juga kaget saat pertama kali bekerja di rumah ini, 5 tahun yang lalu. Tapi setelah sering melihat, dan kadang-kadang merasakan juga –kalau lagi beruntung- aku jadi maklum. Seks kan merupakan kebutuhan dasar manusia, tak peduli dia berasal dari mana.
Aku sedang menikmati brownies gulung sewaktu seorang pramusaji berjas hitam bergegas mendekat. Sambil memberikan senyum yang penuh arti, ia menjejalkan sepotong kertas merah darah ke dalam saku kemejaku. Kertas itu pasti sudah disemprot parfum. Aroma tajamnya menusuk hidungku sewaktu aku membukanya.
Isinya singkat dan jelas, tiga huruf, tiga angka: IZD235. Aku memandang pria itu untuk meminta penjelasan, tapi dia cuma nyengir dan berlalu meninggalkanku. Aku berpikir, apa maksud ini semua? Aku menyelinap menjauhi rumah dan berjalan melintasi deretan mobil-mobil mahal yang tadi kuparkir. Sepertinya aku melihat tulisan itu di salah satunya. Dan benar, aku menemukannya tertempel di kaca belakang sebuah Mercedes Benz hijau tua. Kucoba untuk membuka pintunya, ternyata tidak terkunci, padahal aku yakin sekali kalo sudah mengincinya tadi. Tanpa curiga sedikitpun, aku masuk dan duduk di kursi penumpang depan. Dengan teliti, kuperiksa mobil itu. Di balik penghalang matahari, tidak ada apa-apa. Kuaduk-aduk kompartemen yang ada disebelahku, di dalam kotak kacamata, kutemukan sebatang rokok ganja berhiaskan pita merah. Kusulut rokok itu setelah terlebih dahulu membuang pitanya. Kulihat lagi barang-barang yang lain, tidak ada yang penting, ataupun berbahaya. Kuhembuskan asap kekuningan melintasi jendela. Aku mulai berpikir kalau ini tidaklah terlalu buruk. Aku mulai merasa gerah ketika rokok ganjaku sudah hampir habis. Saat akan membuangnya, saat itulah ada tangan besar mencengkeram bahuku.
“Hai, Fer,” sapaku tanpa perlu melihat siapa orangnya.
“Halo, Rabbit.” Feri memanggil menggunakan nama kecilku, lalu menjulurkan tangannya dan mengambil sisa rokokku. “Sudah ada yang kau tiduri?” dia bertanya.
Ferdiansyah nama lengkapnya. Seorang anggota polisi yang tidak begitu jujur. Kalau melihat sepak terjangnya selama ini, sudah untung dia bisa duduk di posisinya yang sekarang.
“Kau tahu aku, Fer. Aku tidak pilih sembarang perempuan.”
“Sejak kapan.” Dia tertawa.
“Hm, mungkin sejak sore tadi, dengan istrimu.”
Dia berhenti tertawa dan meninju bahuku. “Dasar bajingan. Gimana, kau puas?”
Aku mengangkat dua jempol dan mengarahkan ke mukanya, “Sip!!” Dan dia kembali memukulku. Tapi tidak terasa sakit sama sekali.
Percakapan ini jelas hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang sudah benar-benar akrab, semacam sahabat atau teman sejak kecil. Aku dan Feri sudah termasuk kategori itu. Kami teman sejak mulai dari TK hingga SMA. Baru saat kuliah kami berpisah, Feri masuk ke kepolisian, sementara aku, kuliah sambil malas-malasan. Beberapa bulan lalu kami bertemu kembali, itu pun secara tidak sengaja. Saat itu Feri sedang patroli rutin ketika melihatku di kejar-kejar massa. Dengan sigap, dia menyelamatkanku. Dan bukannya membawaku ke kantor, dia malah mengajakku mampir ke rumahnya, dan memperkenalkan aku pada istrinya yang cantik. Dia tidak menanyai aku macam-macam, dia sepertinya lupa kalau tadi aku sempat di uber-uber massa, feri tidak menanyakan alasannya. Dia malah sibuk bernostalgia tentang kenakalan kami waktu kecil dulu. Aku sih senang saja diperlakukan seperti itu. Malam itu, aku menginap di rumahnya. Besok paginya, aku pamit. Sebelum pergi, aku sempat berjanji, aku siap menolong kapan saja kalau dia butuh bantuan. Saat itu, niatku cuma basa-basi saja, mana ada sih polisi minta tolong pada penjahat jalanan kaya aku. Tapi ternyata aku keliru. Satu minggu yang lalu, ponselku berbunyi. Dari Feri. Tumben dia telepon, batinku. Kukira dia mau mengajak makan atau apalah, tapi ternyata tidak. Dia mengajakku ketemuan untuk membahas hal yang sangat penting. Ini menyangkut karir dan nasib keluarganya, begitu katanya. Akhirnya.. di sebuah kafe sepi di pinggiran kota, kami bertemu. Di situ, Feri menumpahkan segala uneg-unegnya.
“Tolong aku, Pitt. Cuma kamu yang bisa melakukan ini.” Dia memohon dengan muka merah menahan tangis. Sepertinya persoalan ini begitu berat hingga membuat seorang Ferdiansyah yang biasanya kejam menjadi seperti ini.
“Ceritakanlah, aku akan berusaha membantu semampuku.”
Dia pun berbicara, dan memang benar, masalahnya begitu rumit. Feri baru saja kehilangan pistol dinasnya. Dia diserang di dekat rumahnya saat pulang dalam keadaan mabuk. Pemuda berandalan itu mengambil pistolnya dan menggunakannya untuk merampok toko emas. Dia menembak mati dua penjaga toko dan melukai 3 lainnya. Feri benar-benar terpojok sekarang. Dia memang tidak melaporkan telah kehilangan pistol itu, Feri belum siap menerima sanksinya: 2 tahun tidak diperkenankan memegang senjata. Apa artinya seorang Polisi kalau tidak pegang senjata, padahal dia bertugas di lapangan. Jadi Feri berniat untuk menemukan pistol itu dengan usahanya sendiri. Tapi dengan adanya peristiwa perampokan itu, semuanya jadi tidak berjalan sesuai rencana. Dia harus cepat menemukan pistol itu sebelum hasil Labort keluar. Kalau sampai diketahui kalau peluru yang bersarang di tubuh korban berasal dari pistolnya, dia bisa didakwa melakukan perampokan dan pembunuhan. Selain dipecat, dia juga bisa dihukum mati. Dan Feri tidak mau itu terjadi. Jadi dia menghubungiku. Sebagai orang yang besar di jalan, dan kenal banyak pelaku kriminal, mudah saja bagiku untuk melakukannya. Kujanjikan padanya waktu 3 hari. Feri langsung memelukku.
“Terima kasih kawan, aku tahu kau bisa diandalkan.”
Aku cuma mengangguk dan mengelus punggungnya, menenangkan. “Bukan masalah, ini sudah kewajibanku. Sebagai teman, kita harus selalu tolong menolong.”
“Apa yang bisa kuberikan sebagai rasa terima kasih?” dia bertanya.
“Tidak usah, ini murni bantuan dariku.”
“Tidak, katakan saja. Pasti kuusahakan.”
“Tidak perlu repot-repot seperti itu.”
“Aku memaksa.”
“Hhmm, gimana ya? Begini saja, urusan itu kita bicarakan belakangan saja, kalau barang sudah kudapat. Untuk saat ini, berpikirlah untuk merawat dirimu. Lihat, penampilanmu kaya orang gila!” aku tertawa.
Feri memperhatikan dirinya, dan tersenyum. “Kamu benar.” Itulah untuk pertama kalinya hari itu kulihat Feri tertawa, aku menjadi sedikit lega. Akhirnya, kamipun berpisah. Tanpa perlu usaha keras, aku berhasil melacak jejak pistol itu. Yang memegangnya ternyata si Udin Rompal, sang spesialis perampok toko emas. Dia orang yang sadis tapi bodoh. Dengan sedikit trik dan tipu muslihat, aku berhasil mendapatkan pistol itu. Aku menukarnya dengan besi batangan. Aku tahu dia bakal marah besar kalau sampai tahu, tapi itu masih berbulan-bulan lagi. Aku segera menelepon Feri untuk mengabarkan berita baik ini. Dia tampak begitu gembira saat mendengarnya, dia tertawa-tawa sampai bikin kupingku sakit. Tapi tawanya langsung berhenti saat kubilang imbalan apa yang kuinginkan.
“Kau serius?” dia bertanya, berusaha meyakinkan.
“Sangat serius.” Jawabku santai.
“Tidak ingin yang lain?”
“Tidak.”
Feri terdiam sejenak, sepertinya sedang berpikir keras. “Aku tidak bisa memberi keputusan sekarang, harus kubicarakan dulu dengan istriku.”
“Tidak apa, aku bisa menunggu.” Pembicaraan pun berakhir di situ.
Aku sudah memikirkan soal imbalan ini sejak pulang dari rumah Feri. Dengan beberapa pertimbangan, aku menganggap ini keputusan yang terbaik. Dan aku yakin Feri tidak akan menolaknya. Dia tidak dalam posisi yang bisa menawar sekarang, kendali permainan ada di tanganku. Sambil tersenyum licik, aku memejamkan mata, dan tertidur pulas. Salah sendiri kenapa menjanjikan imbalan kepada orang seperti aku. Keesokan paginya, ponselku berbunyi saat aku sedang menikmati sarapan di dapur. Kulihat nama yang tertera di layarnya, dari Feri.
“Bagaimana?” aku langsung bertanya tanpa basa-basi.
“Ok, istriku setuju. Nanti sore datanglah ke rumah.” Tampak ada sedikit nada kesal dalam suaranya.
“Jam tiga.” Aku menyanggupi.
“Terserah. Jangan lupa barang pesananku.”
“Beres.” Pembicaraan pun berakhir. Kuteruskan sarapanku yang sudah tinggal sedikit, kemudian mandi dan pergi ke mini market untuk belanja bulanan.
Jam 14:35, sambil menenteng tas kecil, aku pergi ke rumah Feri. Dia sudah menungguku di teras depan saat aku tiba.
“Mana pistolku, ada?” dia bergerak menghampiri.
Aku menahan tubuhnya, “Sebentar, sebaiknya kita masuk dulu ke dalam.”
Dengan bersungut-sungut, Feri mengikutiku masuk ke dalam rumah. Dia langsung menyambar tas kecilku begitu kami sudah berada di ruang tamu. Feri tersenyum saat melihat isinya.
“Tepat seperti yang kau minta.” Aku menambahkan.
“Terima kasih, sobat.” Dia menepuk bahuku.
“Aku kesini bukan untuk mendengar ucapan terima kasih darimu. Aku kesini untuk mengambil hadiahku.”
Feri langsung menarik tangannya, tampangnya kembali jutek lagi kaya tadi. “Pergi dari sini. Dasar kau bajingan sialan.” Dia berusaha mendorongku keluar.
“Kau yakin?” tapi aku tetap bersikap tenang. Aku tahu pasti akan diperlakukan seperti ini.
“Pergi, sebelum aku membunuhmu.”
“Apa yang akan kau gunakan? Pistolmu?”
Feri menarik keluar logam dingin itu dan membidikkannya padaku. “Ya, kalau itu memang harus kulakukan.” Saat itulah dia melihatnya. Pistol itu tidak utuh, tempat pelurunya tidak ada.
“Apa ini?” Feri bertanya kebingungan.
Aku tersenyum, “Berikan hadiahku, maka pistolmu akan kembali utuh.”
Feri mengumpat dan membanting pistolnya. “Dasar licik. Kau…” dia sudah akan memukulku saat tiba-tiba terdengar tangis bayi dari dalam kamar.
“Jangan berteriak. Kau membangunkan bayimu.”
Feri menarik tangannya. Mukanya masih merah dan nafasnya masih ngos-ngosan saat dia berbalik dan menghempaskan tubuh di kursi. Dia menendang pot bunga keramik yang ada di sebelahnya untuk melampiaskan amarah.
Aku diam saja saat melihat pot malang itu pecah berantakan. Sengaja kubiarkan dia berpikir agar bisa mengerti siapa yang berkuasa disini. Detik detik penuh kesunyian itu berjalan begitu lambat. Aku sudah hampir meninggalkan tempat itu saat Feri tiba-tiba mendongakkan kepala dan berbisik,
“Baiklah, kau menang. Tapi kapan akan kuperoleh magazine-ku kalau kuberikan hadiahmu?”
“Malam ini. Temui aku di tempat kerja.” Aku tahu dia mengerti tempat mana yang aku maksud.
Feri mengangguk. “Dia ada di kamar. Langsung saja kesana.”
Tanpa permisi atau mengucapkan terima kasih, aku langsung meluncur ke belakang. Di situ terlihat dua kamar. Aku pilih yang sebelah kiri karena kamar itu yang lampunya menyala. Dan lagi, tangis bayi tadi sepertinya berasal dari situ. Aku mengetuk pintunya pelan tiga kali.
“Masuk saja, tidak dikunci.” Terdengar lembut suara wanita dari dalam.
Aku membuka pintu dan melangkah masuk. Kamar itu tidak begitu besar. Cat biru mudanya sudah mulai kusam. Tidak ada hiasan atau lukisan di dindingnya. Lantainya yang gelap ditutupi semacam karpet berenda. Semuanya tampak begitu sederhana. Lemari besar yang sudah ketinggalan jaman berdiam sendirian di sudut, berdampingan dengan ranjang besar yang berseprei putih bersih. Di atasnya, terlihat Marissa, istri Feri, yang sedang menyusui bayinya. Wanita cantik itu tersenyum saat melihatku.
“Maaf, aku harus menidurkan si kecil dulu.” Dia memandangi bayi mungilnya.
“Tidak apa-apa. Teruskan saja.” Aku mendekat dan duduk di sebelahnya. “Berapa umurnya?”
“Minggu depan tepat tiga bulan.” Marissa menggeser tubuhnya. Dia membiarkan aku memandangi payudaranya yang menyembul keluar. “Kau menyukainya?” dia bertanya.
Marissa
“Iya, dia lucu sekali.” Kuelus pipi bayi itu. Kulihat mulut mungilnya yang kenyot-kenyot menyedot puting payudara Marissa. Puting itu berwarna merah kecoklatan.
“Bukan. Maksudku, kau menyukai dadaku?”
Aku tidak bisa menjawab. Aku benar-benar tidak menyangka kalau dia akan bertanya langsung seperti itu. “Indah..” hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Dan itu memang benar. Payudara Marissa memang benar-benar indah. Bentuknya bulat sempurna, dengan ukuran yang besar karena berisi air susu. Permukaannya yang putih mulus tampak seperti kulit bayi. Begitu menggoda hingga membuatku tak rela untuk mengedipkan mata.
“Kamu tidak ingin melihat yang satunya?” Marissa mengagetkanku.
“Tentu saja.” Aku menyahut cepat. Memang saat itu, cuma bulatan kiri saja yang dikeluarkan. Yang kanan masih berada di dalam, tertutup BH dan daster putih tipis.
“Kalau begitu, lakukan. Tunggu apa lagi.” Dia berkata.
Akupun beraksi. Dengan pelan, kuturunkan tali dasternya ke bawah. Kini tubuh atas wanita cantik itu sudah setengah telanjang.
“Sepertinya, kamu sudah tidak sabar.” Gumamnya saat merasakan aku menarik payudaranya yang kanan dengan kasar.
“Memang. Siapa juga yang tahan kalau lihat pemandangan seperti ini.” Aku meremas-remas bulatan daging itu. Kupijit perlahan-lahan hingga putingnya mengeluarkan air susu.
“Terserah, itu memang jatahmu. Tapi jangan pegang yang kiri selama bayiku belum tidur. Ok?” dia memperingatkan.
Aku cuma mengangguk. Aku tidak bisa menjawab karena sekarang mulutku asyik menempel di putingnya. Aku menjelajah, menjilat kecil, dan mencucupnya berkali-kali. Hingga tak lama, benda bulat mungil itupun berdiri tegak.
“Kau terangsang.” Aku mengatakan sesuatu yang sudah jelas.
“Memangnya kamu tidak?” dengan isyarat mata, Marissa menunjuk selangkanganku yang kini sudah tampak menggembung. Apapun yang ada di dalamnya, kini sudah menggeliat bangun.
Aku tersenyum, dan kembali mencucup puting itu. Sambil menghisap, aku juga meremas-remasnya pelan. Rasanya begitu nikmat. Empuk, hangat, dan kenyal bercampur menjadi satu. Permukaannya yang halus juga hampir membuatku tergelincir beberapa kali. Benar-benar mainan yang sempurna. Aku menyukainya.
Disaat aku sedang asyik itulah, Marissa tiba-tiba berbisik, “Bayiku sudah tidur.”
“Terus?” aku bertanya bodoh, inilah akibatnya kalau mikir pake nafsu.
“Berhenti sebentar, aku mau menaruhnya dulu.”
“Oh, iya. Iya.” Aku baru mengerti.
Dengan santai Marissa berdiri dan berjalan menuju Box bayi besar yang ada di seberang ranjang. Saat itulah, tanpa bisa dicegah, tanganku menepuk bokong bulatnya, PLAK!
“Auw, nakal ya.” Dia menoleh. Tapi tidak ada nada marah dalam suaranya. Dia juga tidak protes saat aku bangkit mengikutinya.
“Kenapa kamu mau melakukan ini?” aku bertanya.
“Kamu perlu alasan?”
“Tidak juga sih. Cuma penasaran saja.”
“Begini, kalau kamu jadi aku, apa yang akan kau lakukan?”
Aku berpikir sebentar, “Hhmm, mungkin juga sama.”
“Ya, itulah alasannya.” Marissa meletakkan bayinya. Karena dia menunduk, kedua payudaranya yang besar jadi menggelantung ke bawah. Aku segera menangkap keduanya dari belakang.
“Tapi sepertinya kamu tidak keberatan sama sekali untuk melakukan ini. Aneh!”
“Apanya?” dia berbalik.
“Kukira aku harus memperkosa dulu untuk mendapatkan tubuhmu. Tidak mudah dan gampang seperti saat ini.”
“Kamu ingin yang sulit?”
“Tidak juga sih, tapi…”
“Sudahlah. Jangan cerewet. Nikmati saja malam ini. Daripada ribut soal itu, mending segera saja kau nikmati tubuhku. Sebelum aku berubah pikiran.”
Aku mengangguk. Tentu saja aku tidak mau menyia-nyiakannya. Setelah dengan susah payah mendapatkannya, masa aku mau melewatkannya begitu saja. Segera kuajak Marissa untuk kembali ke ranjang. Kurebahkan tubuh sintal menggoda itu di bawah tubuhku.
“Kamu cantik.” Bisikku sebelum mulutku turun dan melumat habis bibir merahnya.
Marissa mengimbangi dengan menyedot dan menggigit bibirku berkali-kali. Lidah kami yang basah saling membelit dan menghisap. Dia mendesis saat aku juga menjelajahi pipi dan lehernya yang jenjang. Wanita itu tampak sangat menikmati setiap sentuhanku.
“Turun. Hisap payudaraku.” Dia mendorong kepalaku agar menuju ke dadanya. Tanpa disuruh pun aku pasti akan menuju tempat itu. Benda itulah yang sudah membuatku tergila-gila dari tadi.
Tapi aku tidak langsung melakukannya. Aku ingin memandangi dulu bukit kembar itu sebentar. Kembali mengagumi keindahannya. Baru kali ini aku melihat payudara yang begitu sempurna. Baik itu ukuran, bentuk, maupun rasanya. Marissa yang melihat kelakuanku, tersenyum dengan bangga. Sebagai wanita, tentu saja dia senang kalau ada lelaki lain yang memandang tubuhnya seperti itu. Berarti dia masih menarik. Dan ngomong-ngomong soal menarik, sekarang Marissa sudah menarik celanaku ke bawah. Dengan lihai dia mempreteli sabuk dan celana dalamku. Saat kemaluanku sudah kelihatan, dia segera menggenggamnya dengan erat.
“Besar sekali.” Dia berbisik di telingaku. Aku cuma tersenyum, bukan cuma dia yang pernah bilang seperti itu.
Sementara dia mengocok-ngocok penisku, aku berusaha untuk menyingkap celana dalam tipisnya. Aku menariknya ke bawah, tapi sulit sekali. Kusingkirkan ke samping juga tidak bisa. Daripada sulit-sulit dan menghabiskan waktu, aku langsung saja merobeknya jadi dua. Marissa memekik lirih saat tau apa yang kulakukan.
“Sudah tidak tahan, ya?” tanyanya sambil membuka kakinya lebar-lebar. Kini kami berdua sudah sama-sama telanjang.
Aku meringis, “Iya, maaf.”
“Sudahlah. Cepat lakukan.”
Kupegang penisku dan kuarahkan tepat ke lubang vaginanya. Wanita itu menjerit tertahan saat perlahan burungku menembus masuk dan memenuhi seluruh kemaluannya.
“Hhhggh, tahan dulu.” Dia mengerang. Meski sudah tiga bulan berlalu, ternyata luka bekas melahirkan dibibir vaginanya masih belum sembuh benar.
“Sakit?” aku bertanya.
Marissa cuma mengangguk, dua bulir air mata tampak merembes keluar dari matanya yang sayu. Aku jadi tidak tega untuk meneruskan, padahal aku sudah sangat bernafsu sekali saat itu.
“Gak jadi aja, ya?” aku bertanya.
“Tidak apa-apa, ini cuma sakit diawal saja. Nanti kalau sudah terbiasa juga bakal enak sendiri.”
“Nggak ah, aku gak tega.” Aku sudah akan mencabut penisku, tapi Marissa menahan pinggulku.
“Jangan. Aku sudah lama ingin merasakan penis besar seperti punyamu.”
“Memang punya Feri seberapa?”
“Masih kalah pokoknya.”
“Tapi kamu kesakitan.”
“Gak pa-pa. Percayalah padaku.”
“Beneran?”
Marissa mengangguk sungguh-sungguh, “Tapi tunggu sampai kemaluanku melar dulu.” Dia menambahkan.
Sambil menunggu, aku bermain-main dengan dada Marissa yang besar. Aku meremas dan menciumi daging bulat itu bergantian. Kuhisap putingnya dan kupilin-pilin dengan ujung jariku. Marissa melotot saat aku mencucup dan meminum air susunya yang merembes keluar.
“Eh, jangan dihabiskan. Nanti anakku minum apa?” dia menegurku sambil tertawa.
Kurasakan kemaluan Marissa menjadi sedikit lebih longgar sekarang. Cairan kewanitaannya juga semakin banyak menetes keluar. Mungkin ini sudah saatnya. “Bagaimana?” aku menunjuk penisku yang masih terdiam di bawah sana.
“Oh iya, tapi pelan-pelan ya.” Bisiknya.
“Nanti bilang kalau sakit.” Aku menarik pinggulku pelan. Marissa cuma merintih saat penisku ikut tertarik keluar. Tapi saat aku mendorongnya kembali, dia menjerit.
Tapi sebelum aku sempat bertanya, Marissa sudah berbisik, “Teruskan, tidak apa-apa.” Dia menggigit bibirnya untuk menahan sakit.
Aku menggerakkan pinggulku sekali lagi. Kali ini Marissa sudah tidak berteriak, dia cuma merintih lirih. Suatu kemajuan yang sangat berarti buatku. Kutarik lagi pinggulku, lalu mendorongnya. Tarik lagi. Dorong lagi. Tarik. Dorong. Tarik. Dorong. Tarik. Dorong. Dan setelah goyangan yang kesekian, rintihan Marissa yang tadinya penuh kesakitan, sekarang sudah berubah jadi rintihan penuh kenikmatan. Aku berhasil. Marissa sudah melewati masa penyesuaian. Kini aku jadi makin bersemangat. Dengan mantab dan kecepatan konstan, kusetubuhi wanita cantik itu. Berbagai gaya dan variasi kami coba. Mulai dari yang normal sampai yang aneh-aneh. Kalau tidak kesakitan gini, Marissa adalah pasangan tidur yang sempurna. Disaat kami sedang asyik itulah, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Feri masuk untuk mengambil lencana polisinya yang tergantung di dalam lemari.
“Teruskan saja. Aku cuma mau mengambil ini.” Dia memasukkan lempengan logam mengkilat itu ke dalam dompetnya.
Aku sempat berpikir untuk menghentikan permainan. Sungkan juga kan kalau menyetubuhi seorang wanita sedangkan suaminya berada sekamar bersama kita. Tapi Marissa menahan tubuhku.
“Biarkan saja.” Dia berkata. Dan terus menggoyang tubuhnya.
Aku yang berada di bawah cuma bisa pasrah karena saat itu Marissa lah yang memegang kendali permainan. Wanita itu seperti tidak peduli lagi dengan keberadaan suaminya. Dia sudah sangat dipengaruhi nafsu. Posisi kami memang sudah nanggung saat itu. Kami sudah sama-sama hampir mencapai orgasme. Jadi eman-eman kalau diputus sekarang, mungkin begitu pikir Marissa.
“Aku pergi dulu, ada panggilan mendadak dari kantor.” Feri berpamitan pada istrinya.
Tapi bukannya menyahut, Marissa malah menjerit keras dan roboh menimpa tubuhku. Wanita itu orgasme. Kurasakan cairan hangat menyiram dan menyemprot memenuhi vaginanya. Kami tidak bergerak untuk beberapa saat. Penisku yang masih tegak berdiri, kubiarkan terus menancap. Aku ingin memberi waktu bagi Marissa untuk menikmati orgasmenya. Feri sudah tidak terlihat lagi di kamar. Aku tidak tahu kapan dia keluar. Tapi aku juga tidak peduli. Aku lebih senang dia tidak ada, jadi aku bisa lebih puas menikmati tubuh istrinya. Kugeser tubuh sintal Marissa saat kurasakan dia sudah tidak gemeteran lagi. Kuminta dia untuk telentang. Marissa yang yang sudah kecapekan menurut tanpa membantah. Dia sekarang pasrah saja dengan apa yang kulakukan pada tubuhnya. Orgasmenya barusan telah menguras sisa-sisa tenaga wanita itu hingga tak tersisa.
“Bertahanlah, sudah tidak lama lagi.” Aku berbisik menyemangatinya.
Tapi Marissa tidak merespon sama sekali. Dia cuma memejamkan mata dan membiarkan aku bergerak sendirian menikmati vaginanya yang lezat. Dalam waktu tak sampai satu menit, aku pun menyusul. Spermaku berhamburan keluar, memenuhi vagina Marissa, bercampur dengan cairan kewanitaannya yang membanjir tadi, hingga membuat vagina wanita itu seperti gua lengket jaman purba. Saat aku menarik penisku, sebagian ikut merembes keluar membasahi sprei putih yang sekarang sudah basah oleh keringat. Marissa membuka matanya dan tersenyum.
“Kau puas?” dia bertanya.
“Lebih dari yang aku bayangakan.” Kucium bibirnya yang merekah manis di depanku. Marissa menyambutnya pelan.
“Kau akan pergi sekarang?” dia tampak berat untuk melepasku.
“Perjanjiannya cuma satu kali.”
“Tapi sekarang Suamiku sudah tidak ada. Kau bebas tinggal sampai kapanpun.”
“Tidak. Sebentar lagi aku harus bekerja.”
“Kumohon.”
Aku paling tidak bisa mengecewakan seorang wanita, apalagi yang cantik, dan pake memohon segala.
“Jam berapa sekarang?” aku bertanya.
Marissa mengambil HP-nya, “19:32!”
“Kamu punya waktu 30 menit.”
“Akan kumanfaatkan dengan baik.” Marissa merosot turun menuju penisku.
Dia memasukkan benda hitam yang setengah lemas itu ke dalam mulutnya. Marissa menjilat dan mengulumnya agar segera siap untuk babak kedua. Inilah alasan kenapa aku datang telat ke pesta. Waktu 30 menit yang kusediakan ternyata molor menjadi 1 jam. Selain Marissa yang terus merengek minta tambah, aku juga tidak tega untuk meninggalkannya. Siapa juga yang mau berpisah dengan wanita secantik dia. Jadi kami mengulanginya lagi dan lagi. Feri tidak tahu hal ini. Dia tetap mengira satu kali, sesuai perjanjian awal. Tapi mana ada sih penjahat yang menepati janji, iya nggak? Setelah berbasa-basi sebentar, aku segera menyerahkan sisa hutangku. Kuberikan magazine itu. Feri memeriksanya sebentar. Setelah yakin kalau itu asli, dia menepuk pundakku.
“Ok, sampai jumpa lagi.” Dengan terhuyung-huyung, Feri berjalan pergi menembus malam yang dingin ini.
Aku tetap duduk di dalam mobil, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba saja telepon berdering dari bangku belakang. Aku sempat melonjak dan terbentur pintu karena kaget.
“Sialan!” kuambil telepon itu. “Halo?” aku menerimanya.
Ternyata dari seorang wanita. Ia berbisik,”Peter, kau menikmati hadiahmu?”
“Lumayan, sesuai dengan anjuran dokter. Terima kasih.” Aku balas berbisik.
“Aku lebih senang kau berterima kasih padaku secara langsung di pantai.”
“Banyak orang disini, bagaimana aku tahu yang mana dirimu?”
“Coba saja. Kau akan tahu sewaktu melihatku.” Dan dia mematikan telepon. Aku mencoba menghubungi balik, tapi ternyata tidak ada pulsa dalam ponsel itu.
Aku turun dari mobil dan berjalan perlahan menuju pantai. Aku bertanya-tanya, siapa yang mungkin menantiku. Yang seru dari Rumah Pantai adalah kejutannya. Wanita tadi bisa saja 15 atau 55 tahun. Bisa juga cantik dan menggairahkan, tapi tak jarang juga gendut dan keriput. Ia mungkin datang seorang diri atau bersama teman, bahkan malah suaminya? Aku juga tidak tahu. Aku cuma bisa menebak-nebak. Aku duduk di pasir, sekitar 18 meter dari karang yang paling ujung. Ombak begitu keras malam ini, sisa-sisa dari badai minggu kemarin. Suaranya yang bergemuruh membuatku terlena hingga aku tidak mendengar ketika mereka datang mendekat. Tiga orang, dengan jas hitam dan badan kekar. Yang terpendek, dengan kepala dicukur plontos, langsung menendangku tepat di dada. Aku terjerembab. Nafasku sesak, dan kurasa beberapa tulang rusukku ada yang patah. Aku semakin panik saat mereka bertiga mulai mengeroyokku. Mereka dikirim kesini bukan cuma untuk memberiku pelajaran. Ini jauh lebih serius. Sia-sia aku melawan. Mereka terus menghujaniku dengan pukulan dan tendangan. Tanpa berhenti, salah satu dari mereka berkata,
“Rasakan ini, Peter Rabbit sialan!”
Aku mendengar suara derak tulang patah –tulangku. Tapi aku tidak merasakan sakit. Saat itulah aku tahu aku akan mati. Mungkin ini tidak penting lagi, tapi aku tahu siapa yang membunuhku!
By: Ikan Asin
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini
Bersambung Headshot – Propaganda, State Religion and the Attack On the Gaza Peace Flotilla. Available tools: changed.
Seks Cewek Pengantin: Dendam Erny, Derita Vivi 1
June 17th, 2010“Apa artinya ini Mas?!!” terdengar suara teriakan wanita bernada keras menggema di ruang tamu sebuah rumah mewah.
“Ya, saya harap kamu mengerti dengan pilihan saya ini.” Tutur seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk diruang tamu itu bersama seorang wanita dengan kemarahan yang terpancar jelas diraut wajahnya.
“Bagaimana dengan pernikahan kita selama ini Mas?! Bagaimana dengan Joanna dan Jonny?! Apa Mas tidak kasihan dengan mereka?! Mereka itu anak-anak kita, Mas?!” sahut wanita itu berusaha memberi pengertian bagi suaminya itu.
“Bukan begitu, Erny. Saya minta pengertianmu tentang perasaan saya. Sudah lama saya merasa tertarik dengan Vivi, lagipula dia cukup akrab dengan anak-anak kan? Pastinya tidak ada masalah kalau saya menikahinya”
“Jadi, maksudnya selama ini saya dimadu? Begitu?! Teganya kamu… Mas Johan… Teganya kalian!”” Erny berteriak penuh kemarahan.
“Bukan, bukan begitu! Saya merasa dengan kehadiran Vivi, keluarga kita akan semakin lengkap. Bukannya kalian juga berteman baik dari dulu? Seharusnya kamu mendukung pernikahan kami!” jelas Johan berusaha untuk menenangkan amarah Erny.
“Enak saja! Alasan apa itu?! Bagaimana dengan perasaan saya?! Saya sudah mendukung Mas selama 10 tahun sejak kita menikah! Dari saat Mas Johan masih bekerja sebagai pegawai rendahan sampai jadi manajer seperti sekarang!! Ini balasan Mas Johan untuk kesetiaan saya selama ini?!”
“Bukan begitu! Saya hanya minta agar kamu mengerti dengan perasaan saya ini! Apakah itu susah sekali?! Lagipula wanita yang saya pilih bukan orang asing! Kalian juga sudah mengenal Vivi dari dulu! Vivi itu wanita baik-baik! Kamu sebagai seorang istri seharusnya bangga karena suamimu ini masih pengertian dengan kalian! Laki-laki lain pasti sudah menceraikan istri yang tidak mau menuruti suami seperti kamu!” Bentak Johan dengan nada marah karena kehilangan kesabaran.
Vivi
Malam itu benar-benar malam yang terburuk bagi Erny dalam kehidupan rumah tangganya dengan suaminya, Johan. Bagaimana tidak, setelah 10 tahun membina rumah tangga bersama, Erny tidak pernah menyangka bahwa suaminya itu telah berselingkuh dengan seorang wanita yang tak lain adalah sahabat masa kecil Erny, Vivi. Memang banyak rumor yang beredar kalau Johan berselingkuh dengan seorang wanita muda, namun Erny menaruh kepercayaan penuh pada Johan dan tidak menghiraukan rumor itu sama sekali. Namun semua kesetiaan Erny terbukti keliru dengan pernyataan Johan malam itu yang memberitahu rencana pernikahannya secara mendadak pada Erny. Erny masih tidak percaya bahwa suaminya, Johan, memang telah berselingkuh dan lagi mengakui cintanya terhadap wanita lain itu. Fakta bahwa wanita yang hendak dinikahi oleh Johan itu adalah sahabat karib Erny sendiri kian membuat hati Erny membara dan hancur.
“Kalau begitu… Mas Johan boleh memilih! Kalau Mas menikahi Vivi, saya dan anak-anak akan angkat kaki!” ancam Erny.
Di lubuk hatinya yang terdalam, Erny berharap agar ancamannya ini dapat mengurungkan niat Johan untuk menikah lagi dan sekaligus untuk menguji apakah masih ada rasa cinta Johan padanya.
“Kalau begitu, kamu juga boleh memilih! Hidup bersama saya dan Vivi atau silahkan kamu bawa semua barang-barangmu dan keluar dari sini! Saya tidak akan berhubungan lagi denganmu! Lagipula Joanna lebih suka dengan Vivi dibandingkan kamu!” Johan kembali membentak Erny dengan nada keras.
Jawaban Johan yang disampaikan lewat bentakan itu langsung menghancurkan hati Erny berkeping-keping. Pikiran Erny berkecamuk dalam hatinya. Memang, kalau dibandingkan dengan Erny yang sudah berusia 30 tahun, Vivi yang masih berusia 23 tahun sangat berbeda jauh. Bukan hanya lewat perbedaan umur saja, namun Vivi yang memang berparas amat cantik itu bisa dikatakan mengalahkan Erny diberbagai bidang. Jelas, tubuh indah milik Vivi yang langsing dan padat dengan tinggi 162 cm yang proporsional amat kontras dengan tubuh Erny yang gemuk sehabis melahirkan Jonny, anak keduanya dengan Johan. Terlebih lagi, dengan sikap Vivi yang feminin dan baik hati itu terkadang membuatnya lebih disukai dibandingkan Erny oleh Joanna, anak pertama Erny yang baru berusia 6 tahun.
Walaupun sikap Joanna itu kadang melukai perasaan Erny sebagai seorang ibu, Erny tidak begitu menggubris sikap Joanna pada Vivi, mengingat persahabatan Erny dan Vivi sejak kecil. Ya, pada waktu mereka masih kecil, Vivi adalah tetangga Erny, karena perbedaan usia mereka itulah, Erny sering merawat Vivi yang saat itu masih bayi, bahkan Erny sudah menganggap Vivi seperti adiknya sendiri. Ia turut menyaksikan pertumbuhan Vivi dari seorang anak kecil menjadi seorang wanita muda yang amat cantik. Hati Erny kian tersayat-sayat mengingat bagaimana ia merawat Vivi dulu layaknya seorang kakak pada adiknya; ironisnya, sahabatnya itu kini justru akan merebut suaminya sendiri dari tangannya. Betapa kejinya balasan yang ditimpakan Vivi padanya, pikir Erny.
“Saya akan memberimu waktu untuk berpikir, toh pernikahan kami baru dilaksanakan bulan depan. Tapi ingat, saya tidak akan merubah pikiran saya. Keputusan saya sudah bulat dan saya akan tetap menikahi Vivi, terserah apa kamu suka atau tidak!” tegas Johan seraya berlalu masuk ke dalam kamar.
Seketika itu pula Erny ambruk ke lantai dan menangis tersedu-sedu menyadari bahwa cintanya telah dikhianati oleh Johan. Untunglah Joanna sedang menginap di rumah teman sekelasnya, sehingga anak itu tidak perlu menyaksikan pertengkaran orang tuanya itu, sementara Jonny masih terlalu kecil untuk mengerti pokok permasalahan Erny dan Johan. Erny berpikir dengan keras, bisa saja ia meninggalkan rumah itu, namun itu berarti bahwa ia harus menyerahkan kedua anaknya pada Vivi, dan itu tidak lebih dari pengibaran bendera kekalahannya dalam mempertahankan rumah tangganya. Erny berusaha tegar, ia tidak akan menyerah semudah itu. Ia memikirkan masa depan Joanna dan Jonny yang entah bagaimana nasibnya apabila ditinggal olehnya ditangan Vivi. Namun apabila ia bertahan, itu berarti dia harus rela dimadu seumur hidupnya oleh Johan, sesuatu yang tentu saja tidak diinginkan oleh seorang istri yang setia sepertinya. Mata Erny kian berat, ujian ini begitu sulit baginya, bagaimana rumah tangganya kini terancam hancur karena ulah seorang sahabatnya sendiri, bagaimana nasib anak-anaknya kelak dan bagaimana ia harus melewati hari-hari dengan adanya istri kedua Johan itu.
“AARGHH!!!” PRAANG… Erny mengamuk dan dilemparkannya asbak kaca yang berada dimeja disampingnya ke lantai hingga asbak itu pecah berkeping-keping. Kembali Erny terlarut dalam kesedihannya, saat terbayang masa-masanya bersama Johan dan pertemanannya dengan Vivi, Erny tak kuasa menahan amarahnya lagi. Kini dendamnya membara kepada sahabat yang mengkhianatinya itu.
“Kalau saja dia tidak pernah ada… kalau saja kami tidak pernah berteman… KALAU SAJA AKU BISA MEMBUATNYA MENDERITA!!” demikian gemuruh hati Erny pada Vivi.
Tidak ada lagi perasaannya sebagai seorang sahabat bagi Vivi, yang ada kini hanyalah dendam yang mendalam sebagai seorang wanita yang disakiti dan seorang sahabat yang dikhianati. Erny sadar bahwa untuk membalas dendamnya pada Vivi, ia perlu menenangkan diri dan berpikir dengan jernih. Erny berusaha keras mendinginkan kepalanya yang terbakar oleh amarah dan dendam sambil berusaha berpikir bagaimana caranya untuk memberi pelajaran bagi Vivi. Membunuh Vivi tentu saja merupakan jalan pintas, namun Erny berpikir apabila hal itu dilakukan, sudah pasti dirinyalah yang pertama kali dijadikan tersangka karena motifnya amat gampang dibaca apalagi menyewa orang untuk membunuh tentunya tidak mudah dan bisa saja menguras banyak biaya. Lagipula Erny lebih menginginkan agar Vivi sengsara dan menderita. Melukai atau menyiksa Vivi hingga cacat? Itu mungkin ide yang efektif, namun pastinya akan membuat Erny meringkuk ditahanan polisi apabila Johan sampai tahu tentang hal itu. Bisa saja Vivi yang dilukai akan membalas dendamnya pada Joanna atau Jonny. Kepala Erny kini malah semakin pusing dengan rencananya itu, ia sama sekali tidak bisa menemukan cara yang efektif. Dalam keputusasaannya, Erny mengambil handphonenya dan beranjak keluar dari rumahnya. Erny segera menelepon menghubungi kakaknya, Marny.
“Halo, ada apa, Er?” tanya Marny.
“Kak… tolong bantu saya Kak… Saya sudah tidak tahan…” pinta Erny dengan suara tersedu-sedu. Tentu saja Marny sontak terkejut mendengar suara adiknya itu.
“Lho? Ada apa, Er? Kamu kenapa?!”
“Kak… saya… saya…” Erny kembali terisak menahan tangisnya.
“Sudah, sudah… Er, tenangkan diri dulu ya? Ceritakan apa yang terjadi.” Ujar Marny menenangkan Erny.
Mendengar suara Marny, Erny kembali berusaha untuk mengendalikan diri. Setelah memastikan kalau perasaannya sudah tenang, Erny pun mulai menceritakan duduk persoalan rumah tangganya pada kakaknya itu. Mendengar nasib adiknya itu, sontak Marny naik darah dan emosi, apalagi saat mendengar bahwa Johan hendak mengusir Erny.
“Jadi, rupanya si Vivi itu selingkuhannya Johan?! Mereka mau menikah?!” tanya Marny dengan emosi.
“I… iya Kak…”
“Apa-apaan si Vivi itu?! Bukannya dia itu teman baikmu, Er? Tega sekali dia!! Kakak tidak menyangka kalau dia wanita seperti itu!”
“Makanya kak… Erny sudah tidak tahan… Erny juga tidak sampai pikir kalau Vivi rupanya seperti itu…” ujar Erny terbata-bata.
“Terus, bagaimana rencana kamu?”
“Erny mau balas dendam Kak. Erny tidak rela kalau Vivi yang menikmati semua ini tanpa penderitaan.” Tutur Erny.
“Baguslah, Kakak dukung kalau begitu! Terus, kamu mau apakan si Vivi itu?!” tanya Marny.
“Erny bingung… kak… Kita tidak bisa membunuh atau melukai Vivi… kita bisa dipenjara…”
“Aduuh! Kamu kepikirannya kejauhan! Bukannya ada cara yang lebih gampang?!” gerutu Marny.
“Apa Kak?” tanya Erny bingung.
“Makanya Er, tenangkan diri dulu lain kali.” Jawab Marny.
“Bukannya gampang? Daripada dibunuh atau dilukai begitu, lebih baik kalau kita melukai mental si Vivi saja!” lanjut Marny.
“Maksudnya?”
“Er, suruh saja orang buat memperkosa si Vivi sebelum dia menikah!” cetus Marny.
Pernyataan kakaknya itu seolah seberkas cahaya yang menghapus kebingungan hati Erny. Benar-benar sebuah ide yang luar biasa! Membuat Vivi diperkosa sebelum menikah dengan Johan!
“Mengapa tidak? Tentu saja! Itu cara yang paling baik untuk menaklukkan Vivi!” pikir Erny. Dengan diperkosanya Vivi, tentu saja akan memberi luka mendalam bagi Vivi sementara membuat Johan berpikir bahwa Vivi bukan seorang wanita yang baik-baik karena sudah tidak perawan sebelum menikah. Benar-benar sambil menyelam minum air! Lagipula dengan trauma pemerkosaan itu, pastilah mental Vivi akan goyah dan gampang diintimidasi oleh Erny. Erny yang kenal baik dengan Vivi tahu betul bahwa kepribadian Vivi yang feminin dan agak penakut itu akan membuatnya gampang dikontrol dibawah kendali Erny.
“Benar Kak! Ide kakak bagus sekali! Tapi bagaimana cara melaksanakannyaKak?”
“Tenang sajalah! Kakak yakin kalau banyak laki-laki yang mau kalau kamu bayar untuk memperkosa si Vivi, lagipula si Vivi kan cantik? Malah lebih gampang untuk mencari ‘sukarelawan’?” papar Marny.
“Kalau kamu mau, Kakak bisa mencarikan beberapa orang.” Lanjutnya. Marny lalu memberikan sedikit nasihat untuk Erny dalam merencanakan perangkap itu.
“Boleh Kak! Tolong kakak carikan orang-orang yang bisa dipakai buat si Vivi!” Pinta Erny yang kini tampak ceria, kontras dengan raut wajahnya sebelum menelepon Marny.
“Ya sudah kalau begitu. Jangan sedih lagi ya? Ingat, kalau besok Johan bertanya lagi, jawab saja kalau kamu setuju. Supaya rencana kita bisa berjalan.”
“Iya Kak. Terima Kasih Kak!”
“Iya, kakak tutup dulu ya? Besok kakak akan menyuruh orang-orang yang kakak pilih ke rumahmu waktu Johan ke kantor. Kamu siapkan saja tawaran buat mereka.”
“Baik, Kak.”
“Daah, malam ya, Er.”ujar Marny sambil menutup teleponnya
Erny tersenyum sekilas, ide brilian itu amat efisien dan mudah untuk dilaksanakan, sekarang hanya tinggal mempersiapkan semua keperluan agar rencana itu bisa berjalan lancar. Erny segera bangkit sambil tertawa-tawa kecil membayangkan rencananya itu. Erny segera pergi tidur dengan perasaan tidak sabar untuk menunggu kedatangan esok hari. Pagi harinya, Erny bangun dengan perasaan lega. Erny meregangkan tubuhnya dan menghela nafas sejenak sebelum turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar itu. Erny lalu pergi menuju ke dapur, dilihatnya Johan sudah berpakaian lengkap, siap untuk pergi ke kantornya. Johan sedang duduk dimeja makan sambil membaca koran pagi dan menyeruput secangkir kopi hangat. Erny lalu mendudukkan dirinya di hadapan Johan. Sesaat hawa dingin yang terasa cukup menekan karena mereka berdua saling terdiam tanpa bicara sebelum akhirnya Johan mulai angkat bicara.
“Er, bagaimana keputusan kamu soal pernikahan kami?” tanya Johan langsung ke pokok permasalahan.
Begitu mendengar pertanyaan Johan itu, segera darah Erny kembali naik ke ubun-ubun melihat bagaimana suaminya itu tergila-gila pada Vivi. Erny nyaris mengamuk kembali, namun ia teringat nasihat Marny semalam. Erny pun berusaha menjaga emosinya dan bersikap seolah ia pasrah dengan pernikahan Johan itu. Bagaimanapun agar rencana ini berhasil, upacara pernikahan Vivi dan Johan harus tetap berlangsung.
“Sudahlah Mas, kalau itu memang keinginan Mas Johan, saya sebagai istri hanya bisa ikut saja.” Tutur Erny dengan nada lirih yang dibuat-buat.
Johan langsung tersenyum sumringah begitu mendengar perkataan Erny itu. Johan sedikit kebingungan dengan sikap Erny yang berubah drastis 180 derajat dibandingkan kemarin.
“Kamu… kamu yakin, Er?!” tanya Johan keheranan.
“Iya Mas. Kemarin saya sudah bicara dan dinasehati Kak Marny. Memang sebagai istri kita harus membuat suami kita bahagia. Karena saya mau Mas Johan bahagia, saya rela kalau Mas mau memperistri Vivi. Lagipula perkataan Mas Johan kemarin memang benar, Vivi bukan orang asing bagi kita, saya kenal baik dengan Vivi, makanya saya setuju.” Kilah Erny.
“Er, saya benar-benar bahagia, akhirnya kamu mau mengerti juga perasaan saya!” Johan tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya lagi.
“Tapi Mas Johan harus berjanji kalau Mas bisa membagi kasih sayang dengan kami dengan seimbang. Terus, jangan lupakan anak-anak.”
“Iya, pasti! Kamu kan juga istri saya? Bagaimana mungkin saya melupakan kamu?” ujar Johan.
Erny lega, setidaknya Johan dapat masuk perangkap lebih mudah dari yang ia bayangkan. Sekarang ia perlu mengatur agar ia ikut terlibat dalam acara pernikahan Vivi itu.
“Mas Johan, kalau boleh saya juga mau ikut membantu acara pernikahan Mas dengan Vivi.” Pinta Erny.
“Boleh saja. Tapi kenapa kamu juga mau ikut membantu? Sebenarnya kita sudah merencanakan kalau kamu tidak perlu ikut. Si Vivi katanya tidak enak kalau kamu ikut repot, makanya dia mau berusaha sendiri.” Tanya Johan agak penasaran.
“Sudah, tenang saja Mas. Bagaimanapun, Vivi itu teman dekat saya, Mas tahu sendiri kalau saya hampir menganggap Vivi sebagai adik saya sendiri. Tentu saja saya harus ikut membantu.” Dalih Erny.
“Kamu tidak repot nantinya?” tanya Johan. Erny hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Syukurlah! Er, saya benar-benar senang punya istri yang pengertian seperti kamu!” puji Johan.
“Begini, kalau bisa, mungkin kamu bisa membantu Vivi untuk mempersiapkan dirinya. Kamu kan sudah pernah menikah, mungkin kamu bisa mengajari Vivi atau membantunya mempersiapkan diri.”
“Mas bagaimana? Mas tidak mau ikut mempersiapkan Vivi?” tanya Erny.
“Sebenarnya tadinya saya mau, tapi sepertinya tidak bisa. Kebetulan direktur cabang kami, Pak Anton sedang cuti. Saya harus menyelesaikan tugas-tugas sebelum beliau selesai cuti. Makanya untung kamu bisa mengerti.” jelas Johan.
“Lho? Mbak Sasha bagaimana? Bukannya dia bisa membantu?”
“Kebetulan Sasha juga ambil cuti. Saya belum tahu kapan mereka kembali, makanya, kamu bisa membantu kan?” tanya Johan penuh pengharapan.
“Beres, Mas. Saya akan membantu sebisa mungkin!” jawab Erny mantap.
“Bagus! Terima kasih ya, Er! Saya serahkan semua ke kamu!” jawab Johan dengan ceria.
Dalam hatinya, Erny jauh lebih ceria dari Johan; sekarang sebagian besar kendali berada ditangannya. Erny tertawa-tawa dalam hati melihat bagaimana gampangnya rencananya berjalan dan bagaimana semua situasi yang seolah mendukungnya. Johan pun segera berangkat ke kantor setelah sarapan pagi, tanpa menyadari rencana jahat istrinya terhadap Vivi. Sementara Erny tidak sabar lagi menunggu para ‘sukarelawan’ yang akan dikirim Marny. Beberapa jam kemudian, pintu rumah Erny diketok dengan keras. Erny segera beranjak keruang tamu untuk membukakan pintu pada tamu yang hendak berkunjung itu. Begitu pintu rumah dibuka, Erny terperangah sedikit melihat 3 orang lelaki berkulit gelap di depan beranda rumahnya. Salah satu lelaki itu tampak kekar dan beringas dengan rambut gondrong seperti preman. Lelaki yang kedua berpostur kurus dengan gigi tonggos dan sebuah tompel di pipinya. Lelaki yang terakhir berpostur gemuk dengan perut yang tambun. Ketiganya langsung mendelik melihat Erny yang membuka pintu.
“Kamu yang namanya Erny?!” tanya lelaki berpostur kekar dengan nada yang keras.
“I… iya!” jawab Erny tergagap melihat ketiga lelaki itu. Erny merasa agak takut melihat penampilan ketiga pria itu.
“Kami dengar dari Bu Marny kalau ada lowongan kerja, benar bu?!” tanya lelaki ketiga yang gemuk itu.
“Iya, benar.” Jawab Erny, ia sebenarnya ingin mempersilahkan ketiga pria ini untuk masuk ke dalam rumahnya, namun ia cemas karena bisa saja nanti malah dirinya yang dirampok atau diperkosa ketiga pria beringas ini.
Entah bagaimana, seolah bisa membaca pikiran Marny, lelaki kekar itu langsung angkat bicara.
“Kenapa kita tidak diizinkan masuk? Takut dirampok, Heh?!” sindirnya.
“Oh, iya, iya. Silahkan masuk, bapak-bapak!” ujar Erny penuh keterpaksaan.
Tentu saja ia tidak mungkin menolak ketiga pria itu dengan sindiran yang dilontarkan si kekar barusan. Tanpa dipersilahkan, ketiga pria itu langsung duduk di sofa ruang tamu rumah Erny. Erny tetap berusaha untuk menjaga kesabaran dan tampak kalem atas kekurangajaran pria-pria itu.
“Nah, jadi disini kita mau disuruh apa?” tanya lelaki kekar itu tidak sabaran.
“Iya, katanya ada kerjaan yang bagus nih!” imbuh lelaki yang gemuk.
“Begini bapak-bapak…”
“Namaku Iqbal, ini Aziz, dan yang gemuk itu Yono!” ujar pria kekar yang rupanya bernama Iqbal itu dengan keras memperkenalkan diri mereka. Erny langsung dapat mengenali ketiga orang itu dengan singkat lewat perkenalan itu karena perbedaan dan ciri khas ketiga orang itu. Si kekar bernama Iqbal, si tompel bernama Aziz dan si gendut bernama Yono.
“Lalu, kerjaan apa yang mau dilakukan?” tanya Aziz.
“Begini, bapak-bapak. Saya mau menyewa anda sekalian untuk memberi pelajaran pada seseorang.” Papar Erny.
“Oh begitu, siapa orangnya?! Mau diapakan? Dipukul atau dibunuh, heh?!” jawab Iqbal dengan nada bersemangat.
Erny tidak segera merespon reaksi Iqbal, ia hanya membuka sebuah album foto dan mengeluarkan selembar foto Vivi dari album itu dan melemparkannya kehadapan ketiga pria itu.
“Ini orangnya, target anda, namanya Vivianny, panggilannya Vivi.” Ujar Erny.
“Hah?! Cewek?” Iqbal terkejut begitu melihat foto Vivi.
“Wuiih, cakep juga nih cewek! Mukanya mirip artis.” gumam Aziz.
“Badannya juga oke, hehe… sayang kalau dibunuh nih, mendingan dientot aja, pasti enak, hehehe…” celetuk Yono.
“Ya, memang itu yang saya minta pada anda sekalian, Pak Yono.” Tutur Erny.
Seketika itu pula, raut wajah ketiga pria itu berubah dari bengis ke senyum yang memuakkan.
“Yang benar, bu?” tanya Yono setengah tidak percaya.
“Ya, untuk ini anda akan saya bayar 4 juta masing-masing.” Jawab Erny.
“Lumayan juga nih.” Gumam Iqbal.
“Wuiih, enaak, udah dapat cewek, dibayarin lagi.” celoteh Aziz
“Silahkan bapak-bapak perlakukan Vivi sesuka anda. Tapi, jangan sampai dia dibunuh. Saya mau dia tetap hidup supaya dia sengsara.”
“Weleh, weleh, kenapa begitu bu? Kalau dibunuh bukannya lebih gampang?” tanya Yono.
“Tidak! Si Vivi ini berniat merebut suami saya, lebih baik kalau dia diperkosa dulu, supaya dia tahu derajatnya! Nantinya dia bakal lebih gampang diatur dirumah ini!” jawab Erny.
“Ooh, gituu… Kalau begitu kapan kami beraksi Bu?” tanya Aziz.
“Bulan depan, rencananya suami saya dan Vivi bakal melangsungkan pernikahan mereka. Saya akan mengatur agar anda sekalian ikut ditugaskan dalam acara pernikahan ini supaya kita bisa lebih gampang menculik si Vivi.” Papar Erny serius.
“Lalu kamu sendiri?” tanya Iqbal dengan raut serius.
“Saya akan ikut menjemput si Vivi bersama anda agar ia tidak curiga.” Jawab Erny.
“Begitu semuanya selesai, uang anda akan saya bayarkan.” Lanjut Erny.
“Wuiih, sip banget! Aku ikut, Bu!” Jawab Aziz tanpa basa-basi.
“Aku juga mau.” Susul Yono.
“Oke, kalau begitu aku ikut juga!” imbuh Iqbal.
“Bagus, kalau begitu saya akan menghubungi anda sekalian untuk rencana selanjutnya. Mohon agar hal ini dirahasiakan dari siapa saja!” pinta Erny.
“Berees, bu! Tenang saja, kita bakal diam kayak patung!” ujar Yono.
“Hehe… pasti Bu! Yang penting saya dapat jatahnya Non Vivi.” Aziz menimpali.
“Ya sudah kalau begitu. Nanti anda akan akan saya kabari, untuk hari ini cukup sekian.” Tutup Erny.
Ketiga orang itu pun pergi keluar dengan raut wajah puas. Erny tidak bisa menyembunyikan kegirangannya lagi, ia pun tertawa puas melihat segalanya berjalan lancar seperti keinginannya. Sekarang ia hanya tinggal mengatur skenario saja agar ia terhindar dari tuduhan. Hari demi hari pun berlalu, Erny tetap menjaga sikap dan memainkan perannya sebagai seorang istri yang pasrah dan penurut; Sambil terus menghubungi Marny dan menyusun skenario dan rencana mereka sedetil mungkin. Johan yang terlalu fokus pada Vivi sama sekali tidak memperhatikan tingkah Erny apalagi Marny. Rencana kedua kakak-beradik itu pun semakin matang dan siap untuk dilaksanakan. Vivi, yang awalnya agak canggung dengan sikap Erny yang bersedia menerima kehadirannya, walaupun Vivi sudah berdusta padanya, akhirnya bersedia menerima “kebaikan” hati Erny untuk membantunya dalam melaksanakan pernikahan itu. Erny mempersiapkan hampir semuanya, mulai dari gaun pengantin Vivi, bridal studio dan resepsi acara itu. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Subuh jam 4 pagi, pintu rumah rumah Johan dan Erny diketuk. Johan membuka pintu dan ia tersenyum lebar saat melihat Vivi datang untuk persiapan pernikahannya.
“Wah, datangnya pagi sekali!” canda Johan.
“Iya. Katanya periasnya datang jam 5 pagi ya, Mas?” tanya Vivi.
“Kalau sudah tahu kok datangnya pagi banget? Nggak sabaran jadi pengantin nih?” kembali Johan menggoda Vivi.
“Soalnya saya mau memastikan kalau persiapannya sudah beres. Kata Kak Erny, semuanya sudah disiapkan ya, Mas?” tanya Vivi.
“Sudah, kamu tenang saja. Semuanya ada di kamar Erny kok. Ayo, ikut!” ujar Johan sambil menggandeng Vivi masuk menuju kamar Erny.
Sesampainya di kamar, Vivi takjub melihat persiapan yang disiapkan oleh Erny. Bagaimana tidak, sehelai gaun pengantin putih yang indah milik Vivi sudah tergantung dengan rapi dan semua aksesoris yang diperlukan telah tertata diatas ranjang Erny. Kosmetik-kosmetik mahal khusus untuk Vivi telah dibelikan oleh Erny dan tersusun diatas sebuah meja rias.
“Wah…” Vivi bergumam kagum melihat persiapan Erny itu.
“Bagaimana? Si Erny sampai lembur lho untuk mempersiapkan ini semua.” Ujar Johan.
“Bagus sekali… Oh iya, Kak Erny sekarang ada dimana, Mas?” tanya Vivi penasaran. Memang, dari tadi ia tidak melihat atau bertemu dengan Erny sejak pertama kali ia menginjakkan kakiknya dirumah itu.
“Wah, Erny kemarin malam tiba-tiba ada urusan keluarga yang mendadak, makanya dia tiba-tiba pulang ke rumah orangtuanya. Katanya dia tidak bisa hadir di acara hari ini”
“Eh? Kenapa saya tidak diberitahu?” tanya Vivi terkejut mendengar berita itu.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting kan kita berdua.”
“Bukan begitu! Saya juga mau Kak Erny ikut dalam acara hari ini. Kak Erny sudah banyak membantu saya dari kecil, jadi mana mungkin saya melupakan jasanya!”
“Aah, jangan dipikirkan, Vi! Yang penting semua persiapannya beres.” Ujar Johan
“Kok Mas Johan begitu sih? Bukannya Kak Erny itu juga istri Mas?” gerutu Vivi.
“Katanya kalau saya mau menerima lamaran Mas Johan, Kak Erny tidak akan diacuhkan?” ujar Vivi mengingatkan Johan akan janjinya saat melamar gadis itu. Memang Vivi bersikeras agar Johan tidak melupakan Erny apabila Vivi menjadi istrinya.Ya, pada awalnya memang Johan yang tergila-gila pada Vivi dan berulangkali mengutarakan cintanya pada Vivi. Vivi yang sebenarnya tahu diri dan tidak ingin mengkhianati sahabatnya, selalu menolak Johan; walaupun Vivi juga lebih memilih untuk tidak memberitahu Erny akan sikap suaminya itu untuk menjaga keutuhan rumah tangga Erny. Ironisnya, Vivi sama sekali tidak tahu kalau keputusannya untuk diam itu malah menimbulkan kesalahpahaman Erny. Namun, walaupun Vivi selalu berusaha mengelak, pertahanannya akhirnya terpaksa runtuh saat Johan mengancam akan menceraikan Erny untuk mengejar cinta Vivi apabila Vivi menolak menerima pinangannya. Dengan penuh keterpaksaan, Vivi pun menerima pinangan Johan demi menjaga kelangsungan rumah tangga Erny, dengan syarat bahwa Johan tidak akan meninggalkan Erny ataupun keluarga pertamanya.
“Ya sudah, kalau begitu nanti kita akan mengajak Erny pergi bareng waktu bulan madu, bagaimana?!” bujuk Johan.
“Yang benar, Mas?” wajah Vivi mulai tampak ceria kembali mendengar tawaran calon suaminya itu.
“Iya, iya. Saya janji. Nah, kamu jangan ngambek lagi ya?”
“Ya sudah deh kalau begitu. Nanti boleh kan kalau saya menelepon Kak Erny? Saya harus mengucapkan terima kasih!” tanya Vivi.
“Boleh! Vi, kenapa sih kamu itu segan banget dengan si Erny? Bukannya dia itu cuma kenalanmu saja?” tanya Johan penasaran sambil menggerutu.
“Bukan cuma kenalan Mas…” Ujar Vivi sambil tersenyum.
“Kak Erny itu sudah seperti kakak kandung saya sendiri. Saya masih ingat, waktu saya masih kecil dulu, Kak Erny sering merawat saya karena orangtua saya sering dikantor. Bisa dibilang kalau saya berhutang budi kepadanya. Lagipula, dia sering mengajari saya banyak hal dan menolong saya, makanya saya sangat menghormati Kak Erny.” Tutur Vivi menjelaskan perasaannya.
Johan menggumam sejenak, kalau memang demikian perasaan Vivi terhadap Erny, maka wajar saja apabila Vivi tidak pernah mau menerima pinangannya. Sebelumnya Johan hanya menganggap hubungan Erny dan Vivi hanya sebatas kenalan masa kecil semata. Ia tidak pernah tahu kalau Vivi punya perasaan sedalam itu pada Erny.
“Ooh, jadi itu alasan sebenarnya kenapa kamu menolak saya dari dulu?” tanya Johan sambil tersenyum.
“Hmm, bisa dibilang begitu sih…” gumam Vivi.
“Eh?” Vivi terkejut saat tiba-tiba Johan memeluknya dari belakang.
“Ya, ya, Vivi memang anak yang baik ya?” goda Johan sambil mengusap-usap kepala Vivi. Dibelainya pergelangan tangan Vivi yang tampak lebih putih, mulus dan wangi berkat lulur yang dipakaikan pada tubuh Vivi sebelum ia datang ke rumah Johan.
“Mas Johan, sabar dulu dong. Resepsinya kan belum mulai?” ujar Vivi dengan wajah memerah.
“Ya sudah deh, Sayang! Aku tunggu ya nanti?” tanya Johan. Vivi mengangguk kecil mengiyakan permintaan Johan itu.
“Eh, Kak Vivi? Kok sudah disini?” tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari belakang. Rupanya Joanna terbangun dari tidurnya. Johan pun segera melepas pelukannya pada Vivi.
“Hai, Joanna.” Sapa Vivi sambil tersenyum ramah.
“Joan, kok panggilnya begitu? Bukan “Kak Vivi” lagi, tapi “Mami Vivi” tahu!” tegur Johan.
“Oh, iya. Maaf ya Kak… eh! Mami Vivi!” ujar Joanna salah tingkah.
“Hihihi… tidak apa-apa kok, Joanna. Tidak usah buru-buru, panggil saja sesuka Joanna, ya?” ujar Vivi sambil tertawa kecil.
“I… iya… Mami mau menikah hari ini kan? Boleh nggak kalau Joan melihat Mami waktu pakai gaun?” tanya Joanna penasaran.
“Boleh dong. Nah, sekarang Joanna tidur dulu ya, kan masih pagi? Joanna harus istirahat yang cukup. Nanti Mami bangunkan kalau sudah selesai ya?” bujuk Vivi.
“Iya!” ujar Joanna sambil mengangguk senang. Vivi segera menuntun Joanna kembali menuju kamarnya.
Setelah berhasil menidurkan Joanna, Vivi pun kembali pergi ke kamar Erny.
“Joanna sudah tidur?” tanya Johan.
“Sudah.” Jawab Vivi ceria.
“Baguslah. Oh iya, kamu harus mulai siap-siap, sebentar lagi penata riasnya datang.” ujar Johan sambil berlalu keluar dari kamar Erny untuk mempersiapkan diri.
“Nanti Mas Johan langsung berangkat ke tempat upacara ya?” tanya Vivi.
“Iya, kalau sudah selesai, nanti kamu langsung naik saja ke mobil pengantin. Supirnya sudah tahu tempatnya.” Jawab Johan.
“Sampai ketemu nanti ya, Sayang? Saya tunggu di altar.” lanjut Johan sambil melambaikan tangannya pada Vivi yang dibalas dengan senyuman Vivi.
“Huff…” Vivi menghela nafas sejenak saat Johan menutup pintu kamar itu. Vivi langsung merebahkan dirinya sejenak diatas ranjang Erny.
Sejenak Vivi tampak terhanyut dengan pikirannya, bagaimanapun setelah ini, ia akan tinggal serumah dengan Erny. Vivi nyaris tidak percaya kalau ia sebentar lagi akan menikah dengan Johan, hari-hari itu serasa berlalu begitu cepat. Sikap Erny yang menerimanya dengan lapang sedikit memberatkan hati Vivi; apapun alasannya Vivi masih merasa telah mengkhianati Erny dengan menerima lamaran Johan walaupun sebenarnya itu juga demi kebaikan Erny. Apakah memang pilihannya ini adalah yang terbaik? Itulah pikiran yang terngiang sejenak didalam benak Vivi. Vivi menoleh kesamping, dilihatnya gaun putih yang indah yang sebentar lagi akan dikenakannya menuju pelaminan. Vivi bangkit dari ranjang itu dan berjalan menuju gaun itu, ia tersenyum sejenak saat mengamati gaun itu. Erny telah memilihkan gaun yang amat sesuai baginya. Gaun pengantin putih berbahan satin itu tampak anggun dengan model off-shoulder yang akan menampakkan keindahan bahu Vivi. Atasan gaun Vivi tampak sederhana dengan dan dengan taburan kristal-kristal imitasi kecil yang membentuk lekuk garis-garis yang cantik yang seolah terlukis dengan indah diatas kanvas berupa gaun pengantin satin itu. Sementara bordir-bordir halus dengan sulaman renda yang indah tampak menghiasi bagian pinggang dan ujung rok gaun itu, sebuah pita putih besar menutupi zipper dibagian punggung gaun pengantin Vivi. Vivi mengambil gantungan gaun itu dan menempelkan gaun itu di tubuhnya. Dilihatnya cermin meja rias dimana pantulan bayangannya terpampang dicermin itu. Vivi memutarkan tubuhnya sejenak untuk melihat apakah gaun itu pas di tubuhnya, dan tampak jelas kalau gaun itu benar-benar sesuai untuknya. Vivi membayangkan kehidupan barunya yang akan dimulai dirumah itu. Walaupun agak canggung, dilain pihak, Vivi merasa amat senang dan bahagia karena ia akan tinggal bersama Erny, ia berharap bahwa dirinya dapat membantu Erny sebisa mungkin dan itulah salah satu sebab mengapa ia mau menerima pinangan Johan selain dari ancaman Johan itu. Bagaimana nanti ia akan tinggal bersama Johan dan Erny dengan status yang sama seperti Erny. Bagaimana dirinya dan Erny akan saling bahu-membahu dalam kegiatan rumah tangga mereka, mulai dari merawat anak, memasak ataupun melayani Johan. Perlahan perasaan galau yang sempat menyelimuti hati Vivi lenyap.
TOK… TOK… tiba-tiba pintu kamar Vivi diketuk. Vivi segera beranjak membuka pintu dan dilihatnya 2 orang wanita muda yang membawa seperangkat alat rias. Dengan ceria, Vivi mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam kamar Erny. Selama sekitar 1 jam, Vivi dirias oleh kedua penata riasnya itu. Setelah selesai, Vivi tampak kagum dengan penampilannya sebagai seorang pengantin wanita. Vivi mengenakan gaun pengantinnya yang dilengkapi dengan aksesoris-aksesoris tambahan seperti sebuah petticoat untuk menyangga rok gaun Vivi, sebuah mahkota keemasan yang menghiasi kepala Vivi dan sepasang sarung tangan putih sutra yang menyelimuti jari-jari Vivi hingga ke lengan. Rambut hitam panjang Vivi disanggul dan sebuah slayer putih bermotif bunga-bunga diselipkan pada sanggul rambut Vivi. Wajah Vivi yang dirias tampak amat mempesona. Alis mata Vivi ditebalkan sementara bulu matanya dilentikkan. Dengan sapuan ringan eye-shadow yang tampak berkilau, mata Vivi tampak berseri. Riasan bedak yang tipis dan olesan lipstik merah muda kian menekankan kecantikan alami Vivi. TOK… TOK… kembali pintu kamar itu diketuk.
“Mamii, ada om gendut yang naik mobil. Katanya mau jemput mami!” terdengar seruan Joanna dari balik pintu. “Oh, itu pasti mobil pengantinnya!” pikir Vivi.
“Iya, Joanna! Sebentar ya!” jawab Vivi sambil merapikan penampilannya terakhir kali sebelum berangkat. Setelah memastikan semuanya telah beres, Vivi segera beranjak keluar dari kamarnya; Vivi berpapasan dengan Joanna yang menunggunya. Joanna pun tampak terpana dengan penampilan Vivi.
“Waah, Mami cantik sekali!” puji Joanna.
“Terima kasih, Joanna.”balas Vivi sambil tersenyum. Vivi membungkuk sejenak, mengangkat slayer yang menutupi wajahnya dan melayangkan ciuman sayang pada pipi Joanna.
“Nanti kita ngobrol lagi ya? Sekarang Mami pergi dulu, sudah dijemput nih!” ujar Vivi. Joanna mengangguk senang mengiyakan. Vivi segera berlalu menuju mobil pengantinnya. Kali ini, ia bertemu dengan supir mobil itu yang tak lain adalah Yono.
“Wah, Neng Vivi ya? Cantik sekali, hehehe…” puji Yono sambil tertawa cengengesan.
“Terima kasih, Pak.” Jawab Vivi. Sebenarnya Vivi merasa agak jijik dan resah melihat Yono, apalagi dengan raut wajah dan sorot mata Yono yang tampak seolah hendak menelanjangi tubuh Vivi, namun Vivi tetap berusaha ramah sebisa mungkin dan menghilangkan firasat buruknya.
“Ayo, ayo Neng, silakan masuk!” Yono segera membuka pintu mobil itu dan mempersilahkan Vivi untuk masuk. Vivi mengangkat rok gaunnya dengan dibantu oleh kedua periasnya. Pintu mobil itu pun ditutup oleh Yono dan melaju membawa Vivi bersamanya.
“Neng Vivi, umurnya sekarang berapa?” tanya Yono sambil mengemudikan mobilnya.
“23, Pak…” jawab Vivi.
“Wuiih, masih muda tuh neng! Ngapain buru-buru nikah? Mendingan cari jodoh lain saja dulu, pasti banyak cowok yang mau!” ujar Yono.
“Oh ya?”
“Iya laah, saya mau kok, kalau punya istri secantik Neng Vivi, hehehe…” ujar Yono.
Vivi merasa agak risih mendengar perkataan itu, sekali lagi Vivi berusaha menghilangkan rasa tidak senangnya pada Yono dengan tersenyum kecil. Ia berusaha menganggap bahwa Yono hanya bercanda semata. Vivi pun berusaha mengalihkan perhatiannya dengan melihat pemandangan diluar dan tidak begitu menghiraukan perkataan Yono. Pemandangan jalan perumahan itu segera berganti menjadi pemandangan jalan tol, sebelum akhirnya memasuki jalan-jalan kecil dalam sebuah kompleks. Sinar matahari masih belum begitu terasa karena saat itu waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi.
CKIIIIT…. Tiba-tiba mobil pengantin itu direm mendadak.
“Aduh!” jerit Vivi saat tubuhnya terpental menghantam kursi pengemudi.
“Ada apa sih, Pak?” tanya Vivi sambil beranjak bangkit kembali ke kursi penumpang.
“Itu, neng… ada mobil di depan…” ujar Yono. Vivi menoleh keluar dan memang terdapat sebuah mobil minibus yang berhenti tepat didepan mereka.
“Kenapa tuh, Pak? Coba diklakson saja.” Saran Vivi. Namun belum sempat Yono menekan klaksonnya, sesosok wanita turun dari mobil itu. Vivi terkejut saat menyadari kalau wanita itu tak lain adalah Erny. Erny tampak tergopoh-gopoh menghampiri mobil pengantin Vivi dan mengetuk kaca mobil Vivi. Vivi segera menurunkan kaca mobilnya itu.
“Kak Erny? Ada apa? Bukannya Kakak kembali ke Bandung kemarin?” tanya Vivi terkejut.
“Vi, tolong kakak! Kakak sekarang sedang ada masalah!” ujar Erny dengan nada panik.
“Kenapa Kak? Apa yang bisa Vivi bantu?” tanya Vivi dengan penuh kecemasan.
“Tadi Joanna ditinggalkan dirumah sendirian ya?” tanya Erny. Vivi mengangguk, Joanna memang ditinggalkan karena nanti akan dijemput oleh keluarga Johan pada saat resepsi.
“Begini, Vi! Tadi subuh kakak ditelepon oleh seseorang yang mengancam mau menculik Joanna! Dia tahu kapan Joanna sendirian dirumah!”
“Hah?! Kenapa bisa begitu kak?!”
“Dia pegawai sewaan kakak untuk acara ini! Sepertinya dia sengaja melamar untuk menculik Joanna!” terang Erny. Sontak Vivi pun ikut panik setelah mendengar penjelasan Erny, Ia juga merasa bertanggung jawab karena telah meninggalkan Joanna sendirian di rumah.
“Jadi, jadi bagaimana Kak?! Apa yang bisa Vivi bantu?” tanya Vivi dengan panik.
“Vi, kamu boleh ikut dengan kakak? Kita langsung saja kembali bareng!” tanya Erny.
“Boleh kak! Vivi ikut dengan kakak!” Vivi langsung beranjak keluar dari mobilnya tanpa pikir panjang lagi karena kepanikan yang melanda pikirannya. Vivi berjalan terburu-buru menuju minibus itu, agak sulit memang, karena sepatu hak tinggi yang dikenakannya; namun Vivi tetap berusaha untuk berjalan secepat mungkin dan ia segera masuk kedalam minibus itu.
“Ayo, Pak! Bapak ikut sekalian, supaya bapak bisa menjaga kami!” pinta Erny pada Yono.
Yono juga segera keluar dari mobilnya dan menyusul Vivi kedalam minibus Erny.
Pintu mobil minibus itu ditutup dan mobil itu segera melaju, meninggalkan mobil pengantin Vivi yang diparkir ditepi jalanan tanpa seorangpun didalamnya. Vivi duduk di kursi belakang minibus itu dengan diapit oleh Erny dikanan dan Yono dikiri. Perasaan cemas menghantui pikiran Vivi, namun ada hal lain yang juga semakin membuatnya risih, yaitu Yono yang duduk disampingnya. Vivi menyadari kalau Yono sesekali memegang rok gaun pengantin Vivi dan memainkannya dengan jari tangannya yang gemuk dan hitam itu. Yono juga kepergok beberapa kali mendekatkan wajahnya didekat Vivi dan menghirup nafas sedalam mungkin, seolah meresapi wangi tubuh Vivi itu. Vivi berusaha menjauhkan diri, namun agak susah baginya karena rok gaun pengantinnya sudah cukup banyak memakan tempat akibat petticoat yang ia kenakan.
“Maaf ya, Vi. Acaramu jadi kacau begini…” tiba-tiba terdengar suara Erny yang meminta maaf pada Vivi.
“Tidak apa-apa, Kak! Yang penting Joanna selamat, semoga kita belum terlambat…” jawab Vivi.
“Aah… coba kemarin Kakak membawa Joanna bareng ke Bandung…” ujar Erny.
“Tenang Kak, saya yakin Joanna akan selamat. Yang penting sekarang kita harus tepat waktu.” ujar Vivi sambil berusaha menghibur Erny.
“Makasih ya, Vi…” jawab Erny,
Vivi mengangguk sambil tersenyum kecil untuk menenangkan Erny. Dalam hatinya, Vivi berharap agar mereka dapat sampai tepat waktu. Minibus itu pun terus dipacu dengan kecepatan tinggi melewati jalan tol. Seiring berjalannya waktu, Vivi mulai merasa agak curiga. Seingatnya, Erny tidak punya minibus, dan yang jelas minibus yang ditumpanginya tidak kelihatan seperti mobil sewaan karena tidak ada lambang perusahaan penyewaan. Lagipula, arah mobil itu seperti berputar-putar kearah yang berlawanan dari rumah Erny.
“Kak Erny, mobil ini mobilnya siapa? Vivi belum pernah melihat mobil ini sebelumnya.” Tanya Vivi.
“Oh… ini mobil keluarga di Bandung…” tutur Erny.
“Tapi kenapa pelatnya bukan pelat Bandung? Pelat mobil ini kan B, bukan D” Vivi kembali bertanya keheranan.
“Oh… itu… mobil dinas… ya! Mobil dinas keluarga kakak, soalnya dia sering ke Jakarta!” jelas Erny. Vivi mengrenyitkan dahinya sejenak, nada suara Erny seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Vivi yang sudah lama mengenal Erny tentu saja heran dengan tingkah dan kelakuan Erny tersebut.
“Pak supir, kenapa jalannya lewat tol ini, bukannya lebih cepat kalau kita ambil tol di depan?” tanya Vivi saat minibus itu kembali melenceng dari arah yang seharusnya, namun pengemudi minibus itu tidak menjawab dan merespon pertanyaan Vivi. Erny semakin khawatir dan tampak cemas
“Eh, Vi! Itu bukannya mobil Mas Johan?!” tiba-tiba Erny berseru memecah keheningan.
“Eh?! Mas Johan?” Vivi langsung mendekatkan diri ke kaca jendela minibus itu. diamatinya sejenak keadaan dijalan, namun ia tidak melihat adanya mobil milik Johan. Vivi tidak menyadari kalau Erny mengeluarkan sehelai saputangan dari dalam tasnya.
“Hmmp?” Vivi sontak terkejut saat tangan Erny membekap hidung dan mulut Vivi dengan saputangan itu.
“MMFF!! MMM!!” Vivi berusaha berontak, namun Yono dengan sigap mencengkeram kedua tangan Vivi sehingga gerakan Vivi teredam.
“Bagus, No! Tahan terus! Jangan lepaskan dia!!” perintah Erny sambil terus menekankan saputangan itu kehidung Vivi.
Perlahan-lahan, tubuh Vivi terasa lemas dan pandangannya terasa gelap. Vivi pun akhirnya berhasil terbius oleh obat bius yang dilumurkan Erny ke sapu tangan itu. Setelah memastikan kalau Vivi telah tertidur, Erny melepaskan sapu tangan itu dari wajah Vivi. Vivi pun segera jatuh rebah kedalam pelukan Yono. Yono tampak ceria saat tubuh tambunnya ditimpa oleh tubuh lembut Vivi, Ia segera memeluk Vivi yang telah tertidur itu dan meremas-remas pantat Vivi yang montok.
“Hampir saja! Iqbal, kita langsung ke tempat Aziz.” Perintah Erny. Supir minibus itu segera mengubah haluan dan berangkat menuju tempat yang disebut oleh Erny.
“Wuiih, udah cakep, lembut pula nih cewek! Enaak, dapat penganten baru.” puji Yono
“Oi, No! Jangan buru-buru kau! Aku masih belum dapat jatah cewek itu!” bentak supir minibus itu yang tak lain adalah Iqbal.
“Aah, tenang aja Bal! Aku cuma peluk-peluk saja kok! Nanti dia kita bagi rame-rame! Hmm… Wangii” jawab Yono sambil mencium aroma wangi tubuh Vivi.
“Awas kau kalau main duluan!” ancam Iqbal sambil kian memacu kencang mobilnya sementara Vivi terus tidak sadarkan diri karena terbius sepanjang perjalanan itu dan tubuhnya terus digerayangi Yono yang mencubit-cubit gemas kulit Vivi yang putih mulus. Erny sendiri sibuk mengelap keringatnya yang mengucur deras akibat ketakutan bahwa rencananya nyaris saja gagal. Saat tersadar, kepala Vivi terasa melayang-layang dan pusing sementara tubuhnya terasa lemas tanpa tenaga. Vivi berusaha bergerak, namun kedua tangannya tidak merespon sama sekali. Tangannya serasa terikat menempel jadi satu dan hanya bisa bergerak naik turun, namun kakinya masih bisa bergerak bebas. Vivi berusaha menghentakkan kakinya, ia bisa merasakan kakinya menyentuh lantai. Berarti ia dalam posisi berdiri, namun dimanakah ia sekarang?
Vivi membuka matanya perlahan, segalanya tampak kabur seperti ada embun yang menutupi permukaan matanya, namun Vivi bisa mencium bau cat dan karton yang apek disekitar tempatnya sekarang.
“Oi, si penganten kita udah bangun tuh!” sayup-sayup terdengar suara pria di telinga Vivi. Siapa? Pikir Vivi, namun ia tidak bisa melihat jelas pemandangan sekitarnya. Ia hanya bisa melihat bayangan 4 orang yang bergerak mendekatinya.
“Hehehe… bangun juga akhirnya. Udah nggak sabar aku, moga-moga dia masih perawan!” terdengar suara laki-laki lainnya yang bergema diruangan itu. Mendengar ucapan “semoga masih perawan” itu, Vivi sontak terkejut dan tubuhnya langsung diselimuti ketakutan yang mencekam. Ucapan itu hanya berarti satu hal: yaitu ia akan segera diperkosa oleh para lelaki ini!
“Siapa di sana?! Jangan mendekat!!” Vivi berteriak dengan panik, namun bayangan keempat orang itu kian mendekat, seolah mengacuhkan dirinya.
Karena merasa keselamatan dan kehormatannya kian terancam, Vivi semakin panik dan ketakutan. Kakinya segera diayunkannya dengan keras kearah bayangan orang-orang itu dengan harapan agar tendangannya itu dapat menakuti mereka. Namun usahanya sia-sia saja, selain tubuhnya yang terasa lemas, petticoat dan rok gaun Vivi kian mengurangi kekuatan tendangan Vivi. Wajar saja kalau tendangannya meleset semua. Dengan usaha keras, Vivi kembali mengayunkan tendangannya, namun kali ini malah kakinya berhasil ditangkap oleh salah satu orang-orang itu. Habislah sudah pertahanan Vivi, kini dirinya sudah mati kutu dikelilingi oleh 4 orang itu.
“Wuiih, galak juga nih cewek! Seraam… hahaha…” ejek salah satu orang-orang itu.
“Nendang angin aja luh!” ejek suara lelaki yang lain.
“Tolong… saya mohon… jangan sakiti saya!” pinta Vivi dengan putus asa.
“Lhoo… siapa bilang mau disakitin, Neng? Kita mau bikin Neng Vivi keenakan kok!” tiba-tiba terdengar suara dari belakang Vivi.
“Hegh!” Vivi terhenyak sejenak saat lehernya dicengkeram dari belakang. Sejenak terasa hembusan nafas yang memburu menyentuh permukaan kulit Vivi.
“Ah!” Vivi terkejut saat merasakan sesuatu yang lunak dan licin menyapu jenjang lehernya dari belakang dan mengoleskan cairan yang lengket dan kental ke permukaan kulit leher Vivi. Vivi akhirnya menyadari kalau saat ini ada seseorang yang menjilati lehernya itu.
“Enaak, makin nggak sabar aku! Tenang saja neng, nanti pasti neng ketagihan kok main bareng-bareng kita!” goda lelaki yang menjilati leher Vivi itu.
“Tidak… Saya tidak mau!!! TOL…”
PLAAK! Belum sempat Vivi berteriak, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat telak di pipinya yang mulus, tak pelak, pipi yang putih mulus itu kini tampak merah merona akibat tamparan yang keras itu.
“Siapa yang suruh kamu teriak, heh?! Dasar pelacur!” tiba-tiba terdengar suara perempuan diruangan itu. Vivi tersentak, ia merasa sangat mengenali suara itu.
“Kak… Erny…?” ujar Vivi setengah tidak percaya, suara itu sekilas mirip dengan suara Erny, namun apa mungkin sosok Erny yang ia hormati dan kagumi itu rela berbuat seperti ini?
“Buta apa? Dasar wanita penggoda!” jawab suara perempuan itu.
“Waduh…waduh… tenang bu. Kayaknya Neng Vivi nggak bisa melihat kita dengan jelas, dia kan baru bangun?” ujar seorang lelaki menenangkan perempuan itu.
“Pantas aja nendangnya nggak kuat. Setengah buta ya?” gumam lelaki yang lain.
“Hmph!” gerutu perempuan itu sejenak, ia lalu berbalik arah dan mengambil sesuatu sebelum kembali mendekati Vivi dengan sesuatu ditangannya. BYUUR!
“Aah!” Vivi menjerit saat wajahnya disiram dengan air yang dingin. Perempuan itu langsung maju dan mengucek kedua kelopak mata Vivi dengan kasar.
“Nih! Bisa lihat belum kamu haah?! Bisa lihat belum?!” ujar perempuan itu penuh kegeraman.
“Jangan! Jangan! Aduh! Sakiit… Saya mohon! Hentikan!!” Vivi menjerit-jerit kesakitan karena gosokan kasar perempuan itu di kedua belah matanya.
“Udah… udah Bu! Jangan terlalu keras, nanti bisa buta Neng Vivinya!” kembali terdengar suara lelaki yang menenangkan kemarahan perempuan itu.
Perempuan itu pun menghentikan kucekannya, sementara wajah Vivi dilap pelan dengan sebuah kain yang berbau apek. Setelah wajahnya kering, Vivi kembali membuka matanya, kini pemandangan yang dilihatnya cukup jelas. Ia bisa melihat lantai semen dan rok gaunnya yang membentang beserta kedua pergelangan tangannya yang diikat menjadi satu dengan seutas tali tambang yang tampak terjulur ke atas.
Perlahan-lahan, Vivi mendongakkan kepalanya untuk melihat wujud asli keempat bayangan itu sekaligus memastikan dugaannya. Vivi benar-benar terkejut dan amat shock saat melihat Erny berdiri dihadapannya bersama 3 orang lelaki yang buruk rupa. Vivi mengenal 2 orang diantaranya, yaitu si supir mobil pengantin yang gemuk yang sekarang berada dibelakang tubuhnya dan si supir minibus beserta seorang pria lagi berada disamping Erny, yang sedang menahan kakinya namun pria ketiga yang kurus dan bertompel itu sama sekali belum pernah dilihat Vivi.
“Kak Erny? Apa ini?! Kenapa Vivi dibeginikan?” tanya Vivi setengah tidak percaya, setengah ketakutan.
“Pakai tanya lagi! Ini hukuman buat kamu, dasar pelacur!” umpat Erny.
“Apa salah Vivi kak?! Kenapa Kak Erny jadi begini?!” Vivi semakin tidak percaya dengan sikap Erny itu. Betapa tidak, Erny yang sehari-harinya begitu baik padanya, kini berubah total seperti orang lain.
“Dasar kucing garong!! Enak saja merebut suami orang! Pura-pura tidak bersalah lagi!” umpat Erny.
“Saya nggak menyangka kalau kamu bisa setega itu! Saya merawat kamu dari kecil dan ini balasannya? Hah?! Dasar wanita penggoda!!” bentak Erny penuh emosi.
Hati Vivi seketika terasa sakit tersayat-sayat saat mendengar kata-kata Erny itu. Bukan niat hatinya untuk merebut suami Erny, namun itu lebih karena pengaruh dorongan Johan yang tergila-gila padanya. Niat baiknya yang merahasiakan pendekatan-pendekatan Johan pada dirinya malah kini menjadi bumerang yang berbalik mengancam keselamatan dirinya.
“Bukan kak… itu… itu…” Vivi berusaha menjelaskan keadaannya pada Erny, namun itu malah memancing emosi Erny. Erny beranjak mendekati wajah Vivi dan PLAAK… kembali ditamparnya pipi mulus Vivi sekali lagi.
“Diam kamu! Jangan banyak alasan!! Saya bunuh kamu kalau macam-macam!!” ancam Erny.
Vivi sadar, Erny yang sekarang bukanlah Erny yang biasanya ia kenal dan ia hormati, Erny yang ada di depannya saat ini adalah seorang wanita yang terbakar dan dibutakan oleh dendam. Vivi tidak mungkin dapat mengutarakan apapun bagi Erny dalam keadaan emosi seperti ini. Tanpa bisa dicegah lagi, Vivi menitikkan air mata saat merasakan rasa pilu karena perubahan sikap sahabatnya itu.
“Maaf… Kak… Vivi minta maaf… Tolong maafin Vivi Kak…” Vivi mengiba dihadapan Erny, Vivi berharap masih ada rasa belas kasihan dari Erny. Bagaimanapun Vivi masih bisa mengerti apabila Erny marah dan hal itu tidak lebih dari kesalahpahaman semata.
“Aah, sudah! Jangan banyak bacot kau! Sekarang nurut saja atau kami main kasar!” tiba-tiba Iqbal membentak Vivi.
“Kak, Vivi mohon…”
Mendengar Vivi yang tidak menggubris ancamannya, Iqbal langsung naik pitam, ia berjalan ke arah Yono dan mendorong pria gemuk itu menjauh dari tubuh Vivi.
“AAH!” Vivi menjerit kesakitan saat sanggul rambutnya dijambak dengan kasar oleh Iqbal.
“Heh? Kau dengar tidak?! Aku suruh kau jangan banyak bacot! Mau kusuruh preman-preman lain kesini biar kau dientot lebih lama, Heh?!” bentak Iqbal ditelinga Vivi.
“A… ampun Pak… Aduh…ampun…” Vivi kembali mengaduh karena cengkeraman tangan Iqbal di rambutnya.
“Sudah! Pakai saja dia sesuka kalian!! Ajarkan dia supaya tahu diri!!” perintah Erny yang langsung ditanggapi dengan seringai ketiga pria itu. Vivi amat shock dengan sikap Erny itu. Ia masih tidak bisa mempercayai kalau wanita yang dianggapnya seperti kakaknya sendiri itu tega berbuat sekeji ini.
“Jangan Kak! Ampun! Tolong saya, jangan perkosa saya!!” Vivi menjerit-jerit ketakutan, namun sia-sia saja. Ketiga pria itu sudah keburu berada dihadapannya, sementara Erny sama sekali tidak menghiraukan jeritan dan isak tangis Vivi, ia malah duduk disebuah kursi dihadapan Vivi untuk “menonton” pelajaran yang akan diberikan ketiga pria itu bagi Vivi.
“No, tarik talinya!” Iqbal memberi perintah kepada Yono. Yono dengan cengengesan segera memutar sebuah gagang besi yang menarik tali tambang yang mengikat tangan Vivi. Otomatis, kedua tangan Vivi tertarik keatas dan tubuh Vivi ikut melayang tergantung oleh tali tambang itu. Aziz tetap menahan kaki Vivi yang tadi ditangkapnya itu.
“Aduuh! Sakit…” Vivi meringis menahan perih ditangannya karena tubuhnya tergantung dengan bertumpu pada kedua tangannya yang terikat erat pada tambang itu.
Vivi sempat mendongak keatas dan dilihatnya tali yang mengikat tangannya terpasang pada sebuah katrol besi yang ada di langit-langit ruangan itu. Ruangan itu tampak seperti sebuah gudang yang sudah lama ditinggalkan, banyak kardus karton berserakan dan beberapa kaleng cat disekitar gudang itu, apalagi dengan adanya katrol yang kini mengangkat tubuh Vivi, sudah jelas bahwa ruangan itu adalah sebuah gudang peralatan, namun Vivi sama sekali tidak tahu dimana lokasi gudang itu karena ia dibius saat dibawa ke gudang itu.
“Wah, kakinya muluus…” Vivi tersentak saat mendengar celotehan Aziz yang sedang mengagumi kakinya. Aziz mengelus sambil mengendusi betis kaki Vivi yang masih dibalut stocking putih itu. Vivi merasa jijik dengan tingkah laku Aziz itu, namun apa dayanya? Ia tidak bisa berontak sama sekali dengan keadaan tergantung seperti ini. Aziz lalu melepaskan sepatu hak tinggi putih yang masih terpasang di kaki Vivi. Dengan rakusnya, ia segera mengemut jempol kaki Vivi.
“Ah! Jangan Pak!” Vivi menjerit, namun sia-sia saja. Jempol kakinya sudah keburu berada didalam mulut Aziz. Aziz mengenyot jempol kaki Vivi dengan perlahan sambil menjilat-jilati dan mengisap tiap jari kaki Vivi, sehingga Vivi menggelinjang pelan akibat rasa geli yang melanda kaki kanannya itu. Apalagi saat Aziz sedikit menggigiti ujung-ujung jari kakinya.
“EH?!” Vivi kembali tersentak saat kedua belah payudaranya dicengkeram dari belakang oleh sepasang telapak tangan yang hitam dan gemuk. Vivi merasakan hembusan nafas yang tidak asing lagi; Vivi menoleh kebelakang dan dilihatnya Yono sedang terkekeh-kekeh.
“Ah?!” Vivi menjerit kecil saat tangan Yono meremas payudaranya.
“Hehehe… Nah, mau bagaimana nih sekarang?” gumam Yono sambil mendekatkan tubuhnya menempeli tubuh Vivi dari belakang.
“Hentikan Pak… Jangan… AW!” Vivi mengaduh kesakitan saat Yono mencubit payudaranya yang kenyal itu.
“Bego kau, No! Kalau begitu mana bisa dia keenakan?! Biar kuajarin kau!” umpat Iqbal.
Tanpa basa-basi, Iqbal langsung mengeluarkan sebilah pisau dan menebas strap bahu gaun pengantin Vivi hingga putus. Dengan gampangnya, Iqbal melorotkan bagian dada gaun pengantin Vivi, sehingga tampaklah sebuah bra berenda berwarna putih susu yang menutupi payudara Vivi. Iqbal dan Yono mengamati dada Vivi sejenak, ukurannya memang tidak terlalu besar, namun tampak sesuai dengan bentuk tubuh Vivi. Belahan dada Vivi tampak menggemaskan dan menggoda.
“Nah, diam kau! Atau kutebas kau dengan pisau ini!” ancam Iqbal. Vivi hanya bisa menjawab dengan rintihan-rintihan menahan rasa geli di kakinya akibat jilatan Aziz. Vivi tak bisa berbuat banyak karena ia tahu Iqbal adalah tipe orang yang serius dan kejam. Ia hanya bisa pasrah sesunggukan saat pisau Aziz merobek bagian tengah bra putihnya, sehingga kedua belah payudara yang putih mulus dengan puting susu yang merah muda begitu menggoda itu kini tergantung, tersaji dihadapan Aziz dan Yono.
“Nah, begini caranya!” ujar Iqbal sambil mencengkeram dada kanan Vivi dengan telapak tangannya yang berotot.
“Ah…” Vivi mendesah pelan saat Iqbal mengelus pelan payudaranya yang mulus itu, tangan Iqbal dengan pelan meraba permukaan kulit payudaranya. Bulu kuduk Vivi langsung berdiri akibat rabaan permukaan tangan Iqbal yang kasar. Iqbal sesekali menyentil puting susu Vivi dengan kukunya yang panjang, akibatnya Vivi langsung bergidik kegelian. Sesekali terdengar desahan yang tertahan dari bibir Vivi yang mengiringi isak tangisnya.
“Aakh…” Vivi langsung melenguh saat Aziz meremas dan menekan payudaranya itu. Rasanya seperti dipijat, jauh berbeda dengan remasan Yono barusan. Mungkin hal itu karena tangan Iqbal yang kekar jauh lebih bertenaga dibandingkan tangan Yono. Iqbal terus mempermainkan payudara Vivi dengan berbagai cara. Sesekali dicubitnya puting susu Vivi ataupun ditekannya keras hingga puting susu Vivi tertekan masuk seiring dengan pijatan dan remasannya di payudara Vivi.
Diperlakukan sedemikian rupa, gairah seksual Vivi mulai bangkit secara otomatis. Walaupun ia sedang terisak menangisi nasibnya, hal itu tidak mempengaruhi rasa geli dan sedikit nikmat yang mulai menjalari tubuhnya. Dadanya serasa diairi listrik yang menyengatnya dengan rasa nikmat saat Iqbal mencubiti atau menekan putingnya. Yono yang dari tadi hanya menonton, mulai tidak sabar. Katrol itu kembali diputarnya sedikit.
“Aww! Sakiit…” Vivi kembali meringis kesakitan saat tubuhnya dikatrol keatas sehingga melayang sedikit lebih tinggi.
Yono berjalan ke arah Vivi, ia lalu berdiri di hadapan dada Vivi, memang setelah tubuhnya dikatrol, kini dada Vivi tepat berada dihadapan wajah Yono. Yono bisa melihat payudara kanan Vivi yang memerah akibat pijatan Iqbal, matanya kini tertuju pada payudara kiri Vivi yang masih putih mulus.
HAPP... Tanpa banyak dikomando, Yono segera melahap payudara Vivi itu. Bibirnya melingkari puting payudara Vivi dan payudara itu dikenyotnya dengan pelan, seolah bayi yang menyusu pada ibunya saja.
To be continued…
By: Bridesexstory Team
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di kisahbb.wordpress.com
Bersambung. Available tools: changed.
Pacarku, Amel, Rudi, dan 3 Anak SMP
June 13th, 2010
Amel
Amel yang mengetahui pacarnya sedang menonton adegan mesumnya langsung menundukkan wajahnya karena malu. Sedangkan Rudi, penjaga kontrakan Nonix, masih asik menyetubuhi Amel, pacarku, dan setiap hentakan penis Rudi yang menusuk vagina Amel membuat buah dadanya yang kenyal dan mancung bergelantungan karena dalam posisi dogy style maka buah dadanya yang masih ranum itu ikut terpental-pental dan membuat tangan kiri Amel harus menahnnya sedangkan tangan kanannya sebagai penopang tubuhnya. Namun tidak butuh waktu yang lama,kini tangan besar dan hitam milik Rudi mulai menguasai tubuh Amel dan tidak terkecuali buah dadanya. Kedua tangan Rudi kembali meremas remas bahkan lebih keras dari sebelumnya membuat Amel sedikit kesakitan dan menjerit.
“Nah sayang, sekarang rasakan sensasinya ngentot sambil diliat pacar non Amel.” kata Rudi sambil terus menggenjot dan mendongakan kepala Amel dan memperlihatkannya padaku, “nih den Bili, cewe aden keenakan dientot kontol saya.kalau gak percaya tanya ajah ma orangnya…ya kan non? enak gak ngentot ma aku??” tanyanya sambil tangan kirinya menjambak rambut Amel sehingga kepalanya mendongak ke atas dan memperlihatkan wajah cantiknya yang sudah berpeluh keringat
Mata Amel yang semula terpejam dan menggigit bibirnya menikmati sentuhan penis besar milik Rudi di vaginanya. Perlahan mulai membuka matanya
“Iii…iya yank, aenak banget dientotin dia, memek Amel penuh ma kontolnya yank!” erang Amel.
Kini Rudi menghentikan kocokannya di vagina Amel,dan entah sadar atau tidak malah Amel yang mencoba memaju mundurkan pantatnya. Beberapa menit kejadian tersebut kusaksikan.dan setelah itu Rudi mencabut penisnya lalu menyuruh Amel berdiri. Amel yang sudah tidak bisa mengontrol nafsunya menurut berdiri dan ketika Rudi melumat bibirnya Amel pun membalas lumatannya. Posisi Amel membelakangiku,aku hanya dapat melihat punggung Amel pacarku yang putih mulus dan pantatnya yang sedang diremas remas oleh Rudi sambil mulut mereka saling melumat.
Rudi
Tubuh mereka yang berpelukan merapat terlihat sangat kontras dimana kulit Amel yang putih dihimpit oleh badan Rudi yang hitam besar dan berkeringat. Terlihat batang penis Rudi menekuk ke bawah dan berada di sela sela paha Amel. Amel pun secara sengaja atau tidak menjepit penis Rudi dengan kedua pahanya. Tubuhnya mengkilat oleh campuran keringatnya dan Rudi. Lama mereka bercumbu sambil berdiri dan kemudian Rudi menarik tangan Amel mendekati pintu kamar. Aku semakin bingung ketika Rudi membuka slot pintu kamarku dan langsung membuka pintu kamar. Setelah pintu kamar terbuka, Rudi menuntun Amel melewatiku begitu saja. Melihat Amel pacarku sedang dalam keadaan bugil keluar kamar tanpa penutup apapun sangat membuatku gelisah. dan untung saja karena waktu itu kampus sedang libur panjang setelah ujian semester sehingga penghuni kebanyakan untuk memilih pulang ke kampung halamannya. Akupun hanya dapat mengikuti mereka berdua.hingga sampai tepat di teras kosanku yang terletak di perumahan dan cenderung sepi. Lalu Rudi pun menyuruh Amel untuk terlentang kembali di atas rumput teras kosanku. Aku yang tak mau mengganggu aktivitas mereka hanya memperhatikan dari jauh saja. Perasaanku sangat cemas dan khawatir jika ada yang lewat pasti mereka akan dapat melihat pacarku dengan tubuhnya yang indah sedang diperkosa oleh Rudi. Merekapun sering berganti ganti posisi, kini Rudi terduduk dan memangku Amel. Mereka saling berpelukan dan terus menggenjot genjot, atidak memperdulikan sekitar. Dari tempatku hanya terlihat tangan Amel yang melingkar di leher Rudi dengan wajah yang nampak kelelahan namun tetap berusaha menggenjot penis Rudi. Tanpa disadari oleh mereka ternyata di luar pagar sudah ada orang yang mengawasi mereka dari tadi dan kulihat ada 3 orang mengenakan celana pendek berwarna biru dan bersepatu. Ternyata yang ku tahu mereka adalah pelajar smp yang baru pulang. melihat pemandangan gratis tersebut tentu membuat mereka senang. Aku yakin Rudi sebenarnya tahu akan kehadiran mereka di luar pagar namun ia terus membiarkan pacarku menggenjot penisnya. Beberapa saat kemudian Rudi mengangkat tangannya dan melambai kepada ketiga pelajar smp tersebut, memanggil mereka untuk mendekat. Amel pacarku masih asik dengan mainannya tanpa menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya. Apa yang ada di dalam pikiran Rudi untuk menyuruh ketiga anak smp tersebut mendekat?
Pintu pagar yang memang tidak terkunci membuat mereka mudah masuk dan mendekati Amel. Amel yang baru menyadari kehadiran mereka terkejut dan sesat menengok ke belakang lalu kembali memeluk erat tubuh Rudi dengan maksud menutup bagian tubuh depannya agar tak terlihat. Namun Rudi mendorong tubuh Amel hingga terkulai di rumput. Kini tubuh Amel terpampang jelas, buah dadanya terpampang oleh ketiga anak tersebut,
“Udah sayang, gak usah malu, tubuh non kan bagus, lagian mereka ini masih smp non” bujuk Rudi
Amel menyilangkan kedua tangannya di dada menutupi buah dadanya yang sempat terlihat, wajahnya memerah karena malu.
“Hey dek sapa nama kalian?” tanya si penjaga kost
“Aku Deni!”, “Indra!”, “Hendra mas!” sahut ketiganya berurutan memperkenalkan diri masing-masing.
“Gimana menurut kalian? seksi ga si non Amel ini??” tanya Rudi memamerkan tubuh telanjang pacarku
“Wah seksi banget mas, kayak artis Marshanda, tapi montokan ini” jawab Deni yang rambutnya ikal dan tubuhnya kurus kecil serta hitam dekil
“Iya bikin ngaceng mas” timpal kedua temannya bersamaan
“Kalian kelas berapa?” tanya Rudi
“Kelas satu mas” jawab mereka bersamaan.
Rudi kembali mengocok perlahan vagina Amel dengan penisnya yang dari tadi belum terlepas. Tangan pacarku masih menutupi bagian daging kenyalnya dan wajahnya dipalingkan dari mereka dengan mata tertutup, mungkin perasaanya antara menikmati kocokan penis Rudi dan rasa malu pada ketiga anak smp tersebut.
“Kalian kalo haus boleh nyusu ke si non, giliran yah kalo mau” kata Rudi
Tanpa ada kata-kata lagi mereka langsung mengambil posisi. Deni berada di sebelah kanan tubuh Amel dan Indra di sebelah kiri, sementara Hendra sibuk mencari sesuatu di tas miliknya.
“Sialan seenaknya saja dia tawarkan cewekku!” omelku dalam hati
Deni, Indra & Hendra
Rudi langsung memegang tangan Amel yang menutupi buah dadanya yang mancung dan menariknya hingga sepasang gunung kembar itu terpampang. Kocokan Rudi kini temponya semakin cepat membuat Amel kembali kelojotan dan kepalanya menggeleng-geleng dengan mata yang terpejam. Deni dan Indra yang memang sudah horny langsung saja meremas buah dada Amel mereka pun menjilati puting susunya yang mancung dan menonjol karena sering dihisap Rudi. Mereka asik menikmati bagian masing-masing buah dada Amel. Sementara Hendra sekarang telah memegang sebuah HP yang memiliki fitur kamera. Nampaknya dia sedang merekam adegan adegan tersebut. Deni nampak rakus melahap buah dada milik pacarku yang montok itu, bahkan dia mengenyot sangat keras membuat Amel merasa tersiksa atau justru menikmatinya. Kocokan Rudi kini semakin cepat dan bertambah cepat, tubuh Amel mulai meliuk liuk, hingga akhirnya tubuh Rudi mengejang kepalanya mendongak dan matanya terpejam, penisnya amblas sangat dalam di vagina Amel. Rupanya Rudi telah mengalami orgasme dan dia tidak menghiraukan ucapanku untuk mengeluarkan spermanya di luar. Amel pun melenguh merasakan vaginanya di sembur oleh sperma milik Rudi. Pertama kalinya sperma orang disemburkan di vagina Amela karena aku pun selalu mengeluarkan spermaku di luar saat bercinta dengannya. Kini mata Amel terbuka lebar dan dia melihat buah dadanya sedang dipermainkan oleh anak smp yang dulu buah dadanya tidak pernah dilihat oleh laki laki manapun. Amel dengan teliti melihat Deni dan Indra terus menyusu dan menjilati putingnya, sesekali menahan rasa sakit ketika dua orang itu menggigit kecil putingnya. Amel tak bisa berbuat apa-apa karena penis rudy masih menancap di vaginanya dan tangannya pun masih dipegang oleh Rudi. Sangat lama mereka bermain dengan payudara pacarku Amel membuat Amel kembali terangsang.kepalanya dan tubuhnya meliuk liuk menerima rangsangan. Melihat keadaan itu membuat Rudi melepaskan pegangan pada tangan Amel. Benar saja kini Amel malah memegangi kepala Deni dan Indra yang sedang menyusu pada payudaranya. Sungguh pemandangan yang ironi,melihat pacarku Amel seorang siswi SMU kelas 2 kini tubuh indah miliknya bugil dan sedang dipermainkan oleh sekelompok pelajar smp yang seharusnya menjadi seorang kakak yang mengajari hal yang baik untuk ketiganya malah menjadi budak nafsu mereka.
Rudi yang sudah selesai dan puas menyetubuhi Amel kini melepaskan penisnya dari vagina Amel dan terlihat sangat mengkilap oleh cairan dari campuran spermanya dan lendir vagina Amel. Terlihat sperma Rudi menetes mengalir dari vagina pacarku. Rudi pun lantas bangkit dan meninggalkan tubuh cantik Amel pacarku begitu saja yang sedang dikerjai oleh anak-anak smp itu. Aku masih sangat penasaran apa yang akan dilakukan 3 bocah bau kencur itu terhadap tubuh pacarku Amel. Akupun memilih untuk tetap diam dan mengawasinya meski aku sendiri sudah sangat horny melihat adegan adegan tersebut. apalagi saat ini Deni dan Indra sudah melucuti pakaiannya sehingga mereka berdua sudah bugil dan Hendra tetap merekam kejadian itu dengan hp kameranya. Deni kembali pada posisi semula namun kini ia bebas meraih kedua buah dada pacarku. Tangannya meremas buah dada bagian kiri Amel dan mulutnya menghisap puting kanannya. Penis Deni tidak terlalu besar mungkin karena belum tumbuh sepenuhnya. Di lain posisi Indra yang memiliki penis berukuran 12 cm dan juga diameternya tidak terlalu besar mengambil posisi Rudi dan bersiap mengentot vagina pacarku,
“Wah mbak perek yah? sayang sayang mbak…cantik cantik koq jadi perek” sahut Indra sambil tangannya mengusap usap vagina pacarku, lalu jari tengahnya yang hitam kulitnya dimasukkan kedalam vagina, hal ini membuat Amel melenguh dan mendesis dengan mata yang terpejam.
“Wah iya mbak, kalo mbak perek pasti harganya mahal ya mbak?? Body mbak montok abis susunya mancung banget, baru kali ini bisa aku rasain. Untung kita dikasih sama mas’nya jadi bisa ngentotin mbak gratiss” timpal Deni dengan muka sangat senang mendapatkan kesempatan ngentot pacarku Amel.
Amel hanya bisa melenguh ketika jari Indra mulai digerak gerakan maju mundur mengocok vagina Amel.
“Kenapa mbak?enak yah??” tanya Indra sambil mempercepat gerakan mengocok jarinya
Tubuh Amel meliuk liuk dan kini tangannya memegangi kepala Deni menekannya agar terus menghisap payudaranya
“Aaaahh yang cepettt, euuuungh aaahhhhh…” erang Amel
Beberapa saat kemudian tubuh pacarku mengejang hebat dan seluruh badannya bergetar,
“aaaaaaahhhh!!” begitulah yang kudengar dari mulut Amel yang menganga menahan nikmatnya sebuah orgasme.
Gila, Amel sudah mengalami orgasme dari seorang anak smp dan hanya menggunakan jarinya. Mungkin sebuah hal yang memalukan baginya,namun kini Amel sudah tidak memperdulikan hal itu karena tangan Amel malah mengusap usap kepala Deni yang masih asik memainkan lidahnya di buah dadanaya.
Indra kini memegangi penis miliknya dan menuntun ke arah bibir vagina Amel yang baru saja berorgasme. Tentu hal ini membuat Amel ngilu, dengan penis Indra yang sudah mengacung keras dan ditambah vagina Amel yang sudah becek membuat Indra tidak begitu sulit memasukkan penisnya….cleeeeeeeeps penis Indra langsung terbenam seluruhnya di vagina Amel.
“Aaahhhhh!” lenguhan Amel terdengar ketika vaginanya dimasuki penis orang lain lagi.
Sekarang Amel sudah merasakan 3 penis yang berbeda yang masuk ke vaginanya. Tanpa basa basi bocah smp itu langsung menggenjot ceweku yang masih lemas karena orgasmenya. Mulut Amel menganga saat vaginanya kembali di kocok penis orang. Deni yang melihat itu langsung melumat bibir tipis Amel lalu memasukan lidahnya dan meyapu seluruh mulut Amel sambil tangannya meremas gemas bukit milik ceweku Amel. Tidak lama kemudian Indraa yang mengocok vagina Amel dengan penisnya mempercepat gerakannya dan sesat setelah itu Indra bangkit dan menggeser posisi Deni kini penis Indra tepat berada di depan bibir Amel dan bahkan kepala penisnya menempel di bibir tipis Amel.
“Ayoo isaap mbak iseeepp!” suruhnya
Amel pun membuka mulutnya dan mulai menghisap penis milik Indra, tidak lama kemudian
“Aahh!!” Indra menekan pantatnya sehingga penisnya masuk lebih dalam bahkan mungkin menyentuh rongga mulut pangkal tenggorokan Amel
Terlihat Amel seperti ingin muntah. Tubuh Indra mengejang dan matanya merem melek menandakan dia telah mengalam orgasme. Kontan saja Amel yang memang sedang menghisap penis Indra langsung secara tidak sengaja menelan spermanya yang masih smp itu. Lalu Amel melepaskan penis Indra dari mulutnya dan memuntahkan sperma sisa milik Indra. Dengan raut wajah yang sangat kesal dia bangkit dan duduk.karena tidak ingin dipermalukan oleh anak-anak smp tersebut dia lalu bangkit dan meninggalkan mereka. Kulihat anak smp tersebut kembali berpakaian dan entah kabur kemana setelah menikmati tubuh ceweku.
Amel dengan tubuh bugilnya berjalan menuju ke arah kamar,dan ketika lewat dihadapanku dia tersenyum manja,langsung masuk kekamar yang memang masih ada Rudi yang sedang duduk di pojok tempat tidur dan masih keadaan telanjang bulat. akupun ikut masuk kedalam kamar dan memilih untuk duduk di kursi tempatku biasa belajar. Amel tidak merasa risih dengan keadaanya yang masih telanjang dihadapan aku ataupun Rudi yang bukan apa apanya. Amelpun tidak langsung mengenakan pakaiannya atau menutup tubuh indahnya dia malah menyisir rambutnya yang hitam lurus sebahu membelakangi kami berdua lalu mengambil karet rambutnya yang berwarna hijau, saat dia mengikat rambutnya dengan keaadaan tangannya terangkat terlihat buah dadanya yang mengacung indah membuat aku terangsang. Sambil bercermin Amelpun sempat memperhatikan tubuhnya yang bugil lewat cermin dengan menggerak gerakan badannya sedikit manja meliuk seperti model ingin di foto.
“Busyeeet dah ni cewekku jadi bitchy begini” pikirku
“Waduh non, non tetep cantik koq…gimana puas belum non?? kalo belum nih kontol aku siap lagi” sahut Rudi
“Sialan di hadapanku beraninya dia ngomong seperti itu sama cewekku”
Amel dengan manja berjalan sambil sejenak tersenyum nakal ke arahku dan menghampiri Rudi. Tangannya langsung menggenggam penis Rudi lalu mengecupnya.
“Nanti lagi yah bang, Amel cape banget pengen mandi terus istirahat.”
“udah kaya perek ajah ni cewek!” jengkel dalam hatiku
Amel pun bangkit lagi dan menuju kamar mandi dengan membawa handuk yang sedang kujemur. Ketika Amel sedang mandi aku pun berbincang dengan Rudi yang sudah menikmati tubuh Amel pacarku yang sangat cantik.
“Gimana puas ya lo?? sialan lo..terus gimana nih rencana kita??” tanyaku
“Uh mantep banget den, ternyata pacar aden doyan juga…kalo rencana itu gampang den, aku udah siapin rencana,” lalu Rudi pun membeberkan rencananya itu,
Kampus kami memang sedang libur sekitar 3 minggu setelah ujian semester, namun menurut info dari Rudi, Nonik pacar Dwi akan kembali ke kontrakan besok karena dia akan mengikuti sebuah pelatihan dari jurusannya.
Tentu kondisi itu sangat menguntungkan karena penghuni kontrakan Nonix pasti belum pada pulang dan ada sisa waktu satu minggu untuk mengerjainya. Dwi pacar Nonix pun sedang pulang kampung ke kota asalnya di luar pulau jawa.Rudi berjanji akan menghubungiku jika semuanya sudah lancar. Tak lama setelah itu Amel pacarku selesai mandi dan hanya dengan menggunakan handuk yang dililitnya, lalu yang membuatku kaget Amel melepas lilitan handuk tersebut di depan kami berdua aku dan Rudi dan malah melilitkan handuk ke rambutnya dan kini tubuh Amel yang polos itu kembali menjadi tontonan kami berdua. Rudi langsung mengambil kesempatan itu dia bangkit dan menghampiri tubuh Amel yang sangat padat dan mulus itu,lalu Rudi langsung memeluknya dari belakang, penis Rudi yang sudah kembali ngaceng menempel di pantat seksi Amel pacarku. Kini tangan Rudi kembali meremas lembut buah dada ceweku lalu Rudi membopong Amel ke arahku dan meletakkanya di meja di depanku persis. Tubuh Amel yang wangi dan mulus ini langsung ditelungkupkan di meja kakinya direnggangkan dan Rudi langsung menyetubuhinya dengan kondisi itu. Aku yang tidak tahan dari tadi hanya melihat ceweku dipakai orang langsung melepas celana dan menyuruh Amel untuk mengulumnya sambil vaginanya terus disodok penis Rudi,.
“Enak gak sayank??” tanya Rudi
“Enak yank, terus entotin Amel ya” desah Amel sambil tangannya mengocok penisku
“Sialan pacar lo yang mana sih dasar pereek!” dalam hatiku memaki pacarku sendiri,
“teruss iseeep perek, isep kontolku bangsat, sekarang kamu kan udah doyan ngentot sama orang kan!”
Baru kali ini aku ML dengan Amel dengan mengucap kata kata kasar padanya. Tak berapa kemudian Rudi pun akan mengalami orgasme dia lalu mencabut penisnya dan langsung memuncratkan ke wajah Amel yang sedang mengulum penisku. Sperma Rudi banyak sekali menyemprot wajahnya, bahkan cairan putih itu mengenai mata Amel dan menetes di bibirnya. Selesai itu Rudi pun langsung berpakaian dan meninggalkan kami yang masih bercinta. Setelah aku dan Amel saling memuaskan, aku pun menyeuruh Amel untuk mandi lagi. Kami pun berdua mandi bersama.Karena sudah sore hari akupun berniat mengantar Amel untuk pulang. Sesampainya di rumah Amel, saat hendak pulang kembali ke tempatku, Amel yang sudah masuk ke rumahnya kembali keluar dan memanggilku. Amel menceritakan bahwa dia mendapat pesan dari Hp nya yang tidak ia bawa ke sekolah bahwa seluruh keluarganya telah pergi keluar kota tadi siang sehingga rumahnya kosong dan Amel hanya sendirian.
Amel memintaku untuk menginap malam ini hingga keluarganya pulang. Dengan senang hati akupun mengiyakannya. Pada malam itu aku dan Amel benar benar merasa seperti dunia milik sendiri, kami berdua ML di rumah Amel waow…enak juga yah ML di mana saja di pelosok rumah ini. Aku melakukannya di berbagai tempat di hampir seluruh ruangan rumahnya. Baik di kamar Amel sendiri, di ruang tamu, di ruang Tv, di kamar mandi, di kamar orang tuannya, di kamar adiknya, Dea yang masih smp kelas 2 yang tidak kalah cantiknya, di kamar kakaknya yang kuliah di perguruan tinggi swasta lebih 2 tingkat diatasku yang juga begitu cantik. Bahkan saat bercinta dengan Amel di kamar Dea aku membayangkan sedang bercinta dengan adiknya Amel yang tidak jauh berbeda wajahnya namun terlihat lebih imut dan polos itu. Dan setelah aku selesai bercinta dengan Amel yang saat itu kuanggap Dea dengan menggunakan tempat tidurnya. Aku membuka lemari pakaian dea lalu mencari celana dalam Dea lalu kuciumi dan kupakai untuk mengelap penisku yang basah akibat spermaku dan lendir vagina Amel sambil membayangkan vagina Dea. Sama seperti di kamar Dea, aku juga sempat membayangkan ML dengan mbak Putri, kakak Amel ketika aku bercinta menggunakan tempat tidur milik mbak Putri dan menggunkan celana dalam mbak putri untuk mengelap penisku. Bahkan kami pun melakukannya di sebuah gudang rumahnya dan di halaman belakang rumahnya yang tertutup pagar tinggi. Kami berdua sama sekali tidak pernah menggunakan pakaian sehelai pun malam itu, makan, mandi atau menonton TV pun tanpa mengenakan pakaian. Ada sebesit pikiran untuk mengajak Rudi atau siapapun untuk bergabung meyetubuhi pacarku Amel di rumahnya sendiri. Namun kuurungkan karena melihat Amel yang dari siang terus digangbang mungkin akan sangat kelelahan sehingga kamipun memilih untuk tidur. Kami tidur pun berdua tanpa mengenakan pakaian dan kami memilih tidur di kamar Dea. Setelah Amel terlelap tidur, aku yang belum bisa memjamkan mata,memilih untuk keluar kamar, iseng saja aku masuk ke kamar Putri. Aku lihat kamrnya begitu rapih dan ada sebuah laptop di meja tanpa pikir panjang aku menyalakannya berniat untuk bermain. Namun kembali aku dikejutkan setelah aku iseng membuka buka folder pribadi milik mbak Putri yang memilik tubuh indah seperti adiknya. Aku melihat foto-foto pribadinya.
Terlihat foto mbak Putri yang mengenakan pakaian seksi bahkan ada sebuah foto yang hanya mengenakan CD g-string merah dan BH-Merah jambu, namun terlihat background kamar yang berbeda.sepertinya bukan di kamar ini. Belum puas mengotak atik folder pribadinya, aku penasaran dengan folder U and me dan dalam kondisi di hidden atau tersembunyi. Aku yang saat itu memang ingin mengotak atik laptopnya sengaja merubah pengaturan dengan memperlihatkan semua file tersembunyi. Setelah terbuka aku melihat foto-foto mbak Putri yang hanya mengenakan BH dan cd tersebut berada di sebuah kamar bersama seorang laki laki yang sedang memeluknya dari belakang.foto tersebut di ambil menggunakan hp. Setelah itu kini mataku tertuju ke sebuah file yang berformat video masih dalam folder tersebut namun bertuliskan bangsat. Setelah kubuka, jantungku berdegup kencang, aku melihat mbak Putri sedang disetubuh oleh beberapa laki laki di sebuah ruangan yang aku duga itu adalah sebuah kantor karena ada sebuah meja kantor tempat mbak Putri sedang dikerjai. Karena pengambilan gambar yang bergerak bebas,aku bisa menebak kalu disitu setidaknya ada satu orang lagi. Betapa kagetnya ketika aku mendengar suara dari video tersebut.
“Gimana Put enak kan di entot pak dosen??” suara cewek tersebut adalah yang merekam adegan Putri yang sedang di entot dosennya dan direkam oleh sahabatnya akibat nilainya yang buruk dan ingin memperbaikinya dengan syarat harus dipakai oleh dosen tersebut.
Dari video tersebut terlihat tubuh montok mbak Putri yang penuh peluh ikut bergoyang mengikuti ritme kocokan laki laki itu hingga laki laki yang diduga dosen itu mencapai orgasmenya dan menumpahkan spermanya di buah dada Putri yang mancung dan sedikit lebih besar dari Amel. Setelah selesai melihat video tersebut akupun mematikannya dan kembali ke tempat Dea dimana Amel sedang terlelap tidur. Entah kenapa penisku sangat tegang setelah melihat adegan dalam video tersebut. Tak menyangka dan tak mengira putri kakak Amel berbuat seperti itu.
Aku ingin sekali bercinta dan menuntaskan birahiku,namun melihat Amel yang kelelahan tapi aku tak ingin membangunkannya, jadi aku hanya membuka dan menarik selimut yang Amel gunakan untuk menutup tubuh polosnya itu. Terlihat buah dada Amel yang indah itu, lalu aku mulai mengocok penisku di wajah Amel. Dan tak lama kemudian aku pun mencapai orgasme dan menumpahkan cairan spermaku di dada Amel. Lalu aku kembali menggunakan CD milik Dea yang berwarna merah muda transparan untuk mengelap penisku dan spermaku yang muncrat di bagian dada Amel. Akupun langsung tidur dengan masuk ke dalam selimut bersama Amel dan memeluknya sambil membayangkan hari esok akan meyetubuhi tubuh Nonix, pacar Dwi yang bodynya bohai dan modis. Membayangkan apa yang akan kulakukan terhadapnya bersama dengan Rudi. Akupun berniat mengajak temanku dan merupakan teman Dwi juga di kampus untuk ikut menikmati tubuh pacarnya itu…hmm
To be continued…
By: Fiedel
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini
Five Filters featured article: Headshot – Propaganda, State Religion and the Attack On the Gaza Peace Flotilla. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.
Holiday’s Challenge: Lina si Gadis Petani
June 10th, 2010Message from Five Filters: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.
Perhatian sebelum membaca !
- Cerita Holiday’s Challenge menceritakan tentang sifat-sifat seorang wanita yang mungkin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
- Tidak ada unsur kepolosan dari seorang wanita yang terkandung dalam cerita ini, hanya ada sifat-sifat wanita nakal dan bitchy
- Cerita ini hanya mengkisahkan wanita-wanita dengan sifat yang tidak biasa yang mencari ‘pengalaman’ baru di saat liburan.
- Kemungkinan besar cerita ini tidak akan menarik, mungkin cenderung membosankan, tapi bisa sebagai penambah koleksi cerita seru sambil menunggu cerita-cerita yang lebih hebat dari para pengarang lainnya
HAPPY READING ^_^
******************************
Lina
“akhirnya selesai juga UAS yang ngebetein..”, ujar Riri merasa lega sekali, ujian akhir semester genapnya selesai di laluinya.
“oh iya, Ri..kita liburan kemana nih, kan kalo semester genap gini…liburnya lama banget n’ bikin bete…”.
“bentar, kita omongin sekalian ama Lina n’ Intan..”. Riri dan Monica pun berjalan ke kelas, dimana Lina dan Intan ujian. Riri, Intan, Monica, dan Lina adalah 4 gadis yang menjadi bunga kampus, diidam-idamkan banyak lelaki di kampusnya. Setiap mereka berempat lewat, lelaki yang dilalui mereka akan diam terpaku dan menghentikan segala aktivitasnya hanya untuk memandangi mereka berempat berlalu. Bisa dibilang, mereka berempat memang tipe cewek yang suka menggoda lelaki. Setiap ada cowok yang menggoda mereka baik siul-siul, panggil-panggil, atau caper, pasti salah satu dari mereka akan menengok dan tersenyum manis. Mereka suka sekali dengan cowok yang sok-sok menggoda, tapi kalau ditanggapi langsung salah tingkah. Mereka pun tak pernah menolak jika diajak kenalan sehingga tak heran kalau mereka berempat punya banyak teman lelaki di kampus.
“Mon, kemana nih yang enak liburannya?”.
“mana ya? pantai?”.
“bosen ah..”.
“puncak?”.
“ogaah…bosen parah..”.
“hmm…”.
“terus kemana dong?”.
“hmm…”.
“ke Bali?”.
“hmm…gimana kalo liburan ini kita nyobain kerja-kerja kasar gitu?”.
“kerja kasar? maksud lo?”.
“yaa jadi buruh kek, petani kek, apa kek gitu, gimana?”, usul Intan.
“ah gila lo, apa enaknya liburan kayak gitu?”.
“yee justru itu…biar liburan kita beda gitu…bosen kan lo dugem, ketemu cowok-cowok ganteng n’ kaya yang suka banggain diri sendiri?”, jelas Intan yang memang agak beda dengan 3 temannya yang glamour meski dia juga tak kalah kaya dengan 3 temannya, tapi tetap saja, Intan sama ‘gila’nya dengan ketiga temannya.
“mm…bener juga, gue juga dari dulu pengen ngerasain jadi peternak gitu deh..”.
“okelah, tapi emangnya ada tempat yang kayak gitu?”.
“dodol lo ah…kita cari profesi beneran aja..”.
“hmm..gimana..sekalian aja taruhan..yang paling lama tahan, menang n’ dapet duit 5 juta, gimana?”.
“bener yaa? siip deh..”.
“tapi mesti ada bukti foto n’ video ya..”, ujar Riri.
“oke kalo gitu..DEAL !!”.
Hari pertama liburan, Lina bingung dengan tantangan teman-temannya. Dia mau mencoba jadi apa, tak pernah terbayang olehnya, melakukan pekerjaan kasar. Tapi, setelah dipikir-pikir, Lina juga penasaran tentang sisi berlawanan dari kehidupannya. Sisi kehidupan yang harus bekerja keras hanya untuk menyambung kehidupan satu hari saja. Saat sedang menggonta-ganti chanel tv, Lina menonton acara tentang para petani yang sedang menggarap sawah.
“hmm…apa gue coba jadi petani ya?”.
“tapi ntar kulit gue jadi item..”. Entah kenapa, pertimbangan-pertimbangan tadi seperti sirna di pikiran Lina. Sekarang, hanya ada perasaan semangat dan tak sabar. Lina sendiri tak mengerti, kenapa dia begitu ingin merasakan jadi petani, mungkin karena dia ingin sekali mendapatkan pengalaman baru.
“hmm…gue tinggal ma Abah Dirman aja kali yaa?”. Lina teringat dengan orang yang dipercaya ayah Lina untuk mengurusi sawah keluarga Lina yang ada di kampung halamannya.
Bagi Lina, Dirman sudah seperti keluarga sendiri. Dari kecil, Lina selalu diawasi Dirman jika main di sawah. Kalau dipikir-pikir, sudah lama ia tak bertemu Dirman. Sekalian maen aja ah, pikir Lina. Keesokan harinya, Lina pun mengemudikan mobilnya ke desa dimana ia menghabiskan waktu kecilnya. Saat Lina sudah dekat dengan rumah masa kecilnya, dia melihat seorang pria tua keluar dari rumahnya dengan memakai caping. Pria tua itu berhenti, mengamati mobil sedan berwarna silver itu. Tak lama kemudian, Lina keluar dari mobil dan berjalan ke arah pria tua itu. Keduanya saling mengamati satu sama lain. Wajahnya familiar, tapi tak kenal, pikir keduanya.
Abah Dirman
“maaf, bapak ini siapa?”.
“saya Dirman..neng ini siapa?”.
“ya ampun Abaahh…”, teriak Lina senang dan langsung memeluk Dirman. Dirman kaget sekali, tiba-tiba dipeluk wanita cantik yang ada di depannya.
“maaf, neng ini siapa?”, tanya Dirman masih bingung.
“ya ampun..masa Abah gak kenal ama Lina..”.
“ha? ini non Lina?”.
“iyaa..”.
“ya ampun non Lina…Abah ampe pangling non..”.
“masa Abah lupa sih ama Lina?”.
“ya bukannya gitu non, kan udah lama banget gak ketemu non Lina..”.
“oh iya ya..terakhir pas Lina baru umur 11 yaa?”.
“iya non..makanya Abah pangling..non Lina jadi cantik banget..”.
“ah Abah bisa aja..”.
“oh iya non Lina ada apa ke sini? biasanya bapak yang kesini?”.
“ah nggak, Bah…Lina pengen maen aja ke sini..ama sekalian pengen belajar jadi petani…boleh kan, Bah?”.
“boleh aja non, tapi kenapa tiba-tiba non pengen belajar jadi petani?”.
“yaa…ada tugas dari dosen tentang kehidupan petani gitu, Bah…boleh kan?”.
“yaa boleh lah, non…kan sawahnya bapaknya non Lina..”.
“kalo gitu Lina ganti pakaian dulu deh..Abah tunggu bentar yaa…”.
“sini non, Abah bawain kopernya..”.
“Abah masih kuat?”, canda Lina.
“masih dong, biarpun udah 53, masih kuat..ngangkat non Lina kayak dulu juga masih kuat..”.
“wah…jangan Bah…dulu sih Lina demen diangkat Abah kayak kapal terbang, tapi sekarang ogah deh…hehe..”.
“wah..kamar Lina masih bagus yaa..”.
“iyaa non, setiap hari Abah ke sini buat rapihin rumah..”.
“waah…makasih yaa, Bah..tapi tempat tidurnya kayaknya udah gak muat..”.
“kalo gitu non Lina tidur di kamar bapak n’ ibu aja..”.
“oh iyaa ya..”.
Lina menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur orangtuanya seperti tak menghiraukan keberadaan Dirman. Pria itu kini berusia 53 tahun, baru kali ini ia melihat pemandangan yang begitu indah dari tubuh seorang gadis cantik. Memang Dirman sering memperhatikan Lina, tapi itu dulu saat Lina masih kecil. Berbeda sekali dengan sekarang. Melihat wajah Lina yang cantik, kulitnya yang putih mulus, ditambah dengan payudara Lina yang membusung ke atas dan posisi Lina yang terlentang pasrah memancing nafsu Dirman. Bapak tua itu merasa batang kejantanannya mulai bereaksi, mulai berkhayal yang tidak-tidak tentang tubuh anak majikannya itu. Pikiran-pikiran kotor singgah di otak Dirman melihat setiap lekukan tubuh Lina yang ada di pandangannya. Tentu tidak main-main kenikmatan yang bisa direngkuh dari tubuh seindah dan semulus tubuh Lina. Ingin sekali rasanya di pikiran Diman untuk meremas-remas kedua buah payudara yang sangat ‘menantang’ itu, tapi Dirman masih sadar dengan statusnya. Tak mungkin baginya yang hanya jongos bisa menikmati tubuh anak majikannya, Lina. Berkhayal pun, Dirman merasa tak pantas dan sangat menyesal. Tapi, di dalam hati Dirman, tentu ada khayalan tentang kenikmatan persetubuhan dengan Lina.
“non Lina..Abah tunggu di luar yaa..”.
“iya, Bah..makasih ya udah bawain koper Lina..”.
“iyaa non…”.
Lina pun tak mau membuat Dirman lama menunggu di luar. Gadis cantik itu langsung bangun dari tempat tidur. Celana jeans dan kaos yang begitu ketat membalut tubuh indahnya kini berada di lantai, hanya tinggal bra dan celana dalam yang menutupi bagian-bagian tubuh Lina. Bagian tubuh yang tentu bisa memanjakan kaum Adam dan membuat semua lelaki merasa di surga. Lina mengambil kaos dan hotpantsnya dari dalam koper. Lina sengaja mengenakan hotpants dan kaos yang longgar karena dia tahu udaranya pasti panas dan pasti tak enak jika memakai pakaian yang ketat. Lina membalurkan lotion cream ke seluruh bagian tubuhnya yang terbuka. Tentu saja dia tak ingin kulitnya yang putih mulus nan halus itu menjadi hitam dan tak sedap lagi untuk dipandang karena terbakar sinar matahari. Lina keluar dari dalam rumah, mendekati lalu mencolek Dirman.
“ayo, Bah…kita ke sawah..”.
Dirman terbengong melihat Lina. Sepasang kaki Lina yang jenjang nan indah bisa dilihat Dirman dengan sangat jelas. Dari paha Lina hingga ke betisnya benar-benar putih dan mulus, tak ada cacat atau lecet sedikitpun. Pemandangan itu membuat Dirman membayangkan nikmatnya mengelus-elus dan menciumi paha yang begitu putih mulus itu, apalagi jika sampai ke pangkal dari sepasang paha itu. Tanpa sadar, Dirman menelan ludahnya sendiri di depan Lina.
“Abah kenapa?”.
“nggak non…ayo non, ikut Abah ke sawah…”, Dirman agak grogi takut ketahuan sedang memandangi tubuh Lina.
“ayoo !”, Lina bersemangat.
Selama berjalan, Dirman berusaha keras mengenyahkan khayalan-khayalan nakalnya. Tak pernah ia bayangkan kalau gadis kecil yang dulu ia ajak bermain di sawah, ia jaga, ia anggap anak sendiri akan menjelma menjadi gadis yang begitu cantik. Dari dulu, Dirman memang menduga kalau Lina akan menjadi wanita cantik jika sudah dewasa, tapi sama sekali tak menduga kalau akan menjadi begitu cantik dan begitu seksi, sampai mampu membuat Dirman merasa muda lagi, hanya dengan melihatnya saja. Tanpa tahu diamati, Lina berjalan di depan Dirman sambil merekam kesana kemari dengan handycamnya. Dirman pun memandangi Lina dari belakang, bagian yang paling menarik perhatian Dirman tentu pantat Lina. Kalau saja, kalau saja, pikir Dirman.
“Abah bawa apa sih tuh?”, tunjuk Lina ke rantang dan termos yang dipegang Dirman sambil mengarahkan handycamnya ke wajah Dirman.
“ini non..makanan buat kita ntar..dibuatin ama Mbok Minah lho…”.
“waaaahh…buatan Mbok Minah yaa..udah lama gak makan makanan buatan Mbok Minah..asiiik !!”, Lina kegirangan.
“ini namanya Abah Dirman, petani dari desa Kolosari, umurnya 53 tahun..”, ucap Lina memperkenalkan sambil terus merekam Dirman.
“halo gitu dong, Bah…”. Sambil malu-malu, Dirman tersenyum dan melambaikan tangannya ke kamera Lina. Tak lama kemudian, mereka berdua sampai juga di sawah. Hamparan hijau terlihat, segar sekali udaranya.
“waah seger banget udaranya…beda ama udara kota…”.
“iya donk non, makanya orang desa lebih sabar n’ gak gampang sakit..”.
“kok lebih sabar? hubungannya apa, Bah?”.
“yaa kan kalo udaranya sejuk n’ seger..bikin orang jadi rileks..jadinya gak gampang marah..gak kayak orang kota…”.
“oh iyaa juga yaa..bisa aja si Abah…hahaha”. Dirman dan Lina berjalan ke saung/bale-bale, tempat yang biasa digunakan untuk istirahat.
“oh iya non Lina, kok pake di rekam-rekam segala?”.
“ini bukti..jadi dosen Lina percaya…”.
“ooh gitu…”. Mereka berdua kembali ke sawah, terlihat ada beberapa orang bapak-bapak yang sedang menanam padi dan ada yang membajak sawah.
Dirman memanggil semua orang yang ada di sekitar sawah itu. Ada 5 orang bapak-bapak dan 3 orang ibu-ibu.
“kenalin, ini namanya nona Lina, anaknya Pak Waseso…nona Lina pengen belajar jadi petani buat tugas kuliahnya…bantu nona Lina..”.
“iyaa !!”. Setelah memperkenalkan diri masing-masing, para petani wanita kembali menanam padi. Sedangkan, para petani pria genit terhadap Lina. Bertanya-tanya kepada Lina. Lina pun menjawab brondongan pertanyaan sambil terus tersenyum. Tentu saja pada genit. Jarang sekali bisa melihat gadis cantik yang begitu putih mulus. Meskipun ada kembang desa yang juga cantik, tapi tetap saja tak ada gadis di desa itu yang bisa menandingi keseksian tubuh Lina.
“udah udah..sana balik kerja..”.
Lina mengikuti Dirman ke petak sawah yang setengah terisi padi. Dirman pun masuk ke dalam. Dengan bantuan Dirman, Lina juga masuk setelah memakai boot yang dibawa Dirman tadi.
“ayo, Bah..praktekkin caranya nanem padi..”.
“gampang non..nih tinggal nancepin..nih..gini doang non”, ujar Dirman setelah menancapkan satu genggam padi.
Dengan cepat Dirman sudah menanam sekitar 6 genggam padi.
“coba sini, Bah…Lina mau coba..”. Dirman mengelap tangannya dan menerima handycam dari Lina.
“ini gimana nih non?”.
“udah..Abah tinggal arahin ke Lina aja kok..”.
“kayak gini, Bah?”.
“iyaa non..”. Lina baru menancapkan 3 genggam padi, tapi sudah berpeluh keringat.
“susah juga yaa..hihihi..udah gitu gak lurus lagii…hehehe..”. Lina bertolak pinggang, melihat hasil kerjanya. Sama sekali beda dengan hasil tanam Dirman yang lurus seperti satu garis.
“kok Abah bisa lurus gitu yaa?”, Lina bingung, Dirman yang hanya lulusan SMP bisa menanam padi dengan sangat rapih tanpa alat ukur. Sedangkan dia yang bersekolah dari TK sampai SMA ternama dan kuliah di universitas yang juga ternama sama sekali tak bisa menanam padi dengan lurus.
“pake perasaan, non…”.
“ini juga udah pake perasaan, Bah..hehe..”.
“ya mungkin non belum biasa..”.
“iya kali yaa..”.
“yaudah, non tanem aja…ntar biar Abah yang benerin..”.
“ok deh…”. Lina menanam beberapa genggam padi lagi hingga petak sawah itu hampir penuh. Bukannya bekerja, para petani lain malah asik melihat Lina yang serius menanam padi. Seorang gadis cantik mau berkotor-kotoran, menanam padi, dan bercucuran keringat, tentu mereka tak mau melewatkan pemandangan yang langka ini.
“uuh, capek juga ternyata !”, ujar Lina mengelap keringat yang ada di dahinya dengan punggung tangannya setelah selesai memenuhi petak sawah dengan hasil tanamnya.
“nih non lapnya..”.
“sini, Bah kameranya..”. Dirman membetulkan padi hasil tanam Lina dengan mudah dan cepat. Lina kagum, tadi ia susah payah mengira-ngira jarak padi, tapi tidak rapih juga, beda sekali dengan Dirman.
“nah udah rapi deh, non..”.
“iyaa, rapi banget kalo ditanem ama Abah…”.
“ayo non, kita ke saung yang tadi..kita istirahat, pasti non capek..”.
“hehe, Abah tau aja..ayo, Bah…”. Mereka berdua kembali ke saung yang tadi.
Dirman membuka rantang satu per satu.
“waah…semur daging !!”. Lina makan dengan sangat lahap bagai orang yang tak makan berhari-hari.
“ati-ati non keselek..”, canda Dirman sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum.
“aah..kenyang !!”. Lina dan Dirman mengobrol dan beristirahat di saung. Sesekali, Dirman curi-curi pandang ke bagian dada dan paha Lina. Dalam posisi duduk bersila, hotpants Lina semakin naik sehingga pahanya yang putih mulus semakin terekspos. Liur Dirman hampir menetes melihat paha yang sangat mulus itu.
“Bah, abis ini kita nanem lagi?”.
“gak usah, non..kita pulang aja..udah siang bolong..kasihan non Lina ntar jadi gosong..”.
“ya elah, Bah..Lina udah pake tabir surya kok..”.
“ya gak usah, non..lagian Abah pengen ngajak non ketemu Mbok Minah…”.
“wah..ide bagus tuh, Bah…Lina juga udah kangen ama Mbok Minah..yuk, Bah..”.
Setelah beres-beres, tanpa ragu-ragu Lina menggandeng tangan Dirman. Dirman agak kaget, tapi senang merasakan betapa halus dan lembutnya tangan Lina. Merasa seperti anak kecil lagi, Lina pun menggandeng Dirman dan ngelendot di bahu Dirman dengan manja. Dirman keringetan, aroma tubuh Lina yang begitu harum seolah memancing ‘juniorn’ya untuk bangun.
“non, di depan jalannya sempit..”.
“oh yaudah, Lina jalan duluan yaa..”.
“iyaa non, tapi ati-ati non..kalo kepeleset bisa masuk ke situ..banyak lintahnya..”.
“iya, Bah..”.
“aakkhhh !!”, meski sudah hati-hati, Lina terpeleset.
“byuurr…”. Lina terjerembab ke dalam kubangan yang keruh. Tubuh bagian bawahnya terendam.
“non Lina !!!”. Dirman langsung menjatuhkan rantang, termos, dan handycam yang dibawanya lalu masuk ke dalam kubangan dan membantu Lina berdiri.
“non Lina gak apa-apa?”.
“gak apa-apa, Bah..makasih..”.
“jangan gerak non, ada lintah..”.
“waa..lepasin donk, Bah..”.
“tenang, non..kita ke sana dulu..”.
“aduuh, Bah..kaki Lina sakit..”.
“sini, Abah papah..”. Dengan dipapah Dirman, Lina pun duduk di saung terdekat. Petani yang lain pun mengerubungi saung itu, ingin tahu apa yang terjadi.
“pinjem korek”.
“nih, Bah…”. Beberapa lintah yang ada di betis Lina pun bisa dilepaskan Dirman setelah lintah itu dibakar terlebih dulu.
“ini, Bah..masih ada di paha Lina..”. Ada 4 lintah yang menempel di paha Lina bagian dalam.
“maav, non..bisa diangkat dulu kakinya..”.
“iya, Bah..”.
Para petani yang mengerubungi saung pun seolah tak berkedip atau lebih tepatnya tak mau berkedip. Tentu mereka tak mau melewatkan detik-detik pembukaan ‘warung’ Lina. Lina mengangkat kedua kakinya ke atas saung, dan tanpa disuruh Lina melebarkan kedua kakinya ke samping kiri dan kanan seperti huruf M. Pandangan mata para lelaki yang ada di sekitar Lina berubah bagai pandangan serigala saat melihat ada mangsa. 5 pasang mata, semuanya tertuju ke daerah yang paling intim dari tubuh Lina. Bukannya tak menyadari, Lina sadar betul, semua yang ada di sekitarnya tidak memperhatikan lintah yang ada di pahanya melainkan daerah yang ada di tengah-tengah selangkangannya. Ada rasa hangat yang dirasakan Lina muncul dari dalam tubuhnya. Rasa panik melihat lintah yang tadi dirasakan Lina kini berubah menjadi sedikit rasa semangat dan gairah. Pandangan-pandangan liar para petani membuat Lina merasa dirinya begitu terekspos dan begitu ‘terbuka’ seolah-olah tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Pikiran liar pun singgah di pikiran gadis kota yang cantik jelita itu. Di dalam pikirannya, Lina membayangkan dirinya bugil sementara Dirman sedang memeriksa vaginanya (vagina Lina) sebelum digunakan beramai-ramai oleh para petani yang sudah tak sabar ingin menjejalkan alat kelamin mereka ke dalam liang sempit milik Lina. Tanpa sadar, kedua kaki Lina semakin terbuka lebar. Bukannya melepaskan lintah, tapi Dirman malah bengong, tatapan matanya fokus ke tengah-tengah selangkangan Lina yang ada tepat di hadapannya. Dirman ingin sekali merobek celana Lina, penasaran ingin melihat apa yang ada di dalamnya. Pastilah indah alat kelamin yang dimiliki seorang gadis cantik seperti Lina, pikir Dirman.
Otak Dirman pun kembali normal. Dirman membakar semua lintah yang ada di paha bagian dalam Lina.
“udah non…”, ujar Dirman.
“makasih, Bah…”. Lina mengelap sedikit sisa-sisa darah yang ada di pahanya.
“non Lina gak apa-apa?”, tanya seorang petani.
“iya gak apa-apa kok, Pak Abdul…”, jawab Lina sambil tersenyum.
“non bisa jalan?”.
“bentar, Bah…”. Lina limbung ketika menapakkan kedua kakinya dan mencoba berdiri. Dengan sigap, Dirman memeluk Lina agar Lina tidak terjatuh.
“kaki Lina sakit banget, Bah..”. Semuanya merasa iri dengan Dirman yang bisa memeluk dan memegang tubuh indah Lina.
“kalo gitu Abah gendong non Lina ampe rumah yaa?”.
“iya, Bah..”. Lina pun langsung nemplok ke punggung Dirman setelah Dirman jongkok. Lina pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Dirman.
“maaf ya non..”.
“iya, Bah..gak apa-apa kok..”. Dirman merapatkan kedua tangannya untuk menampung pantat montok Lina.
“semuanya, Lina pulang dulu ya..”.
“iyaa, non..moga cepet sembuh..”, jawab para petani seperempak yang sebenarnya sangat iri kepada Dirman.
“udah lama gak digendong Abah kayak gini..”.
“iya non..udah lama juga..”. Emang udah lama, tapi gak pernah seenak ini gendong lo, toket lo empuk banget, pikir Dirman. Payudara Lina yang masih terbungkus bh dan baju itu menempel erat di punggung Dirman sampai kelihatan menyatu dengan punggung Dirman. Meski agak bau sinar matahari, Lina merasa nyaman digendong Dirman sampai tak terasa tertidur, mungkin karena kelelahan juga.
“non udah nyampe..”.
“haa?? mm…”, ujar Lina sambil mengucek-ngucek matanya. Lina melepaskan rangkulannya di leher Dirman. Dengan bantuan Dirman, Lina pun bisa nyaman selonjoran di kasurnya.
“kaki non Lina masih sakit?”.
“iyaa nih, Bah…masih agak sakit..”.
“mau Abah pijetin kakinya?”.
“boleh, Bah..”.
“bentar yaa non, Abah pulang dulu..ambil minyak..”.
“iyaa, Bah..jangan lama-lama ya…”. Dirman keluar kamar, sementara Lina memikirkan peristiwa di sawah tadi. Tak pernah ia merasa begitu nakal dan begitu liar.
Rasa penasaran pun muncul di benak Lina. Entah darimana pikiran itu, tapi rasanya sekarang Lina ingin sekali melihat kejantanan Dirman. Meski sudah tua, tapi Dirman masih terlihat bugar dan kekar. Vaginanya terasa hangat dari dalam, seperti butuh sentuhan. Tangannya mengelus-elus daerah pribadinya sendiri.
“hmmm”. Sebuah batang yang hitam, besar, dan berurat terbayang di pikiran Lina. Semakin ‘gatal’ rasanya sehingga tangannya pun semakin aktif. Sebagai pemiliknya, Lina tahu kalau daerah intimnya perlu sentuhan. Lina pun menyusupkan tangannya ke dalam hotpantsnya.
“uuuhhhmmm”.
Usapan-usapan lembut pada bibir vaginanya sendiri terasa begitu ‘menenangkan’. Jari tengahnya naik turun tepat di tengah-tengah belahan bibir vaginanya. Lina pun memejamkan matanya, meresapi gerakkan jarinya. Gemas dengan rangsangan ‘lembutn’ya sendiri, Lina menyusupkan 2 jarinya masuk ke dalam liang vaginanya yang ‘panas’.
“eemmm…mmmm..”, 2 jarinya bergerak keluar masuk dengan penuh sensasi. Lina sadar ada sepasang mata yang sedang mengamatinya.
Lina membuka matanya. Dirman sudah ada di sebelah ranjangnya, sedang berdiri dan memandangnya. Bukannya berhenti, Lina malah mengeluarkan tangannya dan langsung menuntun tangan Dirman masuk ke dalam hotpantsnya.
“Baah, tolong Linaa…”, desah Lina dengan suara yang begitu menggairahkan dan begitu ‘memancing’. Dengan insting pria sejati yang berorientasi sex lawan jenis (normal), tanpa ragu-ragu Dirman mulai meremasi isi dari hotpants Lina.
“ooohh yeeaahhh disiituu Baah !!! teeruuss Baahh !! uuummhhh…”, Lina semakin menggila saat 2 jari Dirman mulai mengebor vaginanya. Tanpa ragu-ragu, tangan Dirman yang satu lagi merayap masuk ke dalam kaos Lina dan langsung meremasi payudara yang empuk nan kenyal yang ada di dalamnya.
“EEENNGGHHH !!!”, lenguh Lina panjang, tubuhnya menegang.
Dirman mengeluarkan tangannya. Tanpa di suruh, Dirman menarik hotpants Lina beserta celana dalamnya dan membuangnya ke lantai. Bagai mimpi, Dirman tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tak percaya dengan pandangannya, vagina kecil yang dulu sering ia sentuh dan ia cuci kini begitu indah, begitu menggiurkan. Tanpa ragu-ragu, Dirman menempatkan kepalanya di antara selangkangan Lina. Dirman membenamkan kepalanya di selangkangan Lina yang sangat wangi. Merasa ada yang menginvasi daerah pribadinya, secara alami Lina merapatkan kedua pahanya, menjepit kepala Dirman yang ada di tengahnya. Hidung Dirman menempel di belahan vagina Lina. Dirman menarik nafas dalam-dalam, menghirup ‘aroma therapy’ yang berasal dari vagina Lina. Beda sekali dengan punya istrinya yang bau amis. Memek cewek cakep emang beda, pikir Dirman.
Lidah Dirman pun menjulur keluar, menyentuh kelamin Lina.
“ehhh..”, tubuh Lina langsung bereaksi saat benda lunak dan hangat melakukan kontak fisik dengan alat kelaminnya.
Dengan rakusnya, Dirman melahap vagina Lina habis-habisan. Tak henti-hentinya, lidah Dirman menyapu setiap jengkal dari daerah segitiga majikannya yang cantik itu. Mungkin hanya kali ini bisa merasakan vagina yang seharum dan seenak ini, pikir Dirman. Lidahnya terus menggali, menggali, dan menggali lebih dalam lagi ‘tambang’ yang ada di hadapannya sehingga Lina pun menggeleng-gelengkan kepala, menggeliat-geliat, kedua pahanya semakin menjepit kepala Dirman.
“oooohhhh !!! teeruuusshhh Baaahhh !!!! makan memek Linaa seepuaasnyaaaa !!!!”, teriak Lina lepas, tak terkontrol.
“iyaaaa Baahh !! jilatin memek Linaa !!! memek Linaa punya Abaaahhh !!!! ooohhhh !!!”. Mendengar perkataan-perkataan kotor yang keluar dari mulut gadis cantik seperti Lina membuat semangat Dirman berapi-api seperti prajurit yang bersemangat menghadapi perang. Lina menekan kepala Dirman agar lebih menempel dengan vaginanya.
“aaahh aahhh aaahh AAAAKKKHHHH !!!!”, Lina mengejang hebat, kedua pahanya menjepit kepala Dirman dengan sangat kencang, perutnya agak ke atas.
“ssrruupphhh !!!!”, Dirman tak menyia-nyiakan ‘sumber mata air’ Lina. Semuanya habis diseruput Dirman, cairan yang tertinggal di liang vagina Lina pun sampai tak ada karena terserap lidah Dirman yang masuk kembali.
Selesai meminum inti sari dari kelamin nonanya sampai terkuras habis tak bersisa, Dirman mengangkat kepalanya menjauh dari selangkangan Lina. Dengan sangat tergesa-gesa, Dirman membuka celana dan celana dalamnya sendiri. Kedua mata Lina langsung tertuju ke benda yang ada di tengah-tengah selangkangan Dirman. Benda itu terlihat begitu kokoh.
“masukkin, Bah…”, lirih Lina meminta Dirman untuk menyumpal vaginanya.
Kedua kaki Lina terbuka dengan sangat lebar, Lina juga menyibakkan bibir vaginanya sendiri untuk mengundang burung Dirman agar segera masuk ke dalam. Tanpa perlu disuruh, pucuk penis Dirman pun sudah mencium lubang vagina Lina.
“masukkin, Baah..”, pinta Lina dengan melirih. Dirman memajukan pinggulnya perlahan, kepala penisnya mulai mendobrak masuk ke dalam liang kewanitaan Lina.
“heemmhhh….”, Lina merasa bagian bawah tubuhnya benar-benar penuh, penuh sesak dengan batang besar milik Dirman yang semakin masuk ke dalam.
Sensasi yang belum pernah dirasakan Dirman, batangnya terasa begitu terjepit dan terasa seperti diurut dan dipijat. Seluruh batang Dirman telah tertancap di dalam liang vagina Lina dengan sangat kokoh. Dirman tak bergerak, diam sejenak untuk menikmati liang vagina Lina yang begitu hangat dan begitu sempit. Dirman merasa penisnya seperti dicengkram dengan sangat kuat oleh dinding vagina Lina. Belum lagi rasa hangat yang menyelimuti penisnya. Desahan-desahan pelan mengalun lembut dari mulut Lina saat Dirman mulai menggerakkan tongkatnya. Dirman agak kesusahan menarik dan juga mendorong penisnya, rasanya liang rahim Lina terlalu sempit. Tapi dengan penuh kelembutan, Dirman terus berusaha memompa penisnya dengan perlahan.
“oohh ooouuhh uummhh..iyaa, Baahh !! enaak, Baahh !!!”, racau Lina merasa nikmat yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya.
Dirman terus ‘menggasak’ liang vagina Lina. Menyodoknya dengan penuh perasaan namun cukup kuat untuk membuat Lina tersentak-sentak.
“ookkhh…ookkhh..ookkhh…”, Lina mengerang keenakan saat Dirman menyodok vaginanya sampai mentok.
Si pria tua itu terus menggenjot dengan ritme pelan agar si gadis cantik yang sedang digenjotnya bisa membiasakan diri terlebih dulu. Kedua tangan Dirman pun menangkup dan menggenggam ‘kemasan susu’ Lina. Meremasi payudara Lina yang terasa sangat empuk dan kenyal itu. Kaki Lina pun melingkar erat di pinggang Dirman. Keduanya masih mengenakan kaos, tapi alat kelamin mereka sudah menyatu. Berpikir Lina sudah mulai terbiasa, Dirman mulai mempercepat genjotannya.
“OOOUUHHH !!!”, Lina mengeluh panjang lagi, gelombang orgasme melanda tubuhnya.
“hhhh…”, nafas keduanya menderu-deru, bulir-bulir keringat Dirman jatuh membasahi tubuh Lina yang juga tak kalah basah oleh keringat. Kedua insan itu bercinta dengan sangat bergairah, begitu menggelora. Desahan-desahan penuh kenikmatan keluar dari mulut keduanya. Keduanya saling berpelukan dengan erat sementara alat kelamin mereka terus bergesekkan semakin cepat dan tanpa henti.
“ooh ooohh OOOKKHHH !!!!”, erang Dirman melepas orgasmenya.
“BAAAAAHHH !!!”, Lina juga mengerang lepas. Keduanya sama-sama meraih puncak kenikmatan yang mereka bangun bersama-sama. Rasa hangat dan becek terasa oleh Lina di liang kewanitaannya. Mata Lina sayup-sayup, semakin tak jelas pandangannya. Rasa lelah karena di sawah hampir seharian ditambah habis digempur pria tua dengan ‘senjatan’ya yang bukan main membuat Lina tak bisa menahan rasa kantuknya. Dia pun tertidur tanpa memikirkan batang Dirman yang masih ‘menyangkut’ di vaginanya. Saat Lina terbangun, Lina mendapati dirinya sudah berselimut. Lina pun membuka selimutnya. Lina tersenyum saat melihat cairan putih yang meleleh keluar dari vaginanya. Lina bangun dan membuka kaos beserta bhnya lalu menuju kamar mandi.
“aah segeerrr…”. Air dingin mengucur dari pancuran membasahi tubuh indah Lina.
Dia mengambil shower dan menyemprotkan air ke daerah intimnya untuk membersihkan alat kelaminnya yang telah ‘dinodai’ Dirman. Lina menyabuni setiap jengkal dari tubuhnya. Tubuh Lina pun kembali segar dan wangi. Lina melilitkan handuk ke tubuhnya yang basah. Handuknya yang bisa dibilang kecil hanya bisa menutupi payudara sampai 5 cm di bawah ‘lembah’ miliknya. Saat dia duduk di kursi meja rias, handuknya pun terangkat saking pendeknya.
“kruuukk…”. Perut Lina pun berbunyi kencang. Perutnya keroncongan, minta diisi dengan makanan.
“aduuh..pantes aja gue laper banget..udah jam segini…”. Lina pun mengambil hpnya dan menghubungi nomor rumah Dirman.
“halo, siapa ini ?”.
“ini Lina…ini Mbok Minah bukan ?”.
“ooo yaa ampun !! neng Lina ??! apa kabar ? iyaa, ini Mbok Minah”. Lina dan Mbok Minah pun berbicara lewat telpon bagai 2 orang sahabat yang sudah lama tak bertemu.
“oh iyaa, Mbok..Abah ada ?”.
“iyaa ada, neng…kenapa ?”.
“Lina laper banget nih, Mbok..”.
“oh, iya neng, iya neng..nanti Mbok suruh Mas Dirman nganter makanan ke neng…”.
“masakan Mbok kan yaa ?”.
“iyaa, neng..”.
“asiiik ! jangan lama-lama ya, Mbok..”.
“iyaa, neng..”.
“oh iyaa..kaki neng Lina udah agak mendingan ?”. Lina pun menggerakkan kakinya dan berdiri, rasa sakitnya sudah hilang meski masih agak ngilu sedikit.
“udah nggak, Mbok…dipijitin Abah sih…”.
“iyaa, kata Mas Dirman, neng Lina sampai ketiduran gara-gara dipijit kakinya”.
“iyaa, Mbok..habis enak siih..”, ujar Lina senyum-senyum sendiri. Bukan ketiduran gara-gara dipijet, tapi gara-gara disodok-sodok, pikir Lina.
“yaudah ya, Mbok…jangan lama-lama makanannya..hehe”.
“beres, neng..”. Lina menyudahi pembicaraannya. Lina baru sadar kakinya sudah agak mendingan, tidak terlalu nyeri seperti sebelumnya.
“pasti Abah mijitin kaki gue pas gue tidur”, ujar Lina berbicara sendiri. Meski kakinya terasa agak mendingan, tapi ada bagian lain yang terasa lebih ngilu yaitu daerah selangkangannya. Tapi, rasa ngilu itu tidak terlalu terasa karena Lina sedang duduk. Lina bersenandung sambil terus menyisir rambutnya. Entah darimana, Lina merasa senang sekali, tak sabar menantikan kedatangan Dirman. Lina hanya tahu satu hal, Dirman adalah satu-satunya pria yang mampu memberikan kepuasan batin yang begitu maksimal dari semua laki-laki yang tidur dengannya. Tubuhnya benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus sawah ayahnya itu. Meski selangkangannya jadi terasa agak ngilu, Lina ingin sekali merasakan sensasi sodokan-sodokan Dirman lagi. Terngiang-ngiang sensasi nikmat dari sodokan penis Dirman membuat Lina semakin tak sabar menunggu pria tua yang tadi telah menyetubuhinya itu.
“tok tok tok !!”.
“iyaa sebentar !!”, jawab Lina dengan agak berteriak.
“adu duu hh..”, rasa ngilu terasa di pusat daerah intimnya saat dia ingin berjalan cepat menuju pintu. Lina pun berjalan pelan dengan kaki agak terbuka dari biasanya.
“eh, Abah…udah Lina tungguin dari tadi..”.
“iya..aa, non..maaf lama..”, Dirman merasa jadi canggung berhadapan dengan majikannya apalagi hanya handuk mini yang melilit di tubuh Lina. Ekspresi wajah Lina tak kelihatan kesal atau marah malah kelihatan senang.
Masih segar ingatan Dirman akan tubuh indah Lina yang tak tertutup apa-apa sehingga Dirman memandang Lina seolah tembus pandang, tahu bagaimana bentuk dan setiap lekuk tubuh Lina meski tertutup handuk.
“ayo, Bah..Lina udah mau mati nih…hehe..”. Dirman pun langsung ke dapur dan segera kembali dengan piring penuh dengan nasi. Lina yang duduk di kursi meja makan pun langsung menerima piring dari Dirman dan langsung menuang berbagai lauk yang ada di rantang yang tadi di bawa Dirman ke beberapa piring kosong yang memang sengaja disediakan di atas meja makan.
“ayo, Bah..kita makan yuuk…”.
“gak usah, non…non Lina aja yang makan..”.
“ayoo dong, Bah…kita makan bareng..masa Lina makan sendirian..”.
“ng..nggak usah, non..”. Dirman benar-benar merasa tak enak kepada Lina. Padahal tadi dia telah mengambil keuntungan dari tubuhnya dan memperkosanya, tapi kenapa majikannya masih tetap baik malah seperti tak terjadi apa-apa, pikir Dirman.
“ayoo dong, Bah…kalo Abah gak makan, Lina marah nih..”, ujar Lina dengan nada agak manja.
“i..i..iya deh non..”. Dirman pun pergi ke dapur untuk mengambil nasi dan ikutan makan dengan Lina. Gadis cantik itu makan dengan lahap.
“aahh kenyaaang !!!”. Dirman tak berani menatap mata Lina, rasa bersalah dan takut gara-gara peristiwa itu meski Lina tak menunjukkan ekspresi marah.
“non Lina..”.
“iya, Bah ?”. Dirman langsung sujud di kaki Lina.
“maaf..maafin Abah, non…Abah bener-bener minta maaf..Abah rela dipecat, non…tapi tolong jangan laporin Abah ke polisi…”, pinta Dirman memelas dengan nada suara orang yang hampir menangis.
“diri, Bah…”, ujar Lina sambil berdiri. Dirman benar-benar takut akan dilaporkan ke polisi oleh gadis cantik yang ada di hadapannya karena telah memperkosanya. Dirman berdiri dan memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk memandang mata Lina.
“gak apa-apa kok, Bah..”, jawab Lina dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
“ha ? apa, non ?”, jawaban yang sama sekali tak diduga-duga membuat Dirman menjadi bingung.
Sambil tersenyum, Lina membuka lilitan handuknya. Handuk itu pun langsung lolos turun ke bawah. Tubuh telanjang Lina tepat berada di depan Dirman.
“iya, Bah..Lina gak marah kok…”, jawab Lina, nada suaranya begitu manja, seperti seorang istri yang sedang ingin bermanja-manjaan dengan suaminya.
Dirman masih tak percaya, semuanya berjalan terlalu lancar bagaikan mimpi saja, Dirman sama sekali tak pernah membayangkan keadaan ini dimana dengan keadaan sadar, Lina telanjang bulat di hadapannya.
“non Lina bener-bener gak marah ?”. Lina tersenyum, dia menuntun kedua tangan Dirman ke belakang tubuhnya dan menaruh di bongkahan pantat kanan dan kirinya lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Dirman.
“beneer, Abah…malaahh…”, nada suara Lina kini berubah menjadi sangat ‘memancing’. Lina mendekatkan bibirnya ke kuping Dirman.
“kalau Abah mau lagi..Lina gak keberatan kok..”, bisik Lina menggoda. Ucapan yang terlontar dari mulut Lina terdengar begitu merdu di telinga Dirman, seperti nada-nada lagu yang sangat indah.
“bener, non ?”, Dirman masih tak percaya padahal jelas-jelas kedua tangannya menggenggam pantat montok gadis cantik itu.
“Abah masih gak percaya ?”. Tanpa ba-bi-bu, Lina menempelkan bibirnya ke bibir Dirman yang agak hitam.
“eeemmhh..emmhhh..ccpphhh”. Keduanya saling pagut, saling bergantian melumat dan menghisap bibir satu sama lain. Memang beda rasanya jika cipokan dengan gadis yang masih muda dan sangat cantik, bibirnya terasa lembut dan seperti ada rasa buah anggur di bibirnya, pikir Dirman. Lina pun tak bergerak membiarkan bibirnya dipagut, dilumat, dihisap, dan dikulum habis-habisan oleh pria tua yang ada di hadapannya sekarang. Sesekali Lina menjulurkan lidahnya untuk menjadi ‘makanan’ Dirman. Enak sekali rasanya mencumbu bibir yang begitu lembut dan empuk sampai Dirman tak mau berhenti melumat bibir Lina untuk waktu yang cukup lama. Lina pun tak berusaha melepaskan diri, dia begitu meresapi dan menikmati cumbuan Dirman bahkan sampai memeluk Dirman dengan sangat erat bagai memeluk kekasihnya saja. Tangan Dirman pun sudah mulai beraktifitas. Asik sekali Dirman meremas-remas kuat bongkahan pantat Lina yang ada di genggaman tangannya. Tabokan dan cubitan pun dilayangkan Dirman ke pantat Lina yang memang empuk, sekel, padat, dan kenyal sehingga tak heran kalau Dirman jadi begitu gemas dibuatnya. Ternyata ini arti mimpinya kemarin, mimpi ketiban durian runtuh. Dirman kira itu artinya dia akan mendapatkan rejeki nomplok, tapi rupanya bidadari nomplok. Tak ada rezeki yang lebih baik dari sex gratis dengan gadis muda nan cantik yang mau disetubuhi dengan senang hati tanpa paksaan sedikit pun, pikir Dirman. Dirman pun menarik bibirnya setelah sangat puas mencumbu Lina.
Keduanya megap-megap kekurangan oksigen. Lina dan Dirman saling menatap mata satu sama lain. Pandangan mata Lina adalah pandangan wanita yang sudah ‘on fire’, siap untuk digempur habis-habisan. Pandangan mata Dirman pun menunjukkan kalau dia sudah tak sabar ingin merengkuh kenikmatan dari tubuh gadis cantik yang ada di hadapannya. Tak sabar ingin menggeluti tubuh indah Lina untuk kedua kalinya, tidak, mungkin sampai 3x, tidak, pokoknya sampai burungnya tak mampu lagi berdiri dan persediaan sperma di kantung zakarnya habis tak bersisa. Sementara itu, telah terjalin suatu chemistry antara alat kelamin Lina dan Dirman. Vagina Lina seperti kutub utara sementara burung Dirman bagai kutub selatan yang membentuk medan magnet yang membuatnya saling tarik menarik dan ingin bertemu. Vagina Lina tak sabar ingin merasakan panjang dan diameter dari tongkat Dirman dan penis Dirman tak mau menunggu lagi untuk merasakan kehangatan dan sempitnya celah kecil yang ada di tengah-tengah selangkangan Lina. Karena sudah mengantongi izin, Dirman langsung menggendong Lina dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tak beberapa lama kemudian, bunyi ranjang yang bergerak-gerak serta desahan, lirihan, dan rintihan keduanya pun terdengar dari dalam kamar. Hanya ada mereka berdua di dalam rumah itu sehingga mereka bisa mengekspresikan kenikmatan yang sedang mereka rasakan sesuka hati. Entah berapa jam sudah Lina dan Dirman berada di dalam kamar. Keduanya tak keluar-keluar kamar sedari tadi. Bahkan turun dari ranjang pun keduanya tak mau. Bagai malam pertama, Lina dan Dirman layaknya sepasang pengantin baru yang sedang bersetubuh dengan penuh gairah dan nafsu yang sangat menggelora. Dirman merasa nafsunya tak menurun malah semakin naik melihat Lina yang terkulai pasrah di hadapannya. Lina pun merasa puas, senang, dan ingin lagi dan lagi untuk disetubuhi Dirman. Sodokan-sodokan Dirman benar-benar membuat Lina mabuk dalam kenikmatan.
“non Lina…”, bisik Dirman yang sedang memeluk Lina dari belakang karena sedang istirahat.
“iyaa, Bah ?”, jawab Lina dengan nada manja.
“boleh minjem telpon sebentar ?”.
“iyaa, Bah..ada di meja rias..”. Dirman pun turun dari ranjang dan mengambil hp Lina.
“halo, Mbok ?”.
“halo, ini siapa ?”.
“ini Mas, Mbok”.
“oh Mas Dirman, ada apa ?”.
“Mas nginep di rumah non Lina..dia takut sendirian..”.
“oh ya udah..inget Mas, jangan macem-macem ama neng Lina..”.
“iya, Mbok..”. Dirman pun menutup telpon dan menaruhnya kembali di tempat semula.
“iih..Abah boong ke Mbok..”, ledek Lina.
“hehe…bosen tidur bareng Mbok..enakan tidur ama non Lina…”.
“iih Abah porno iih..”.
“hehe…”. Dirman pun memandangi Lina. Tubuhnya berkemilauan terkena cahaya karena keringat ditambah air liur Dirman. Belum lagi selangkangan Lina yang belepotan sperma pria tua itu. Tak disangka, gadis kecil yang dulu dijaganya kini berubah menjadi wanita yang sangat cantik dan begitu montok. Dirman pun merasa dia sedang mengambil haknya, upahnya untuk mengambil keuntungan dari tubuh Lina yang dijaganya.
“Abah kok ngeliatinnya gitu sih?”, Lina pura-pura menutupi kedua buah payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya.
“hehe..pake ditutupin segala, non…”. Lina pun tersenyum dan membuka kedua tangannya ke atas seperti orang yang sudah siap dipeluk.
“sini, Bah…”, ajak Lina dengan sangat menggoda yang sudah siap ‘menerima’ Dirman.
Tak perlu dipaksa, Dirman langsung menomplok Lina dan menggumuli gadis cantik itu sampai larut malam, sampai staminanya habis dan tongkatnya tak mampu berdiri lagi, habis sudah persediaan spermanya seperti niat Dirman pada awalnya. Keduanya tidur dalam berpelukan, tidur mereka benar-benar pulas karena kecape’an, tapi ekspresi wajah mereka menunjukkan kepuasan yang tiada tara. Hari-hari dilalui Dirman dan Lina dengan penuh kebahagiaan dan penuh kesenangan. Lina pun memutuskan untuk memakai pakaian seperti ibu-ibu petani lainnya agar benar-benar meresapi menjadi ibu petani. Pagi-siang Dirman melakukan kewajibannya untuk mengajari Lina. Sore-malam Dirman meminta haknya kepada Lina yang dengan senang hati melakukan kewajiban lainnya dari ibu petani yaitu memberikan tubuhnya kepada bapak petani, yang tak lain dan tak bukan adalah Dirman, untuk ‘digarap’ sesukanya.
“iih, Abah…maen ngintip aja..”, canda Lina saat Dirman membuka lipatan kain Lina untuk melihat isinya.
“hehe…Abah pengen liat aja..”.
“tapi jangan di sini, Bah..ntar keliatan orang..”.
“iyaa deh non..hehe..”. Dirman benar-benar senang mengusili Lina karena Lina tak pernah marah meskipun dia sering iseng menyelipkan tangan ke dalam baju dan kain Lina untuk menyentuh ‘onderdil’ gadis cantik itu saat sedang istirahat di saung. Tak ada yang tahu kegiatan mereka berdua selain di sawah. Hanya handycam Lina yang menjadi saksi bisu yang meliput kegiatan Lina di sawah dan aktifitas panasnya di ranjang bersama Dirman. Lina pun tak sabar ingin menunjukkan rekamannya kepada teman-temannya yang sama ‘gila’ dengan dirinya.
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini
Five Filters featured article: Into the Abyss. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.
Antara Kenangan dan Kenyataan 2: Far Beyond the Sun
June 8th, 2010Message from Five Filters: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.
Attention :
Cerita ini merupakan sekuel dari Antara Kenangan dan Kenyataan 2, atau bisa juga disebut Antara Kenangan dan Kenyataan 2 1/2. Met baca, enjoy ajaa ^o^.
[Sambungan dari bagian 2],
Shekti, Joyce & aku, Novy
Pagi itu, aku sibuk mengepak barang. Kami bertiga sepakat liburan untuk hilangkan stres di pulau Bidadari. Disana ada penginapan mewah milik Joyce, kami ingin gunakan kesempatan liburan pergi bersenang-senang sepuasnya. Aku menyiapkan pakaian renang minim, bisa dibilang hanya CD dan Bra sih. Kegiatan kami pasti akan penuh dengan berenang, disamping memang hobi. Oleh sebab itu, tidaklah heran jika tubuh kami bertiga tak ada yang pendek. Kukenakan tank top merah jambu. Joyce pasti warna favoritnya hitam, ciri cewek horny. Sedangkan Shekti biru muda kesukaannya. Tak lupa, kami lingkarkan syal di leher, bandana serta anting-anting bundar sewarna pakaian. Dipadu dengan bawahan rok jeans pendek abu-abu. Kekontrasan warna pakaian dan accesoris dengan kulit menambah pesona kami, membuat kaum pria menoleh hingga leher mereka keseleo ^o^.
Din, diiiinn !, klakson mobil memanggil.
“Oi, Nov…cepetan !” teriak Joyce.
Aku tahu dari suara cemprengnya, Shekti lebih lembut. Aku pamit pada kedua ortu, dari raut wajah mereka terlihat sedang kesulitan. Memang usaha Join Papahku dimasa transisi Pailit. Laba (keuntungan) perusahaan, tidak cukup menutupi hutang di Bank. Mamah menyapu air mata di pipinya. Kuusap-usap punggungnya, coba tenangkan wanita yang mengandungku itu. Seharusnya aku hanyut dalam derita keluarga, bukan berpesta pora tinggalkan mereka. (Maafkan anakmu Papah Mamah, aku anak yang tidak berbakti. Hanya bisa bersenang – senang, lupakan bakti diri terhadap orang yang bersusah payah membesarkanku sejauh ini), batinku menatap lautan, kini.
“Nov, hati-hati di jalan…jangan lama-lama ya, Mamah kangen” kata Mamahku ter-Cinta sambil menyium kedua pipiku, beliau meneteskan air mata, basahi pipi kami berdua.
Tak sanggup, air mataku pun ikut menitik. Aku hanya bisa membalas dengan ciuman panjang di pipi beliau, sebagai tanda sayangku padanya. Kukecup keningnya, Papahku pun juga kucium demikian. Setelahnya kulambaikan tangan sebagai tanda perpisahan, pergi tinggalkan mereka dalam kepusingan.
Jetfoil
Lewat beberapa kilo, aku masih saja termenung di dalam mobil. Shekti dan Joyce yang tahu tentang keadaan ekonomi keluargaku memakluminya. Mereka coba menghibur agar suasana perjalanan tidak terganggu. Kadang mereka benar, jika terus dipikirkan tanpa solusi yang jelas hanya akan menyiksa diri, meski kami juga tidak membenarkan apa yang kami lakukan.
“Oi, ngomong-ngomong kita mau dientot siapa nih…ga ngajak bokin-bokin kita ?” kata Joyce asal sambil memutar kemudi, pecahkan suasana sunyi diantara kami. Aku tersenyum dengar kata-kata spontannya, mereka senang melihatku kembali cerah.
“Yaa, ‘nti juga dapet…masa sih ga ada yang mau memek gratis, cantik lagi yang punya” jawab Shekti narsis, mengibas rambut panjang indahnya kebelakang.
“Huuw, bolehnya GR !” sahut Joyce. Aku pun melepas tawa, larut dalam indahnya tali persahabatan.
“Abis, bosen gw dientotin Ismet gendut mulu…kenyang tiap hari disuruh nelen pejunya yang asin, Hueeekk !” kelakar Shekti.
Kami tertawa renyah, karena juga sudah terbiasa curhat seks bersama mereka, aku ikut berbicara tentang bagaimana Mang Udeng mengerjaiku. Joyce tak mau kalah, bercerita tentang Pak Martaba yang tergila-gila dengan toketnya. Tak terasa berbincang seputar seks, kendaraan kami tiba di Ancol. Siap menyebrang ke pulau Bidadari dengan Jetfoil mini milik Joyce. Kami bertiga naik ke kapal itu, disambut sang Kapten dan beberapa ABK dengan ramah.
***
Semilir angin laut berhembus menerpa wajah, membelai lembut rambut. Aku termenung di sisi kapal. Menatap dalamnya laut dan cakrawala yang terhampar. Dataran tanpa ujung, lautan tak terlihat dasar serta langit yang tak bertepi.
“Nov, bejo lu ya hihihi” ledek Joyce.
“Ih, enak ajaa…“.
Mereka berdua menghampiriku, sudah ganti celana dengan rok pantai warna putih corak kembang, tipis tembus pandang. Dimana belahannya jika tersingkap bisa terlihat celdam si pemakai. Atasan tetap tank top berdada rendah. Kaca mata hitam menghias wajah Indo mereka, makin memukau mata yang memandang. Harus kuakui kedua sahabatku itu memang luar biasa cantik, aku saja wanita terpesona dibuatnya.
“Heh, kenapa lu ngeliatin gw gitu ? jangan-jangan…”, Joyce curiga karena kutatap terus tubuh seksinya.
“Yee, enggak-lah yau…enak aja !” tepisku, dituduh lesbi.
Kami pun tertawa riang, menatap lautan bersama sambil berbincang. Canda tawa buatku terhenyak lupa akan masalah sejenak. Aku juga beranjak ganti pakaian agar seirama. Dalamannya kupakai CD dan bra renang. Agar saat tiba di lokasi dimana bisa berenang langsung bisa menyelam. Selesai berganti pakaian, kupamerkan pada mereka.
“Gimana Jo..Ti ?” tanyaku, gaya bekacak pinggang bagai Model catwalk.
“Wuiiiiizz…dahsyat !” ujar Shekti.
“Iya ya, keren abis…sumpah !” timpal Joyce.
“Ma’acih…”, aku GR dengar pujian mereka.
“Ada bakat Nov…” kata Joyce lagi.
“Model-kah ?”.
“Bukan, pemain bokep hihihi”.
“Huuh…nyebelin !”, aku gemas karena gagal GR, ternyata pujian palsu.
Langsung kucubit lengan Joyce, dia berlari kecil, aku mengejarnya. Kami tertawa-tawa berlari mengitari kapal. Para petugas Jetfoil yang diperkerjakan Ayah Joyce ikut tertawa lihat kelakuan gadis ABG anak majikannya. Shekti ikut mengejar dari belakang, hingga makin ramai saja permainan kejar-kejaran kami. Saat Joyce berhasil tertangkap, langsung kutindih dia. Kukelitik pinggang rampingnya, Shekti memperlakukan hal sama padaku, main kelitik-kelitikan deh ^o^. Setelah merasa lelah, kami tidur berderet di Palka kapal. Menatap langit biru dan indahnya iring-iringan putih awan.
“Eh…gw kok ngerasa, kita ini udah kayak sodara yah ?” tukas Joyce.
“Iya” sahutku dan Shekti bersamaan.
“Mana sama-sama anak tunggal lagi yah” kata Joyce lagi, aku dan Shekti kembali menyahut kompak.
“Mm, gimana kalo…kita kaya di film-film kungfu gitu ?” usul Shekti.
“Film kungfu gimana ?”, aku tak mengerti.
“Yaa, kita bikin sumpah gitu…jadi sodara angkat, gimana ?”.
“Mm, boleh…lebih kentel dari sahabat, iya gw juga pernah lihat tuh di film Mandarin jadul di Tv ga sengaja” sahut Joyce.
“Ok deal, kalo gitu…kita mulai aja yuk ?”, Shekti bangkit dari rebahan.
Aku dan Joyce menyusul setelahnya, “Nah, kita orang berlutut…”. “Biar indahnya laut menjadi saksi atas sumpah kita !” lanjut Shekti.
“Ok !” jawabku dan Joyce serentak, kami melutut, bergenggaman jemari.
“Sip Jo, lu mulai duluan…coz lu yang paling tua diantara kita !” tandas Shekti.
“Ok, gw mulai !”, genggaman mengeras, jantung berdegup kencang.
Entah kenapa terasa seperti itu, kurasa bukan hanya aku yang mengalaminya. Joyce dan Shekti pasti merasakan hal yang sama, karena tangan terasa erat tapi bergetar. Menanti moment sebuah ikatan suci, tanggung jawab yang lebih dari persahabatan, Kakak beradik.
“Wahai lautan…di hadapanmu, kami ingin utarakan sebuah hal. Aku Joyce, disebelah kananku Shekti, dan di kiriku Novy…bersumpah untuk mengikat tali persaudaraan. Berharap engkau menjadi saksi. Dimana pun kami berada, walaupun jarak memisahkan kami bertiga…andaikan pula kami tidak berada dalam satu tempat yang sama…kami tetap Kakak ber-Adik. Aku, Joyce Johansen…bersumpah setia menjadi kakak pertama, bagi Shekti Oktaviana dan Novy Andiny. Terima semua keluh dan kesah mereka…siap membimbing dan dibimbing !” sumpah Joyce.
“Aku, Shekti Oktaviana…bersumpah setia untuk menjadi adik bagi Joyce Johansen, dan kakak bagi Novy Andiny. Terima semua bentuk keluh dan kesah mereka, siap dibimbing dan membimbing !” sumpah Shekti.
“Dan aku Novy Andiny…bersumpah setia untuk jadi adik mereka, Joyce Johansen dan Shekti Oktaviana. Terima semua bentuk keluh kesah mereka, siap untuk dibimbing dan membimbing !” sumpahku.
“Kami bersumpah, mengikat tali persaudaraan…bersama dalam suka dan duka !” ucap kami serentak.
Rasa canggung pun menyelimuti, terasa sekali formalnya. Kubuka pembicaraan berusaha alih kembangkan perasaan.
“Mm terus…gimana manggilnya ?” kataku memulai, tampaknya dipertanyakan juga oleh mereka.
“Yah gimana, kalo menurut gue sih kaya biasa aja…yang penting sumpahnya khan ?” kata Joyce.
“Ya udah boleh manggil De or Kak kalee, musti direalisasiin dong…khan itu bukti rasa sayang. Ibarat peraturan cuma dibuat tapi ga dijalanin percuma juga Kak !” ujar Shekti, kusetujui dengan anggukan.
“Ok deh, apa tadi barusan…kata lu ‘De ?”.
“Apaan Kak ? yang mana ?”.
“Itu tadi, bukti rasa sayang ?”.
“Mmm, iya ?”, Shekti menjawab singkat karena tidak mengerti maksud Joyce.
“Sayang kaya gini, MmCuph !”
Joyce menyium pipi Shekti penuh kasih sayang, Shekti tidak mengelak dicium Kakak angkat barunya. Pemandangan itu buatku iri, wajahku merengut berat karena ingin di sayang dan dicium juga oleh mereka.
“Uuuh, mauuuu !” manjaku, bibirku manyun dengan kedua tangan mengepal.
“Ade mau juga ?” ledek mereka, aku mengangguk.
“Ya udah, niih.MmCuph !”. Mereka mencium pipi kiri dan kananku bersamaan, (Uuh senangnya ^o^).
“Ciuman buat Kakak mana ?”, todong mereka, akupun langsung cekatan menyium pipi mereka berdua.
“Wah-wah, mau dong ikut cium-ciuman hehehe”, ledek sang Kapten yang tampan.
“Weeek !”, Joyce meleletkan lidah padanya, disambut gelak tawa semua orang yang ada di sekitar kapal. Dia menarik lenganku dan Shekti ke kabin dalam dimana terdapat kasur empuk untuk rebahan.
“Kak, petugas di kapal ini ganteng-ganteng yah” kata Shekti.
“Mm, gitu deh…kenapa, mupeng ya dientot mereka hihihi”.
“Iiiih, ga-lah…enakan sama orang kaya Pak Ismet, lebih brutal hihi”.
“Iya, lagi juga pada hormat banget sama Bokap…jadi pada ga berani macem-macem gitu sama Kakak” terang Joyce.
“Yaah, kasian…berarti Kakak mupeng juga tuh, dimacem-macemin sama mereka hihihi” aku meledeknya.
“Nakal ya Adeku satu ini, Awas !” ancamnya, pinggangku digelitiknya.
Aku langsung tertawa kegelian, kubalas dia, Shekti pun ikut dalam permainan itu, main kelitik-kelitikan lagi deh ^o^. Lelah bercanda, kami bertatap-tatapan. Tiba-tiba aku dikagetkan jari-jari Joyce yang menangkup daguku. Dia menariknya hingga wajah kami berdekatan, adu mulutpun terjadi. Kupagut bibir Joyce, kami bertukar liur, telusuri panjang bibir dan saling emut-emutan lidah. Shekti yang iri ingin bergabung, mencucup pertemuan lidahku dengan lidah Joyce.
“Mmh, Aahhhh !” desah Joyce, saat kugigit kecil lehernya.
“Emmfhh…!”, aku bergumam, Shekti mencupang leherku.
Desahan Shekti menyusul setelah Joyce mencupang lehernya. Kami saling menggigit dan menjilat lembut. Variasi yang buat leher merah terbasuh ludah, sebuah moment yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Lidahku berpetualang ke leher Joyce, menuju wajah Indonya lalu kembali adu mulut. Dia mengemut daguku, kubalas dengan kecupan di hidung mancung khas Eropanya, dia balas cium pipiku. Shekti membaur dengan bibir tipisnya yang selalu terlapis lipgloss pink. Nafas kami sudah tidak teratur. Dengan nafsu yang menggelora, aku dan para sahabatku yang sudah resmi jadi Kakak adik itu menelanjangi diri sendiri. Secara, kami memang sudah sering telanjang bersama saat seks party. Nuts !, we’re naked !! three Angles in Love desire. Payudaraku dilahap Joyce, aku mendesah, mendesah dan terus mendesah. Lidah nakal Joyce yang bisa membuat pria tergila-gila lewat oralnya itu menggelitik putingku. Mulutku beradu dengan mulut Shekti, mata kami berdua bertatapan dengan seksi. Aku menggeser kepala menciumi payudaranya yang berfisik panjang, sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi. Dia sendiri tenggelam diantara belahan dada bulat Joyce. Jari-jari lentik kami yang terhias kutek berwarna favorit, ikut ramaikan rangsangan dengan rabaan dan pijatan di sekujur tubuh. Erangan mengeras dikala kami saling menancapkan jari pada liang vagina lawan tanding. Sampai-sampai berhenti mengemut. Mata sudah demikian sayu lantaran horny. Seandainya ada yang masuk, siapapun, mau memperkosa, pasti kami pasrah. Joyce menancapkan jarinya dalam-dalam pada vaginaku, aku menatap melas agar tidak terlalu dalam. “Aahhhhh…!” sekujur tubuhku bergetar merasakan nikmat.
Jariku mengusap-usap bibir kemaluan Shekti, kulampiaskan balasan padanya. Kutancapkan dalam-dalam jari di vagina, Shekti mengerang panjang. Dia balas perlakuanku pada vagina Joyce, menusuk dalam-dalam vaginanya, lidah Joyce terjulur mendesah lirih. Kami lakoni Lesbian seks berantai.
“M.Aahhhh, Yess…Kak Joiii.ii.i.i.icee, Ngghhh…jangan dalem…dalem, Plisshhh !” mohonku pada Joyce.
“Em.Aahhhh, De…a.ampunhh…jangan terla.lu…dalem.Aaaawh Sssh !” iba Joyce pada Shekti.
“De.Ahhhh…Ssshh, udah De.Aahhhh…udaaahhhh !” pinta Shekti padaku.
Semakin lama, tarik ulur jari semakin cepat, juga tertanam makin dalam.
“Hahhhh….Hahhhh…Hahhhh, Iyaa.ah…Iyaaaaaaahhh !”, kami orgasme bersama.
Erangan demi erangan berkumandang. Kenikmatan melanda, selubungi tubuh telanjang kami bertiga. Kejatan badan bagai tersengat listrik ribuan Volt, kami menjerit dengan jari masih menancap. Tubuh telanjang kami bertabrakan. Sebuah ledakan orgasme yang dahsyat. Untung saja ruangan privacy, sehingga suara yang menggelegar tidak terdengar keluar. Sehabis orgasme kami kelelahan, tidur bertumpuk badan dengan nafas tak beraturan. Aku memandangi jariku yang belepotan, kaget karena Joyce tiba-tiba mengemutnya. Dia jilati Jus cinta Shekti di jariku. Shekti meraih jari Joyce, mengemut Jus cintaku. Agar kompak, aku pun menjilati jari Shekti yang terselimut Jus cinta Joyce. Kami mirip bayi dengan dot botol susunya. Nafas mulai kembali teratur, Joyce mengatur posisi tubuh
(Oh, no…not again !), keluhku.
Sahabat sekaligus Kakakku ini betul-betul hypersex, padahal mereka masih terlihat lelah dari mata. Dia mengambil posisi wajahnya ke vaginaku, siap menjilat dengan penuh kasih sayang agar aku meraih kepuasan. Shekti mengambil posisi di selangkangan Joyce, sedangkan aku ke milik Shekti. Kami saling menjilat untuk memberi kepuasan. Bersama menuju surga dunia, terbang melayang melalui lengkingan nikmat orgasme. Lelah bercinta, kami tidur berdekapan, dilengkapi dengan senyuman.
***
Tok ! tok ! tok !, pintu kabin diketuk.
“Non Joyce, maaf…saya hanya ingin sampaikan pesan kalau kita sudah sampai !” kata orang di balik pintu.
Kami terbangun senang, meski masih ngantuk dan Waaw…! masih telanjang pula. Joyce yang paling bersemangat tadi tampak loyo, dengan jahil kukelitik pinggangnya agar dia bangun. Joyce kegelian, memejet hidungku sebagai buah kenakalan. Kukucek mata dan meregang, keluar dari kapal untuk menginjak daratan. Akhirnya, tiba juga kami di pulau Bidadari. Sangat indah, surga dunia. Udaranya alami dan segar, jauh dengan udara kota Jakarta yang penuh polusi. Kami melangkah ke penginapan milik Joyce. Disana pun disambut ramah oleh Manager dan staf penginapan, dibawa ke tempat istirahat khusus Owner (pemilik) yang telah disiapkan. Langsung showeran dan berendam di bath tub guna hilangkan bekas adegan, tentu sedikit lesbian karena telanjang tiga-an. Makan kue Tart sedikit, lantas keluar penginapan untuk jalan-jalan.
Pulau Bidadari
“Mas, kalo mau ke pulau itu gimana caranya ?” tanya Joyce pada salah seorang staf, menunjuk ke sebuah kecil yang hampir tak terlihat kasat mata.
“Oh, musti nyebrang pakai perahu…biasanya ada Bapak tukang perahu yang nyebrangin, tamu penginapan juga sering minta dianter keliling pulau sama dia. Tunggu aja, sebentar lagi mungkin dating…” jelas pria itu, senyuman memperlihatkan giginya yang tonggos.
“Iya deh, makasih Mas…”.
“Sama-sama. Maaf, ini…Non Joyce yah, anaknya Mr. Johansen majikan kami ?”.
“Ya iyalaah…”.
“Wah, dulu masih kecil pernah kesini…SD kalau ga salah, saya masih seumuran Raffi Ahmad waktu itu” kata Mas-mas tonggos itu buat kami tersenyum.
“Oya, udah lama dong Mas kerja disini ?”.
“Ya lumayan…”.
“Nama Mas siapa ?”, Joyce mengibaskan rambut mulai TP, jangan-jangan dia horny mau dientot si tonggos. Shekti *ehem-ehem* mengingatkannya agar jangan gila, coz kita juga bisa ikut nanti ^o^.
“Brandon !”.
“Puff !”, kami menahan tawa mendengarnya, takut dia tersinggung. (Brandon ? plis deh).
“Canda Non, hehehe…Badongo nama saya”.
“Hihi, kirain Mas serius ?”.
“Emang ga pantes yah ?”.
“Kurang masuk Mas sama mukanya hihihi”, si mas-mas tonggos tertawa, berarti dia tidak marah diajak bercanda meski dihina.
“Kalo gitu, aku panggil Bang Dongo aja ya ?”.
“Yah, jangan dong Non !”. “Abang dongoo…abang dongoo hihihi” ledek Joyce.
“Lho, kalo Mas Badongo khan aneh…kepanjangan…”.
“Iya deh, terserah…namanya juga majikan hehehe”.
“Berarti, kita nunggu disana ya Bang ?”, tunjuk Joyce ke pinggir laut.
“Iya Non, sebentar lagi kayanya si Bapak datang”.
“Ok deh, dah Bang Dongo…”, Joyce mencubit pipinya lalu kissbye.
Mas-mas tonggos bernama Badongo itu kaku tak bergerak, belum pernah seumur-umur diperlakukan seperti itu, apalagi oleh gadis Indo secantik Joyce. Waktu kami berjalan meninggalkannya, terasa sekali pantat dipelototi dari belakang. Sampai di tepian, kami sempat menunggu sekitar 5 menitan, BT juga sih. Namun tak lama, terlihat sebuah perahu beserta seorang Bapak-bapak di dalamnya. Pria berusia kisaran 35-40 tahun, tubuh gempal, memiliki kumis serta bibir tebal. Bapak itu terus-terusan memandangi kami meski perahu telah sampai di tepian.
Si tukang perahu
‘Kak-kak, lihat deh kumis si Bapak…De’ bayarin hihihi’ bisikku pada Shekti dan Joyce, mereka tutup mulut menahan tawa.
“Pak, kita mau ke pulau seberang…anter dong, bisa ? nanti kita bayar deh…” kata Joyce.
“Pulau yang mana Non ? disini banyak…”.
“Yang itu tuh…”, Joyce menunjuk ke salah satu pulau kecil.
“Oo, itu sih kosong Non…ga ada yang bisa dilihat”.
“Terus, apa isinya itu pulau ?”.
“Yaa, paling…hutan kecil, tanah kosong sama rumah Bapak hehehe”.
“Bapak tinggal disitu ?”.
“Iya Non gubuk, mending ke pulau sebelahnya aja” saran si Bapak.
“Owh, emang ada apa Pak disitu ?”.
“Ya mirip pulau ini, yang jelas berpenghuni…ga seperti pulau yang Bapak tempati itu” jelas si Bapak mengenai Pulau Sawi.
“O, ya sudah…kalo gitu…ke pulau Bapak aja !”. Aku, Shekti dan Bapak tukang perahu terkejut mendengarnya. Kukira Joyce akan bilang ke pulau satunya.
“Mau ngapain Non di sana ?”.
“Mau tahu aja Pak, kayak apa sih pulau tak berpenghuni itu” ungkap Joyce.
“…………”, si Bapak terdiam, lalu berkata.
“Kalau memang itu mau Non…mari saya antar”, Joyce berjalan menghampiri perahu, Aku dan Shekti bertatapan sesaat, mau tak mau ikuti kemauan Kakak angkat kami itu. Bapak tukang perahu menyalakan mesin. Wrrr, wrrrrrrrrrr…!!, dan perahu pun berangkat.
“Ini dayung buat apa Pak ? khan udah ada mesin pendorong ?” tanya Joyce terheran.
“Oh itu, bisa aja kan sewaktu-waktu mesin berhenti di tengah jalan, jadi ada dayung untuk giring perahu ke daratan” jelasnya, kami bertiga mengangguk.
Sesampainya di dekat pulau yang kami tuju, air terlihat jernih. Tidak terlalu dalam, pas untuk berenang. Joyce membuka rok pantai corak kembangnya, pamerkan tubuh indah sexy yang terbalut pakaian renang minim. Bapak tukang perahu mupeng melihat pemandangan yang tersaji cuma-cuma di hadapannya. Joyce telah terbiasa dengan ekspresi laki-laki seperti itu, cuek bebek memasang kacamata renang, lalu bertingkah gila membuat kaget kami semua.
“Bapak ngeliatnya nafsu amat…mau ini Pak ?”, Joyce menggeser bagian depan celana renang, tukang perahu sontak melotot.
Seusai pamer kelamin, dengan santainya dia terjang lautan, nikmati keindahan bening air. Aku dan Shekti hanya menggeleng kepala atas kenakalan Kakak angkat kami itu, lepas pakaian siap menyusul. Wajah si Bapak bagai anak kecil minta dibelikan mainan, ingin kami berlaku sama seperti Joyce tadi. Kami jadi iba, terpaksa mengabulkannya.
“Pak, kita juga mau berenang sebentar…duaduaah, Muach !” saat berucap ‘muach’, kami pamerkan vagina kami, seolah vagina yang berkata demikian. Liur si tukang perahu netes tak terbendung, matanya melotot seakan ingin memakannya saja.
Kutinggalkan dia dalam kemupengannya. Aku dan Shekti terjun ke laut menyusul Joyce. Main ciprat-cipratan, nyanyi sambil joget di atas batu karang dan lomba adu kuat tahan nafas, yang kalah kena dicumbu. Tukang perahu makin nepsong lihat kami lesbian, Joyce mengerlingkan genit sebelah mata, aku dan Shekti mempertontonkan ciuman lesbi super HOT. Puas renang dan bersenda gurau, kami balik ke perahu. Namun dikagetkan dayung yang terbentang, menghalangi kami untuk naik.
“Apa maksud Bapak ?” kata Joyce ketus, si Bapak cengengesan.
“Bapak pasti mau memek kita-kita khan ? Minta aja yang sopan, ga perlu pake kekerasan !” tambah Joyce, aku dan Shekti mendukung dengan wajah kesal.
“Betul Non, Bapak memang pengen ngegituin Non bertiga…tapi untuk selama-lamanya hahaha” kata tukang perahu itu.
(What ?!? just one fuck sih oke…but, jadi Budak…!?), batinku.
Kami semakin benci padanya, padahal tadi berniat kasih dia sekali-dua kali kecrot gratis.
“Oh iya, tadi Bapak belum bilang…kalau fungsi dayung satu lagi…buat antisipasi Hiu !”.
“HIUUU…?!!”, kami bertiga serentak kaget.
“Iya, Hiu hehehe”.
“Jangan nakut-nakutin dong Pak !” kata Joyce dengan wajah pucat, kami bertiga celingak – celinguk kiri kanan, takut yang dikatakannya benar.
“Ya memang ga selalu ada, tapi bukan ga mungkin…kali aja ada yang nyasar hehe” kata si Bapak menyebalkan, berhasil menambah rasa takut kami.
“Tolong Pak, kasih kami naik…kita kasih apa yang Bapak mau…” tawar Joyce dengan suara bergetar, kami merapat berpelukan.
“Ya itu tadi Bapak bilang…Bapak mau Non semua jadi milik Bapak selama-lamanya !”.
“Ga mungkin Pak, kalo Orang tua kita nyari gimana ?”.
“Bapak bikin laporan kalau perahunya bocor dan karam di tengah-tengah, terus jadi kehilangan Non semua karena ombaknya besar waktu berenang nyelametin diri hehehe” terang si Bapak, bangga akan rencana cabulnya.
“Naah, kalau Non sekalian pada ga mau dimakan Hiu…mau naik ke perahu, musti patuh sama perintah Bapak…ngerti ?” lanjutnya.
“Baik Pak, cepet…” kataku, paling ketakutan diantara kami.
Bapak itu mencari sesuatu, sepertinya di karung yang sempat kulihat sekilas waktu tadi duduk. Tak lama, dia kembali dengan tiga utas tali tambang terpotong pendek. Dilemparnya ke Shekti seutas.
“Non, iket temennya !” si Bapak menunjuk Joyce, tampaknya dia dendam birahi terhadap Joyce, memang Kakak angkatku itu yang memulai godaan. Shekti cepat-cepat mengikat tangan Joyce ke sisi pembatas perahu.
‘Aduuh, pelan-pelan De’ !’ protes Joyce berbisik.
‘Maaf Kak, De’ ga punya pilihan…’ balas Shekti berbisik, Joyce tersenyum maklum.
Bapak tukang perahu melempar kembali seutas tali, kali ini ke arahku. Aku tahu apa maksudnya, yakni menyuruh untuk mengikat Shekti, Kakakku. Dengan sangat terpaksa, aku melakukan apa yang tak kusuka. Untung Shekti tersenyum saat kuikat, meringankan rasa tidak enakku padanya. Bapak tukang perahu cengengesan ke arahku, seakan berkata ‘baguus…baguuss’. Dia berdiri dan melepas seluruh pakaian.
(Shit tuh kontol !), batinku, melihat kejantanannya big size. Arti tatapan Shekti dan Joyce pun sama, (Bisa mati orgasme gw !).
Sambil menggenggam seutas tali sisa, si Bapak lompat sambil teriak ‘Cihuuy !’. JBUUR !!, air laut menyiprati wajah kami.
“Puaah, tinggal si Non ini ya ?” katanya mendekatiku.
“Pak-pak, Hiu-nya gimana ?”, Shekti masih ketakutan.
“Oo, tenang aja Non…ada Bapak, itu Hiu harus ngelangkahin mayat Bapak dulu !” sahut si Bapak angkuh. “Kan bukan cuma Hiu yang mau makan Non…Bapak juga, hehee Slurrp !”, dia menjilat bibir seakan melihat makanan lezat.
Aku hanya bisa pasrah melihat tali mengunci tangan, cukup sakit buatku miris. Selesai mengikat, si Bapak mengecek ulang ikatan Shekti dan Joyce.
“Naah, sempurna…Hm-hm, kalau begitu…kita mulai dengan ini *Breek !*,” Bra renang-ku ditariknya hingga putus, gunung kembarku terombang-ambing mengambang di lautan. Bapak tukang perahu tersenyum senang, langsung diremas-remasnya buah dadaku.
“Wah, anak-anak sekarang cepat berkembang ya” komentarnya, dilanjut dengan lahapan rakus.
“Pak, Ssshh…” aku mendesis nikmat, kepalaku terdongak menatap langit. Bibir tebal si Bapak menelan toket bulat-bulat, lidahnya mempermainkan puting, buatku ‘Ahhh Ahhh em.Ahhhh’ berkedut nikmat. Kumisnya menggesek dada, buatku geli-geli enak. Puas menyusu, dia beralih ke Shekti.
“Whuaa, yang ini mirip Pepaya heheh” ejek si Bapak, melihat bentuk payudara Shekti.
Nasib Shekti sama denganku, dadanya menjadi bulan-bulanan tangan dan mulut si Bapak. Sebelahnya merenggut Bra renang Joyce, *Breek !*. “Gilaaa, tetek paling montok diantara bertiga…pantes lebih perek !” katanya kurang ajar.
Payudara kedua Kakak angkatku kini jadi permainan. Diremas, dilahap, puting dipuntir, disentil lidah dan lain sebagainya. Wajah mereka berdua sudah demikian merah, si Bapak tertawa cekikikan melihat itu. Bangga pada keberhasilan memancing gairah korbannya.
“Bleb…”, si tukang perahu tiba-tiba menyelam, kami bertukar pandang, tak tahu dia akan melakukan apa selanjutnya.
“Kontol !” umpat Joyce buatku kaget. Mimik wajahnya seperti kehilangan sesuatu.
“Damn !”, umpatan Shekti menyusul, ekspresinya sama dengan Joyce.
(Apa yang terjadi…? Hiu-kah ?), aku bertanya-tanya dalam hati.
“Shit !” akupun refleks mengumpat, sama seperti mereka.
Rupa-rupanya, aktivitas si Bapak adalah menarik lepas CD renang dari bawah. Kini aku dan kedua Kakak angkat telanjang bulat di dalam laut. Bapak itu muncul ke permukaan.
“Puaah, akhirnya Bapak lihat juga memek Non pada hehee. Baru pernah ngelihat memek anak gadis, apalagi secantik Non bertiga. Nah, mari kita mulai…dari yang godain Bapak pertama kali dulu !” kata si Bapak sambil melempar pakaian renang kami ke perahu, setelahnya kacamata renang kami. Hingga tak ada lagi yang tersisa di tubuh, selain anting dan kalung emas 18 Karat. Dia kembali menyelam.
“Aahhhh, Ssss…Leehhh”, kulihat Joyce menganga dengan lidah terjulur, seperti sedang merasakan sebuah kenikmatan yang luar biasa.
Aku dan Shekti iri melihat itu, sepertinya nikmat sekali. Aku tahu apa yang dilakukan si Bapak, pasti dia jilmek. Rasa takut adanya Hiu sirna, kini berubah menjadi hasrat ingin di jilmek. Joyce menjerit histeris, wajahnya merah kelelahan, orgasme dikerjai si Bapak. Tukang perahu itu muncul ke permukaan, ambil nafas sebentar lalu kembali menyelam.
“eM.aAhhhh…Sssstt, yeahh…yeahhhh”.
Tampaknya mulut tebal si Bapak beralih ke vagina Shekti, karena Kakak angkatku yang berpostur tinggi ramping itu keenakan. Shekti mendesah kecil berulang-ulang, dugaanku si Bapak mengobok-obok vaginanya dengan jari.
(Kuat juga si Bapak tahan nafas, mungkin sudah biasa bertualang di laut…), pikirku.
“IYAAHHHHH !!” rintihku, saat kurasa sebuah jari gemuk menusuk memek.
“Yahhhh…yahhh…yess…yesss.hh”, aku mendesah seirama dengan jari tukang perahu yang keluar masuk vaginaku.
Aku dan Shekti berlomba merintih nikmat, tubuh telanjang kami sama kelojotan di dalam laut. Saling tatap satu sama lain untuk mengetahui keadaan dengan wajah sayu. ‘Noo, it’s comiing…! it’s comiing, Sssh !’ desisku. “Iyaahh, Iyyaaaaahhhh…!”, rintihan panjang itu menandai orgasmeku. Si Bapak menusukkan jarinya dalam-dalam, membuat tubuhku dan Shekti sedikit terangkat, barulah saat itu Shekti merintih panjang. Kakiku menendang-nendang tak jelas arah di dalam air, resapi kenikmatan jari yang menyumpal vagina.
“Puaahh, hehehehe…enak Non pada ?” ejek si Bapak disertai cengiran, saat muncul ke permukaan.
Kami berdua hanya terdiam, menerima cemoohan karena memang benar adanya. “Ronde kedua !” ujar si Bapak seraya melepas ikatan Joyce. Dibawa ke batu karang tak jauh dari kami. Mereka berdua naik ke atasnya, setengah tubuh mereka di atas permukaan air, jadi aurat telihat.
Si Bapak mengatur posisi berhadap-hadapan. Sebelum memulai, ia berikan sebuah jilatan telak di memek Joyce, buat Kakak angkatku yang cantik Indo itu mendesah keenakan. Tanpa membuang waktu lagi, si Bapak membimbing penis ke depan bibir vagina. Joyce pasrah gelayutkan tangan ke leher si Bapak. Dengan penuh nafsu dan rasa gemas, ia dorong penisnya hingga tertancap keseluruhan, Joyce mengerang panjang. Pastilah penis si Bapak bukan takaran memek ABG Joyce.
Sebaliknya, si Bapak melenguh lantaran jepitan memek terlalu liat. Kedua belah kaki Joyce dinaikan ke bahunya. Kakak angkatku yang berdarah Jerman itu pasrah digagahi, menyambut tiap sodokan dengan rintihan. Dengan mudah tukang perahu itu menaik turunkan Joyce lewat tangkupan dipantat. Acap kali rintihan Joyce terdengar keras saat pantatnya dilempar tinggi-tinggi, tentu vagina wajib menumbuk benda yang bersarang di dalam. Adapun vagina istirahat menumbuk, pantatnya tidak, harus siap diremas atau di tampar keras. Si Bapak tersenyum lihat ketidak berdayaan Joyce, lantas kembali menaik turunkannya sambil tertawa sinting.
Tak lama kemudian, Joyce didekap erat, si Bapak kulihat menggemeratakan gigi. Tubuh Joyce melengkung, entah dia orgasme atau tidak. Pastinya kulihat ada cairan putih pekat kental menjuntai waktu si Bapak mencabut penisnya dari vagina. Cengiran jelek tergores di wajah tukang perahu itu, puas berhasil tanamkan benih di rahim gadis ABG penggoda imannya.
Joyce digiring naik ke perahu. Giliran Shekti kena entot, si Bapak menggiringnya ke batu karang. Diperintah untuk memiringkan tubuh, sebelah kakinya diangkat, Shekti pun refleks melingkarkan tangan ke leher si Bapak lantaran takut jatuh. Namun si Bapak malah menyurukkan wajah ke selangkangannya, jilat-jilat memek sejenak. Shekti meracau tak karuan, rambut si Bapak dijambak keras. Rupanya jilatan si Bapak terasa lebih nikmat baginya di luar air. Si Bapak sendiri ketagihan akan rasa memek, tidak sebentar dia ciumi memek wangi Shekti.
Puas jilmek, ia arahkan penis ke sasaran tembak sambil mengocok. Sampai di bibir vagina, langsung ditekan hingga amblas. Shekti menjerit, tubuhnya serasa terbelah dua, dibelah melalui kewanitaan. Si Bapak merem melek menikmati kencangnya jepitan memek Shekti, langsung dipenetrasi saat itu juga. Posisi mereka agak sulit di laut, beberapa kali penis lepas dari vagina lantaran mereka tercebur.
Si Bapak pantang menyerah, kembali melesakkan penis meski berulang kali. Ia cekik leher Shekti perlahan sambil menyelupkan jarinya ke mulut, disambut Shekti dengan kuluman, begitu cara mereka bersetubuh. Selang beberapa detik, si Bapak menyentak kasar, ejakulasi. Mereka berdua tercebur ke laut, namun si Bapak terus mendekap Shekti. Iba aku pada Kakak angkatku itu, pasti dia mati-matian menahan nafas. Tubuh si Bapak mengejang beberapa waktu. Setelah kedutan berhenti, barulah Shekti dilepas olehnya, Shekti langsung megap-megap mencari oksigen.
Si Bapak kembali tersenyum puas, tubuhnya mengapung terlentang di air menatap langit. Dengan sisa tenaga Shekti berenang ke arah perahu, dia sempat menatapku sesaat seakan meminta maaf karena tak berdaya dan tak punya cukup tenaga untuk menolong. Selagi aku memperhatikannya naik ke perahu, sebuah jari menusuk telak vagina. “Ahhh.mMff !!”, si Bapak memagutku setelah jarinya menancap. Ia melecehkanku, keluar-masukkan jari sambil melihat ekspresi wajahku yang tentunya lagi ke-enakkan.
Puas mencemooh, tali ikatanku di lepas. Giliranku di garap, aku disuruh membalik badan. Ia memeluk, buah dadaku diremasnya sambil menggesek penis ke pantat, lama kelamaan penis itu mengeras. Bagai kerbau dicocok hidung, aku pasrah saat punggungku di dorong untuk nungging. Kakiku disepaknya lebar agar ia mudah memasukiku.
“Hngggh ! ini memek palinggh, legith..dari yang…lainh !” celoteh si Bapak, saat berhasil menanamkan kejantanannya di liang vaginaku. Rintihan nikmat keluar dari mulut karena penuh kurasa. Rintihan itu terus berulang tatkala penis membelah vagina berulang-ulang, kugoyang pinggul agar ia lebih bernafsu menyodok.
Kedua tanganku yang mengepal ditariknya kebelakang, dihentaknya berlawanan arah dengan sodokan seakan aku ini kuda dan ia kusirnya. Suara persetubuhan kami sangatlah ramai, tepukan pantatku dengan pinggulnya, kecipak air, di tambah dengusan berat nafas.
“Yes, Yess…Iyah, Iya-aaahhhhh !”, aku orgasme, kuku-ku mencakar lengannya. Syukur ia mengerti keadaan, sodokannya mereda, biarkanku nikmati klimaks sejenak.
Mendengar nafasku kembali normal, ia lanjutkan hujaman penis, sambil tertawa sinting pula. Sodokannya lebih brutal dari sebelumnya, kepala penis terasa menggedor dinding rahim. “Ooohh.Hngkkh !”, CROOOT !, semprotan mani dahsyat kurasa di liang vagina. Sedikit memang sperma yang muncrat, telah di-umbar habis di kemaluan kedua Kakak angkatku. Tubuh kami begitu lekatnya, kejangan tubuh si Bapak terasa hingga di tubuh.
Penisnya yang masih bersarang di vaginaku meng-kerut. Ia lepas cengkramannya di tanganku, aku pun tercebur ke laut. Sebenarnya aku lemas, namun dinginnya air kembali buatku segar. Tak ingin tenggelam, sebagaimana kedua Kakak angkatku, kupaksa tubuh lelahku berenang ke perahu. Untungnya mereka sudah siuman, jadi bisa bantuku naik, tak lama Bapak tukang perahu menyusulku naik.
“Nah, istri-istriku….mari kita ke rumah kalian yang baru !” katanya, seraya menyeringai.
Aku, Shekti dan Joyce diam tak menyahut, sekelompok gadis tanpa daya dan upaya. Si Bapak menyalakan mesin, berangkatlah perahu kami ke pulau yang sudah terlihat itu. Sesampainya, kami yang masih telanjang bulat digiring paksa ke sebuah gubuk, yang tak lain adalah tempat tinggalnya. Kutapaki satu demi satu anak tangga yang sudah reyot itu kayunya. Sampai di dalam, si Bapak menyuruh kami duduk menunggu di dipan.
“Pak, tolong pulangkan kami !”, Joyce memohon.
“Pulang ?” sahut si Bapak, kami mengangguk.
“Boleh, tapi Bapak dikasih apa dong ?” kata si Bapak dengan wajah mengejek. Ia jongkok di depan Joyce persis.
Gubuk si tukang perahu
Joyce yang mengerti langsung mengangkangkan kaki, vaginanya dipandangi si Bapak. “Coba Non kesini !”, ia menyuruh Shekti berdiri di sisi kirinya. Shekti menuruti perintah dengan segera, karena pikirnya setelah ini selesai akan di-izinkan pulang. “Yang si Non itu kesini !” suruhnya padaku, untuk berdiri di sisi kanan. Tukang perahu mencengkram kedua betis Joyce.
“Nah, Non pegang ini…si Non pegang yang ini. Terus angkat tinggi-tinggi !” kata tukang perahu itu, tentu saja aku dan Shekti bertukar pandang.
(Bagaimana ini ? Masa kami harus menghidangkan kewanitaan Joyce, Kakak angkat kami…pada orang yang baru kami kenal ?) batinku, Shekti pun kuyakin berpikiran sama.
“Lho, kok bengong ? Ayo…pada mau pulang ga ?” bujuk si Bapak. Joyce mengangguk pada kami, seakan dia mengerti aku dan Shekti ragu menjadikannya ‘umpan’. Entah dia ingin biar kami cepat pulang atau sudah tidak tahan dijilat melihat tatapan lapar si Bapak pada mekinya. Kami berdua melaksanakan perintah tanpa ragu.
“Tinggian lagi Non ! Terus…pegang di pangkal paha !” suruhnya, aku tak mengerti. Kuturuti perintah cabul itu, Shekti mengikuti. Tiba-tiba, tangan tukang perahu mencaplok buah pantatku dan Shekti. Mendorong hingga vaginaku, Shekti dan Joyce berdekatan.
“YAHHHH”, kami mendesah berurutan. Lidah tukang perahu melakukan jilatan berantai dari memek Shekti, Joyce lalu ke memekku.
“Owh, Yesssshh…” Joyce berdesis, si Bapak melahap rakus vaginanya. Lahapan itu bergantian, kadang ke vaginaku kadang ke vagina Shekti. Yang pasti, kami bertiga keenakan dibuatnya. Jari besarnya menelusup dari belakang bawah, mencolok liang, korbannya adalah liangku dan Shekti. Mulutnya focus pada memek Joyce. Lidah kami bertiga sama terjulur, sebagaimana wanita yang mendekati puncak kenikmatan. Kepala si Bapak maju mundur, lidahnya mencolok-colok itil Joyce. Kakak angkatku yang liar itu mengerang keras, kakinya yang kami pegangi mengamuk. Di saat yang sama, jari si Bapak menusuk vagina dalam-dalam. Aku dan Shekti pun juga jadi mengerang panjang.
“IYAAAAAHHH…!”, Joyce melepas orgasme yang membelenggu, tubuhnya menggigil. Aku dan Shekti nyusul kemudian, tukang perahu cekatan merangkul pantatku dan Shekti, sehingga wajahnya terkurung oleh vagina kami yang sedang mengucur jus cinta. Ia telah menduga bahwa waktu orgasme peganganku dan Shekti pada betis Joyce akan melemah, jadi buru-buru ditangkupnya pantat Joyce agar tidak jatuh. Kemi berempat merapat. Mulutnya bergantian jilati jus memek yang dihasilkan tiga gadis belia.
“Muaah, seger-seger-seger hehehe” komentar tukang perahu itu, seraya merebahkan kami semua di dipan dengan gentle, seakan-akan kami ini istrinya. Ia pandangi kami bertiga, tersenyum sebentar lalu berkata.
“Nah, masih pada mau pulang ? enakan disini…Bapak bikin Non puas kayak tadi ga berhenti-berhenti huahaha” ejeknya keluar kamar. Rumah memang tak berpintu, tapi sepertinya ia merasa aman, berfikir kami takkan mungkin bisa keluar dari pulau dengan mudah. Di atas dipan kami berpandang-pandangan.
“Kak, gimana nih ?” tanyaku, mereka berdua hanya menggeleng, aku juga tak bisa menyalahkan mereka.
Setelah punya cukup tenaga, Joyce bangkit lebih dulu. Aku dan Shekti mengikutinya, ia bagai Kakak, juga bagai Induk. Kami jalan telanjang bertiga keluar rumah. Entah kemana tukang perahu itu, kami kembali ke tempat dimana kami pertama berpijak di pulau tak berpenghuni ini.
(Lho, kemana perahu yang kami naiki tadi ?), batinku, Joyce dan Shekti pasti berpikiran sama. Mungkin dia hilang saat ini sedang menyembunyikan perahu, who knows…
Aku celingak – celinguk ke kiri dan kanan, tak ada…? Kemana tukang perahu dan perahu miliknya ? haruskah aku dan kedua Kakak angkatku tinggal selamanya di pulau ini ? Tidak, pasti akan ada pahawan berkuda putih yang akan datang menyelamatkan kami. Tetapi saat ini harapan kami hanyalah ada perahu mendekat atau mampir, meski kecil kemungkinan.
TEPOKK !!, aku dan Joyce menjerit, sebuah tamparan keras mendarat di pantat kami berdua, Shekti..Joyce dan aku terbelalak kaget. “Lagi ngapain disini, hah ?” bentak si tukang perahu dengan mata melotot menyeramkan.
Lidahku serasa kaku untuk menjawab, Joyce sebagai yang tertua coba bernego. “Kita”, “KITA APA ?!” bentak tukang perahu itu lagi, kami berpelukan karena takut olehnya, takut dia menyakiti kami nanti.
“Ayo pulang ke rumah baru kalian !” kata dia seenaknya. Kami pun digiring kembali ke gubuk. Sampai di kamar, disuruh nungging di atas dipan, dari belakang ia tampari pantat kami hingga terasa perih. Pasti bilur kemerahan, aku tak sempat melihat karena kami kembali disetubuhinya, yang kali ini dengan bengis. Rintihan kami bukanlah rintih kenikmatan, namun kesakitan. Berkali-kali ia hujam keras penisnya, sampai-sampai tubuh terhempas bergantian. Aku bahkan disodoknya hingga tengkurap, terus dihujam sampai memekku terasa jebol. Shekti dan Joyce bernasib sama, mungkin maksudnya untuk memberi pelajaran agar tidak mengulang pelarian, Joyce yang bermulut comel hanya mampu memaki, “Kontol anjing ! gila tunge ! maniak memek ! dlsb. Namun suatu ketika, saat tukang perahu itu asyik menyodok sinting Shekti, aku dan Joyce sudah K.O tengkurap menahan perih di memek. BUGG !!, sebuah suara benturan dua benda keras.
Shekti ambruk tengkurap ditindih si Bapak, pikirku tadi ia baru selesai ejakulasi, ternyata tidak. “Ayo Non, bangun !” kata suara pria yang sepertinya kukenal. Pria itu mengangkat Joyce, menyingkirkan tubuh tukang perahu yang menindih Shekti lalu membangunkanku.
(Bang Dongo ?), aku tak pernah menyangka, tapi senang dengan pertolongannya.
Entah bagaimana cara ia kesini, karena memang Jetfoil Joyce sudah kembali ke perairan Ancol, janji jemput hari minggu. Di samping kapal tidak bisa ke pulau ini karena terlalu rendah, bisa menghantam dasar kapal.
“Makasih ya Mas…”, Joyce memeluk pria tonggos yang pernah di ledeknya. Badongo tersenyum senang dipeluk Joyce telanjang, aku dan Shekti ikut memeluknya. Badongo merobek sebuah kain usang yang ada disitu, memintalnya jadi pakaian ala kadar untuk kami bertiga, (serasa jadi ‘Jane’ Tarzan ^o^).
“Gimana cara mas kesini ?” tanya Joyce dengan mata berbinar haru, baru kali ini kami mengalami ancaman.
“Penjelasannya nanti aja Non, sekarang kita kembali ke penginapan…” sahutnya, kami bertiga mengangguk, terserah kepada si penolong saja.
“Bapak ini gimana Mas ?” kata Shekti.
“Biar nanti saya bikin perhitungan sama dia, sekarang Non bertiga harus selamat dan aman dulu !”. Tanpa bicara panjang lebar lagi, kami tinggalkan tukang perahu dalam keadaan pingsan. Sebelum pergi, Joyce sempat menendang kaki si Bapak sambil mengeluh, “Anjing lu…memek gw sakit tahu !” omelnya. “Biji bangsat, hampir aja lu berhasil ngancurin memek gw !”, Shekti menyusul. Aku pun ikut-ikutan, kuraih batang kayu yang digunakan Badongo untuk memukulnya tadi, kuayunkan ke tubuhnya sambil berkata, “Bandot sarap ! lu bikin memek gw kerasa hilang…tau ga, Hih !” omelku penuh emosi. Badongo meraih kayu yang masih kuayun, menarikku untuk segera pergi.
Sesampainya di pinggir, kami melihat perahu yang dipakai Badongp, ternyata hanya sampan kecil yang muatannya pas-pasan. Tak banyak pilihan, kami naik ke atasnya. Badongo mendorong sampan itu hingga meluncur ke lautan, baru dia naik ke atasnya mengayuh dayung.
“Kok perahunya kecil amat sih Mas ? kalo tenggelam gimana ?” kata Joyce cemas.
“Habis ga ada lagi Non, ini aja untung ada. Dulu punya si Bapak tadi, penginapan kita memutuskan beli untuk cadangan sewaktu-waktu perlu entah buat apa, ternyata kepake juga nih” jelasnya.
Selagi kami asyik berbincang, Shekti berteriak, “Mas, si Bapak kemarii !!”. Kutolehkan wajah ke pulau yang baru saja kami tinggalkan, (Aaargh, tukang perahu menuju ke arah kami !). Dengan perahu yang memiliki mesin meski ukuran sama kecil, begitu mudah ia menyusul sampan kami. Sesudah dekat, ia menyiapkan seutas tali tambang yang cukup panjang, di sambung ke sebuah jangkar kecil. Kami bertiga berpelukan takut melihatnya memutar benda itu bagai koboi memainkan tali laso. Badongo ke depan kami sebagai tameng untuk melindungi, dengan sebuah dayung senjatanya.
JDAAK !!, benda itu ternyata untuk dihantamkan tukang perahu itu ke badan sampan. CUUR…, air masuk ke sampan kami.
“Huahaha, rasain biar tenggelem !” ujarnya jahat. Badongo ingin menerjangnya andaikan dekat, sayang ia cukup pintar menjaga jarak, disamping takut jika tukang perahu itu malah melempar jangkarnya ke arah kami. Gilanya lagi ia tambah teror, mengiris jarinya sendiri dengan pisau kecil bergerigi khusus jaring.
“Ayo Hiu-hiu, makan siang sudah siap Huahahaha !”, kami semakin panik, jerit bernada tinggi keluar dari mulut kami bertiga. Badongo semakin kesal karenanya. Dengan gerak cepat ia patahkan dayung menjadi dua, dan dilempar ke arah tukang perahu. BUKK !!, kena tepat di kepala. Darah mengucur, ia mengaduh sakit. Tubuhnya limbung, perahu yang dinaikinya bergoyang, “Yah, yah, Yaaaaaah *JBUUR !*”.
Kepanikan kami pun klimaks saat seekor Hiu menyambar tubuhnya. Ternyata apa yang dikatakan olehnya benar, malang termakan kata-katanya sendiri. Hiu mencabik habis tubuhnya, air laut di sekitar tubuhnya berubah menjadi merah darah. Kami menyaksikan peristiwa itu dari dekat, karena sampan kami sebentar lagi karam.
Aku, Shekti dan Joyce menjerit-jerit, takut sasaran Hiu berikutnya adalah kami. Air mata menetes deras saat kulihat sirip yang mengambang semakin banyak. Kami berpeluk erat pasrah, kalau memang mati ya matilah bertiga disini, tubuh menggigil karena dinginnya air dan rasa takut akan kematian. Tangisan kami berhenti saat mendengar suara Badongo, “Syukurlah Tuhan, terima kasih !” ucapnya, aku belum mengerti. Kuperhatikan lagi, oh ternyata, sirip yang kulihat adalah makhluk jinak, sekelompok lumba-lumba. Kehadiran mereka buat hati kami semua lega.
Mereka mendekati kami, seakan menawarkan pertolongan, kupikir tadi gerombolan Hiu. Kupegang siripnya, kami ber-empat mengendarai lumba-lumba, meluncur menuju pulau Bidadari, meninggalkan Hiu bersama tukang perahu yang pasti sudah berubah menjadi bangkai. Pastilah lumba-lumba itu datangnya dari do’a kedua orang tua yang selalu menginginkan keselamatan, kapanpun dan dimanapun anaknya berada. (Makasih Papah, makasih Mamah J).
Sheckti,Joyce & aku
Lumba – lumba itu mengantarkan tepat di depan pulau, sisanya kami berenang. Mereka bernyanyi meninggalkan kami, kulambaikan tangan ke arah mereka. Manager hotel sudah ada di tepi laut itu ternyata, ia panik dengan kehilangan Joyce sang Nona majikan yang seharusnya menyantap jamuan makan siang bersama kedua sahabatnya. Kami betiga berpelukan di sisi laut itu, menangis tersedu dan haru. Entah apa jadinya tanpa Badongo dan Lumba-lumba, kalau tidak jadi budak seks ya santapan Hiu. Badongo dan beberapa staf hotel memapah kami ke dalam kamar penginapan, tahu bahwa lutut kami sudah lemas dengan apa yang terjadi.
Aku, Joyce dan Shekti segera mandi, menghilangkan bekas pasir yang menempel juga lengketnya air laut. Selesai itu makan langsung tidur, rencana bersenang-senang kami batalkan. Seharian itu sampai dengan malam kami habiskan waktu di ranjang, berbincang tentang apa yang terjadi, terus itu-itu saja tanpa jemu.
Pihak hotel menangani permasalahan hilangnya Bapak tukang perahu atas konfirmasi Badongo, sebelumnya Joyce menyampaikan pesan bahwa kami belum sempat diperkosa, agar tidak terlalu ruwet dengan permasalahan, takut di visum segala, malu. Beberapa orang dari pihak Kepolisian datang menginterogasi ala kadarnya, karena sebelumnya Manager penginapan Joyce menyelipkan segepok ratusan ribu ke Kepala Bagian agar dibereskan. Kebetulan tukang perahu jahat itu tidak memiliki sanak keluarga, jadi tidak ada yang merasa kehilangan.
Ayah Joyce, Mr Johansen, sampai datang menjenguk di sela kesibukan pekerjaan, dengar khabar terjadi sesuatu pada anaknya. Sedangkan Ibu Joyce hanya telpon dari rumah, sibuk dengan Gigolo simpanannya. Setelah tahu kami baik-baik saja, dengan sedikit kebohongan yang diatur Joyce, Ayah Joyce kembali. Papah Mamahku dan orang tua Shekti belum tahu, jangan sampai juga karena bisa-bisa kami disuruh pulang lebih cepat dari jadwal. Bagaimanapun, kami masih ingin menghirup udara liburan.
***
Keesokan hari, kami masih saja mengurung diri di kamar, enggan keluar. Badongo membujuk untuk bersenang-senang, yang lalu biarlah berlalu. Kupikir-pikir benar juga, Joyce dan Shekti pun akhirnya berpikiran sama. Kami berlabuh ke pulau Sawi, pulau yang tak kalah indah dengan pulau Bidadari (masuk dalam hitungan kepulauan Seribu).
Agar kejadian buruk tak berulang, kali ini Badongo sendiri yang mengawal. Menggunakan perahu Boat milik Joyce yang dikirim dari perairan Ancol melalui staf Ayah-nya. Disana kami foto-foto, lempar-lemparan pasir, mengitari pulau dan masih banyak lagi. Banyak orang disana, mirip dengan pulau Bidadari, kaya aktivitas. Balik ke penginapan saat waktu menunjuk makan siang. Sorenya, kami kelilingi pulau Bidadari, tentu sambil foto-foto sebagai kenangan.
# Menjelang malam.
‘Eh, masa kita ga ngasih hadiah sih…buat Mas Badongo ?’ Shekti berbisik saat kami Dinner di ruang makan.
‘Iya ya, iya deh…yuk’ sahut Joyce berbisik, Mas Badongo salting karena kami berbisik sambil melirik ke arahnya. Aku hanya tersenyum, ikut saja pada kedua Kakak angkatku yang hyperseks itu, disamping juga setuju sebagai ucapan terima kasih. Selesai makan, kami bertiga menghampiri Mas Badongo, Joyce membisikkan sesuatu ke telinganya.
‘Mas, nanti kalo udah sepi…dateng ke kamar saya yah ! ada perlu…’.
‘Mana berani saya Non…kalo keliatan Pak Sukarta gimana ?’
‘Ck, alaaah…ga usah takut, aku khan owner…siapa berani ganggu. Oke Mas, aku ada perlu nih…’, Joyce mengerlingkan mata genit, aku dan Shekti tersenyum nakal.
“Yuk daah, Muach !” kami bertiga kissbye ke arahnya, beberapa staf penjamu makanan melihati Badongo. Dia menelan ludah tak enak, takut dilaporkan macam-macam ke ortu Joyce dan dipecat.
***
Tok ! tok ! tok !, ‘Permisii…’.
“Yup, sebentar…!”, Joyce berjalan ke pintu, aku dan Shekti siap menunggu duduk di tepi ranjang.
“Masuk Mas…!” kata Joyce dengan senyum ramah, pria bergigi tonggos itu mengangguk sopan.
“Mau curhat lagi Non ?”.
“Gak ! Bukan lagi…”, Joyce menghampiriku dan Shekti yang bangun berdiri.
“Kita manggil Mas mauu…” kata-kata Joyce stop sampai disitu, kami bertiga berbarengan menelanjangi diri.
“Ne-ne-ne-ne-ne-ne-Noon…stop Non, jangan !!” kata Badongo ketakutan plus mupeng.
“Jangan apa, niih !” Joyce melempar C String hitam miliknya ke Badongo.
“La-la-la-la-lhaa…gi-gi-gi-gimana nih ?”, Badongo tergagap menggenggam celdam anak majikan yang sangat dihormatinya.
Setelah sempurna bugil, kami atur posisi. Joyce di tengah, jarinya seakan menggenggam pistol. Shekti di kiri menungging, aku di kanan merangkul Joyce, dengan sebelah tangan meniru pistol.
“Kami sluty angel’s…bertugas memuaskan nafsu lelaki baik hati !” teriak kami serentak ^o^. Selesai berkata demikian, kami bergerak mendekati Badongo. Si tonggos itu beringsut mundur, namun celana di bagian selangkangan memumbul tanda dia konak.
“Ne-ne-ne-neNooooon…!!”, Badongo pasrah kami telanjangi. Sehabis melucuti pakaian-nya, kami langsung jongkok berebut kontol.
“Minggir lu De” kata Joyce, “Lu dong Kak, ngalah sama Ade” sahut Shekti. “Gw dunk, yang paling kecil !” kataku, “Ini lagi, kecil-kecil doyan kontol !” sahut Shekti dan Joyce padaku. Badongo hanya melenguh-lenguh, keenakan penisnya kami hisap bergantian. Begitulah keadaan kami, sampai sebuah suara ketukan pintu yang cukup keras mengganggu.
Dok ! dok ! dok !, “Non Joyce…ada masalah Non ?!”.
‘Mati aku, suara Pak Sukartaah…’ bisik Badongo takut dipecat.
‘TE-nang aja…TA-kut banget’ omel Joyce, diawal kalimat ia sertakan tamparan di penis, Badongo mengaduh. Joyce berdiri, jalan ke pintu sambil rapikan rambut. Ia memutar gagang pintu sambil menyembunyikan tubuh telanjangnya.
“Malam Non, sepertinya Non sedang kesulitan ?”.
“Iya Pak, tolong cepat masuk !” kata Joyce pura-pura panik. Manager penginapan yang bernama Pak Sukarta itu lantas masuk.
“Whaaaa !”, mata Pak Sukarta melotot lihat Badongo anak buahnya sedang di-oralku dan Shekti yang tidak berpakaian. “M-Maaaahh !!” mulutnya ternganga melihat Joyce juga telanjang bulat saat menutup pintu. Dalam keadaan itu, dengan santainya Joyce berkata padaku dan Shekti.
“De’, kontol yang ini buat gw ya ?”.
“Ambiil…” sahutku dan Shekti ^o^.
“Ne-ne-ne-neNooooon…bisa dipecat sayah sama Bapak !!” kata Pak Sukarta beringsut mundur karena Joyce mendekatinya, tetapi matanya memelototi vagina Joyce. Aku dan Shekti memiringkan posisi oral agar adegan Joyce bisa kami lihat.
“Justru kalo Bapak ga ngelayanin saya dengan baik, saya laporin yang engga-engga biar Bapak dipecat !” ancam Joyce.
“Ja-ja-ja-ja-ja-Jangan dong Noon !”.
“Kalo ga mau dipecat, entot gw !” kata Joyce meremas baju Pak Sukarta.
“Baik kalo Non memaksa !”, Pak Sukarta langsung melahap dada Joyce yang bulat mirip bakpau. Joyce mendesah sambil terus lucuti pakaian Pak Sukarta, kini kami telanjang berlima. Badongo yang tadinya malu-malu, mulai berani setelah melihat atasannya berani menindih Joyce, sang Nona majikan di ranjang. Ia berdiri, menyuruh aku dan Shekti mengangkang di pinggir ranjang yang sama.
“Aahhhhhhhh, Yess…” desah Joyce, tanda dia dan Pak Sukarta mulai bersetubuh. Aku mendongak ke atas sambil di jilmek Badongo, melihat Joyce ditumbuk secara membabi buta oleh anak buah Papahnya.
“Gila Ngoo…memek Non Joyce enak banget. Ohh anak majikan gw…Ooh anak majikan gw !” celoteh Pak Sukarta.
“Doyan khan memek gw…enak lu hah ? entot gw Pak, ayo…jebolin memek gw sesuka lu Aaaahhh !” balas Joyce.
Badongo tidak tahan, ia menyodokku dan Shekti bergantian. Malam itu, malam terindah di penginapan. Kami berlima tukar pasangan, saling memuaskan satu sama lain. Hingga terbit fajar di ufuk Timur.
***
Esoknya, minggu, pagi-pagi kami telah lepas atas masalah. Mulai berani lagi menyelam, meski masih disertai pengawasan ketat oleh Badongo agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sorenya, kami siap-siap berangkat pulang. Badongo dan Pak Sukarta melambaikan sapu tangan putih kepada kami, sedih kehilangan vagina untuk dipakai buang sperma ^o^. Kami membalasnya dengan senyuman, berterima kasih atas pelayanan mereka. Pulang dengan sejuta kenangan.
***
Pulau Bidadari, banyak sekali yang terjadi disana. Bapak tukang perahu, perkosaan, Hiu, Mas Badongo, Pak Sukarta, lumba-lumba. Huuf…yang penting, aku puas liburan kesana, mendapat experience seks under water sea pula.
Persahabatan…indahnya persahabatan kami. Aku tersenyum menatap ombak di tepi pantai itu kini. Terhibur mengingat hal-hal yang kami lalui bersama. Tetapi terpaksa harus kembali hampa, karena tak ada mereka di sisi saat ini. Hanya ada kilatan memori yang membekas, serta laut bisu. Deru ombak bergemuruh, seakan ingin mengajakku berbicara. Kukuatkan hati, kutegarkan diri. Sesuai janji, sebagaimana sumpah kami.
Dimanapun kami berada…
Walaupun tidak dalam satu tempat yang sama…
Andaikan jarak memisahkan kami bertiga…
Mereka sahabat dan juga Kakakku, dalam suka maupun duka…
Untuk selama-lamanya.
Bagiku, kalian jauh di mata…namun dekat di hati. Walau jauh bagai matahari, bahkan melebihi. Far, far away from me, so far…Far Beyond the Sun.
Life is so empty and a big mistake without you two guys. Miss ‘n Love u always…
Dikisahkan oleh : Diny Yusvita.
END.
With Love,
Yusvita Nova******
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini
Five Filters featured article: Into the Abyss. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.
Schoolgirl’s Diary 15: Three Little Pussy
June 2nd, 2010Message from Five Filters: If you can, please donate to the full-text RSS service so we can continue developing it.
- Cerita ini hanyalah Fiksi belaka, jika terdapat kesamaan nama/kejadian/peristiwa maka itu hanyalah kebetulan semata.
- Warning…!! Bacaan Khusus dewasa, (bukan untuk anak dibawah umur,) alias Adult Only…!! ^_^, Read For Your Own Risk’s & isi cerita yang berisi adengan kekerasan dan pemerkosaan samasekali bukan untuk dipraktekkan didunia nyata.(samasekali tidak patut & tidak terpuji untuk ditiru…!!!!!!)
- Mkasih buat Bos Shu yang sudah meluangkan waktu selama ini, untuk mengedit, menelaah, menimbang dan memutuskan untuk memposting cerita-ceritaku ^_^
- ngak lupa, makasih juga buat semuanya yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca & memberi masukan-masukan yang membangun, selama ini, Thank;s u All he he he.
- Say NO To Rape ,DRUG’S & Crime’s n Terorisme in The Real World.
- Satu lagi juga ^ _ ^, dilarang meng-Copy Paste, dan menampilkan cerita ini ditempat lain selain di KBB, Telur Rebus n Arsip Gue.
****************************
Keesokan hari, pukul 07.00 pagi
Vivi
“Vii, Viviii bangun oii, Faaa, Faridaaa..!!”
Dengan tak sabaran Andra membangunkan Vivi dan Farida, digiringnya kedua gadis cantik bermata sipit yang masih mengantuk itu ke kamar mandi. Ia menyiapkan tubuh mereka yang putih mulus sebagai santapan yang menyenangkan di pagi hari. Vivi dan Farida merasa risih saat Pak Agung dan Andra menonton mereka yang sedang mandi di bawah kucuran air shower yang hangat. Setelah kedua siswi cantik itu selesai membersihkan diri, Pak Agung dan Andra menarik tubuh mulus kedua gadis itu ke ruangan tamu. Vivi dan Farida berseru keras saat melihat seseorang terikat tak berdaya di atas sebuah meja bundar berdiameter kurang lebih 1 meter.
“hahhh ??!! Reiiiii….!!”
“HAHH !!?? Vivi ?? Farida..??!! ”
Reina tak kalah kaget melihat tubuh Vivi dan Farida yang berada dalam keadaan telanjang bulat, demikian pula keadaan Pak Agung dan Andra telanjang dengan dua batang penis yang mengeras di bagian tubuh mereka bagian bawah.
“Reiiii….!!”
Vivi dan Farida berhamburan hendak menolong Reina yang bersujud di atas meja dalam keadaan kedua tangannya yang terikat kebelakang, Pak Agung dan Andra menarik lengan Vivi dan Farida,kedua makhluk bejat itu berbisik-bisik ditelinga Vivi dan Farida, entah apa yang dibisikkan oleh Pak Agung dan Andra yang jelas kedua gadis cantik itu menggeleng-gelengkan kepala menolak keinginan Pak Agung dengan wajah merona karena jengah atas permintaan kedua pejantan tangguh itu.
“Ayo sayangg, lakukan, bapak ingin lihat, buat pemanasan” Pak Agung membujuk Vivi dan Farida sambil menggerayangi tubuh kedua siswi cantik itu
Andra memeluk Vivi dari arah belakang, tangannya mencapit payudara Vivi yang montok, cumbuannya merayap dari tengkuk ke sisi leher sebelah kanan kemudian merambat kebahu Vivi. Sesekali Andra memangut dengan kasar sambil meremas-remas induk payudara Vivi yang bongsor.
“Ahhh, Andraaaa….”
Vivi menarik dadanya saat tangan Andra mengusapi bagian bawah payudaranya, wajah Vivi merona merah, ia semakin kesulitan menepiskan hawa nafsu yang berusaha mengaburkan rasa canggungnya. Pak Agung mendesakkan tubuh Farida ke hadapan Vivi. Kini kedua orang siswi cantik keturunan Chinese itu kini saling berpelukan dengan mesra.
“Emmmmm, Faridaahh, ckk emmmmhh..”
“Viiii, auhh emmmhhh.., mmmhhhh akhhhh”
Suara desahan dan rintihan lirih mulai terdengar dari bibir Farida dan Vivi yang saling memangut. Andra mengambil posisi berdiri di belakang tubuh Vivi, sedangkan pak Agung berdiri di belakang tubuh Farida, mereka berdua masing-masing berjongkok sambil menarik pinggul kedua siswi itu agar menungging.
“Slllcckkk.. ckk ckk Sllccckkk ckkk sllllppphhhhh”
“Ahhh.. Andraaa… ahhh!!!”
“cupphh, mmmm ssssslllllllccckk ckk ckkkkk…”
“aaa-aah, ahhhh, Bapakkk… essshhhhhhh, hhssssshhhh”
Pak Agung mengecupi pinggul dan memainkan lidahnya pada belahan vagina Farida sedangkan Andra memainkan batang lidahnya pada belahan vagina Vivi. Suara desah dan rintihan kedua gadis cantik itu terdengar menggairahkan membangkitkan nafsu liar yang menggeliat dari tidurnya. Sang hawa nafsu segera bangkit ia mengubur kecanggungan di dada kedua siswi cantik itu. Tanpa merasa segan Vivi merintih keenakan dan Farida mendesah keras merasakan cumbuan dan jilatan-jilatan lidah nakal yang menggelitiki bagian tubuh mereka masing-masing. Pak Agung membaringkan Vivi dan Farida di atas sebuah kasur busa yang sudah sengaja disiapkan di tengah-tengah ruangan. Dengan sebuah gerakan yang indah dan erotis Farida naik ke atas tubuh Vivi. Ia mendesakkan payudaranya ke bawah sedangkan Vivi mendesakkan payudaranya ke atas. Jika Farida mendesakkan batang lidahnya ke dalam mulut Vivi, dengan mesra Vivi menghisapi batang lidah Farida demikian pula sebaliknya jika Vivi menjulurkan batang lidahnya keluar dengan mesra Farida menghisapi batang lidah Vivi. Cumbuan-cumbuan Farida merambat kebawah mengejar payudara Vivi.
“Wahh, gila..!! ini baru asik…,ehemm,woowww..!! “
Pak Agung berdehem dengan nafas tertahan. Andra mengusapi buah pantat Farida saat gadis cantik itu menungging dengan wajah terbenam di antara payudara Vivi yang montok sambil meremas lembut Farida menciumi buntalan payudara Vivi.
“Ahhh, Faaaa, Faa… riii.. daahhhh, ohhh nikmatnyaa…”.
Telapak tangan Farida mengusap bulatan payudara Vivi sebelah kiri, ujung lidah Farida terayun menjilati puting susu Vivi yang mengeras. Vivi memejamkan matanya menikmati remasan – remasan Farida pada payudaranya. Perlahan-lahan Vivi membuka kedua matanya saat ia mengendus aroma yang tidak asing lagi, sebuah penis besar panjang melintang di wajahnya, penis milik Pak Agung. Tangan Vivi meraih batang besar itu dan menggenggam batang penis Pak Agung, ditariknya penis Pak Agung kemudian Nyummmmm, Nyummmm, Vivi menghisap-hisap permen loli asin di selangkangan Pak Agung, nafas Vivi terdengar memburu saat cumbuan Farida merambat turun ke arah selangkangannya yang terkangkang. Jemari Farida mengelus belahan bibir vagina Vivi, jari telunjuk nya bergerak lincah mencelup-celup kedalam belahan vagina Vivi. Bagaikan seorang yang kehausan Farida menghisapi vagina Vivi, kontan saja tubuh Vivi menggelepar keenakan kedua kakinya yang mulus tertekuk mengangkang.
“Ahhh….!! ?? UNNNN—NGGGHHHH…!!!OWWW…!! “
Tiba-tiba saja tubuh Farida tersungkur, sebatang penis menerjang liang anus Farida. Terdengar suara keluhan keras Farida saat Andra menyodokkan batang penisnya hingga amblas sekaligus di lubang dubur siswi cantik itu. Dalam posisi seperti ini, keempat orang yang sedang bertarung dapat saling memberi kenikmatan. Vivi menservice penis Pak Agung, Farida menggeluti vagina Vivi, sementara Andra menyodok-nyodokkan batang penisnya menyodomi Farida. Jemari Andra mengucek-ngucek vagina Farida dan memainkan kelentitnya. Suara rintihan kedua siswi cantik itu disambut oleh suara geraman – geraman Andra dan Pak Agung
Sang guru menggeram semakin keras saat Vivi mengocoki batang penisnya..
“Urrrhhh, kocok sayanggg, KOCOKKK..!! arrrrrgh…” Pak Agung mengerang saat Vivi melumat kuat kepala penisnya.
“pokk pokk pokk pokkk” terdengar suara benturan antara selangkangan Andra dengan buah pantat Farida.
“Essshhh ooowww, Faaaaa….”
Jari tengah pak Agung mencari-cari kelentit Vivi, diurutnya tonjolan clitoris siswi cantik berdada besar itu. Vivi semakin gelisah, belahan vaginanya dimainkan oleh pak Agung dan Farida, ia merintih tertahan.
“ad-aduhh, Bapakkk, ahh Faaa..!!”
“pokk pokk pokkk plokkk.. pelann-pelanhh Andraa…hhh.. plokkkk..”
Farida meringis saat Andra menyodoknya dengan kasar, sesekali Farida berusaha menepiskan tangan Andra yang tengah menguceki kelentitnya, terdengar suara desahan tertahan Vivi dan Farida, saat kedua gadis cantik itu mengejang hampir bersamaan mencapai puncak klimaks.
”nnhhhh Cruttt… crutttt…”
“aaaa… crutttt.. cretttt…..crrrrtt”
Pak Agung menarik batang penisnya dari genggaman Vivi, ia mengambil sebuah gunting, diguntingnya rok seragam Reina hingga terbelah mulai dari lutut hingga kepinggang, disibakkannya robekan itu ke kiri dan ke kanan. Sang guru bersujud, jarinya menekan bagian-bagian celana dalam Reina. Reina menatap pak Agung dengan tatapan antara marah dan gairah.
“Brekkk.. Brrttt…., Breeetttt, !!awwwww..!KEPARATTT..! brETT..!!”
Jerit dan makian Reina mengiringi suara robekan kain celana dalamnya saat Pak Agung merobek dengan kasar di bagian belahan bibir vagina siswi cantik itu. Belahan bibir vagina Reina terekspos di antara robekan celana dalamnya. Pak Agung menarik Vivi dari bawah tindihan tubuh Farida kemudian menekankan wajahnya pada bagian celana dalam Reina yang tersobek. Kedua tangan Vivi melingkari pinggul Reina, ia mengendus dan menghirup dalam-dalam aroma kewanitaan Reina, bibir Vivi meruncing mencoba mengecup wilayah intim Reina melalui sela-sela celana dalamnya yang robek tepat di bagian bibir vagina. Andra menggiring Farida agar memeluk Reina dari arah samping kiri.
“Reiii,emmmh ck ckk ckkk”
“Akhhh, hhh, mmmmmh, Viii,uhhhhh…j-jangan Viii, ahhhh”
Tubuh Reina tersentak ketika batang lidah Vivi menyeruak melalui robekan celana dalamnya. Lidah Vivi bekerja secara efektif mengulas-ngulas belahan bibir vagina Reina yang mengeluarkan cairan gurih. Bibir Farida melumat-lumat Bibir Reina. Desah dan rintihan ketiga siswi cantik itu membuat darah Pak Agung dan Andra berdesir dengan lebih cepat. Pak Agung merengut tubuh Farida, Andra terkekeh sambil mengelus bokong Vivi kemudian meremas-remas bongkahan buah pantat Vivi yang bulat padat sebelum akhirnya menyelipkan batang besarnya ke belahan vagina Vivi.
“Auhhhh…!! “ terdengar seruan Farida ketika Pak Agung melemparkan tubuh Farida hingga punggung siswi cantik itu terhempas bersandar di atas kursi sofa panjang
Pak Agung berlutut sambil menyelipkan dua jarinya ke dalam cepitan vagina Farida. Jari tengah dan jari telunjuk Pak Agung berputar menghadap ke arah perut mencoba meraih G-Spot Farida. G-Spot adalah daerah kecil pada area kemaluan wanita yang terletak di belakang tulang kemaluan dan mengelilingi uretra.
“Ahhhh Ahhhh, Ahhhhhhh…, aduh-aduhh, ahhhh.”.
Tubuh Farida bergerak tidak karuan saat jari tengah Pak Agung menstimulasi G-spotnya. Farida merasa seperti ingin mengeluarkan air seni saat pertama kali titik G-spotnya dirangsang kemudian tubuhnya mengejang-ngejang menahan rasa nikmat yang melebihi rasa nikmat ketika clitorisnya sedang dimainkan. Rasa nikmat yang dirasakan oleh Farida begitu hebat hingga ia merasa sedang berada dalam kurungan tabung kenikmatan yang membungkus sekujur tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai keujung rambut.
Farida
“Pakk, Farida diapain sampe kelojotan begitu, ajarin Andra doong, Vii sini Viii, ngangkang…. He he he, ayo Pak digimanain nih..memeknya??”
Andra meminta Vivi agar berbaring di atas lantai marmer sambil mengangkangkan kedua kakinya yang mulus. Fengan mengikuti instruksi dari Pak Agung, Andra mulai memasukkan dua jarinya sekaligus menghadap ke atas ke arah perut, andra mencari-cari sesuatu yang rasanya mirip seperti busa,
Tubuh Vivi bergerak liar tidak beraturan seperti gerakan-gerakan liar Farida, ia memekik nikmat saat jari Andra mengusapi G-spotnya. G-spot Vivi dan Farida berdenyut sedikit ketika disentuh dengan jari dan usapan pada area tersebut menghasilkan sensasi dan perasaan seperti keluarnya orgasme. Kontan saja Vivi dan Farida berbarengan merintih dan menggeliat liar menghadapi debur-debur ombak kenikmatan yang liar, sementara Pak Agung dan Andra semakin aktif mengusap-ngusap G-spot kedua siswi cantik itu yang berkelojotan dengan tubuh bersimbah keringat, dengan lembut Pak Agung dan Andra terus mengekslorasi G-Spot kedua siswi cantik itu dengan jari nakal mereka, gerakan pak Agung dan Andra berhenti saat tubuh kedua siswi cantik itu mengejang mencapai puncak klimaks, kemudian tanpa menunggu kedua siswi cantik itu berhasil menguasai diri, mereka melanjutkan memainkan jari mereka di dalam vagina Farida dan Vivi.
“PAKKK.., AWWW, AKHHH BAPAKKK, Crrruttt.. CRUTTT..!!”
“AHH-AH , AHHH CReettt Kecruttttt OHH, ANDRAA !!“
“crruttt.. cruttttt…”
“Cruttttttt…….”
“Crruttttttttttttttttttttttt……”
Denyutan puncak klimaks datang saling menyambung dalam waktu yang relatif singkat mendera tubuh mulus kedua siswi cantik itu. Tubuh Farida meliuk-liuk liar, seliar liukan tubuh Vivi, gelombang multiorgasme begitu hebat memecut tubuh-tubuh mulus yang tersiksa, hembusan nafas mereka tertahan selama beberapa detik menahan rasa nikmat di vagina yang menyebar hebat ke daerah panggul. Andra mencabut jarinya dari cepitan vagina Vivi, tubuh gadis cantik berdada bongsor itu masih kejang menahan rasa nikmat yang berlebihan.
“Waduh,..!! Wuish…!! Gelo..!! sepertinyaVivi ke enakan banget ya Pak” Andra berseru keras menyaksikan Vivi yang terengah-engah, tangan Andra mengelus-ngelus buntalan payudara Vivi kemudian menghisap-hisap putting susunya. Dengan gemas Andra menggigit buntalan susu Vivi hingga ia mengeluh kesakitan.
“Tentu…!! Orgasme akibat rangsangan di G-spot jauh lebih nikmat daripada Orgasme akibat rangsangan di clitoris,bahkan kerap kali membuat seorang wanita multiorgasme loh, seperti yang barusan dialami oleh Farida dan Vivi” Pak Agung mulai menurunkan ilmunya, Andra mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian mulutnya kembali mengejar dan menggeluti buntalan payudara Vivi, dielus, diremas kemudian dikenyot-kenyot dengan rakus.
“Apalagi kalau sambil memainkan G-spotnya, lidah kita memainkan klitoris mereka, bapak jamin mereka berdua pasti gelepek-gelepek, kelojotan”
“gimana Vi ?? apa bener kata pak Agung?? tadi kamu mengalami multiorgasme ya??” Andra bertanya pada Vivi yang masih menggelinjang keenakan menikmati hisapan-hisapan mulutny
Vivi mengangguk kecil, jari Andra menyibakkan bibir vagina Vivi. Ia berdecak kagum saat cairan vagina Vivi meluap, cairan itu berwarna putih kental dan begitu harum, aromanya semerbaknya tercium kuat di udara. Andra mencelupkan jarinya kembali kedalam vagina Vivi, dengan sedikit latihan dan bakat, jemari Andra semakin ahli memainkan G-spot Vivi..
“An-Andraaa, ah-ah owww,”
Andra mencoba tehnik baru yang diajarkan oleh Pak Agung, sambil mengusap lembut G-spot Vivi, lidah Andra terjulur memainkan tonjolan klitorisnya. Pak Agung menyodorkan batang penisnya ke dalam rongga mulut Vivi yang ternganga., Happp, Vivi mencapluk batang penis Pak Agung.
“HOUHHHH…!! EDANNN…!!”
Pak Agung mengeluh keras, mulut Vivi mengenyoti batang penisnya dengan kuat, terlalu kuat malah hingga menimbulkan rasa ngilu disela-sela rasa nikmat yang menggila. Farida merangkak mendekati Andra yang tengah asik memainkan jari dan lidahnya untuk menyiksa Vivi, dengan lembut Farida mengosok-gosokkan payudaranya ke punggung Andra. Tangan Farida meraih penis Andra dari belakang kemudian mengocok-ngocoknya.
“humm hummmh…” suara mulut Vivi yang tersumpal penis Pak Agung.
“UAHHH, Huu-H-UrrrHHH”
Suara pak Agung yang keenakan penisnya diemut-emut oleh si susu besar, nafasnya tertahan-tahan merasakan rasa nikmat yang bukan kepalang.
“ssslcck ckk llllcckkkkkk.. sllleckkkkkkk.Cpphhh, Ckkk”
Suara decakan mulut andra yang tengah menjilati kelentit Vivi.
“Plekffhh.. plekk plekk plekkk” suara gangan Farida mengocok-ngocok batang penis Andra yang semakin menegang
Sesekali Mulut Farida mengejar penis Andra kemudian mengulum-ngulumnya dengan penuh nafsu, suara rintihan – rintihan lirih Farida dan Vivi terdengar menggairahkan. Terdengar suara pekikan kecil Vivi, tubuhnya melenting saat gelombang kenikmatan membawanya terangkat setinggi langit biru dan kemudian menghempaskannya ke dasar lembah samudra puncak klimaks, dengan berbekal ilmu baru dari pak Agung. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk membimbing Vivi berkali-kali menuju puncak kenikmatan. Andra melepaskan Vivi, ia merangkak menghampiri Reina yang masih berlutut di atas sebuah meja dengan kedua tangan terikat ke belakang. Reina bergidik saat matanya menatap sinar mata Andra yang berbinar, kalau saja tangan Reina tidak terikat ingin rasanya ia menampar wajar Andra.
“Reii, seksi amat sih, ada apa sih di dalam sini?? Aku liat ya…“
Andra menyibakkan sela robekan celana dalam Reina untuk mengintip isinya.
“AnDRA..!! Jangan kurang ajar…!!” Reina memaki Andra.
“Waaah kirain apaan ??, ternyata isinya memek kamu tohh,,”
Andra pura-pura bodoh, dari bagian celana dalam yang terobek jemari Andra menyelinap mengelus – ngelus bibir vagina Reina. Reina mendesah pelan nafsu birahinya mulai terpancing oleh elusan-elusan tangan Andra. Luapan nafsu birahi menenggelamkan kemarahan Reina, ada sesuatu di dalam dirinya yang terusik menahan sensasi jari andra.
“ihh ?? !! “ Reina terpaku saat ia melihat ke arah Pak Agung yang sedang duduk santai di atas sofa
Pak Agung mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, Farida dan Vivi berebutan menjilat dan menciumi penis Pak Agung, mencumbu dan mengulum-ngulum penis sang guru yang besar dan panjang. Pak Agung membelai-belai kepala Vivi dan Farida, guru bejat itu keenakan saat batang penisnya dimanjakan oleh cumbuan – cumbuan kedua muridnya yang cantik.
“Reiii…, sekali ngerasain dientot, kamu pasti ketagihan, ingin lagi dan lagi…, tuh kamu liat si Vivi sama Farida udah ketagihan kontol he he he he”
Andra berbisik di telinga Reina, bibir Andra mencumbui rahang Reina
Reina menjerit kesal karena tidak berdaya menolak perlakuan mesum Andra. Saat Reina menoleh ke arahnya untuk memaki, bibir Andra langsung menyergap dan melumat bibirnya. Suara decakan-decakan terdengar menggairahkan dari bibir yang memanguti bibir Reina, Andra menyusupkan tangannya masuk kedalam celana dalam Reina, ia menggaruk-garuk bulu-bulu jembut Reina kemudian memijat-mijat vaginanya seperti sedang melakukan terapi pijatan mesum yang menggairahkan, lelehan cairan Vagina Reina membuat pijatan Andra terasa semakin mengasikkan , lengket, licin geli-geli nikmat.
“Annd-Andraaa, Ennhh, ahhhhhhh, hsssshhh..”
Andra menatap wajah Reina, ia menikmati setiap ekspresi wajah Reina yang tengah menikmati pijatan. Elusan dan garukan – garukan di wilayahnya yang paling intim. Lidah Andra terjulur menekan sela bibir Reina, Reina menyambut dengan membuka mulut dan menjulurkan batang lidahnya keluar, batang – batang lidah yang basah dan hangat saling bergelut, lumatan dan Andra membuat Reina bertekuk lutut, Reina menarik pinggulnya ke belakang saat jari tengah Andra mendesak belahan vaginanya, Slephhh..!!
“aaa, , perih, sakittt, awww..!!.AKHHHHH…!!”
wajah Reina tampak renyah saat Andra mengamblaskan jari tengahnya pada belahan Vagina gadis itu,tubuh Reina tersentak mengejang, ia merintih lirih saat jari tengah Andra melukai sesuatu miliknya yang sangat berharga, perlahan Andra menarik kembali jari tengahnya keluar kemudian kembali menusukkan jarinya kuat-kuat kedalam liang perawan sebelum akhirnya andra menarik jari tengahnya dari jepitan vagina gadis itu
Mata Andra berkilat saat memperhatikan cairan merah membasuh ujung jari tengahnya. Reina melengoskan wajahnya memandang ke arah lain saat Andra berjongkok di hadapan vaginanya.
“wuihhh, lezatnya darah perawann he he he, Slllccckkk, slccckkk”
Lidah Andra terjulur menjilati darah perawan Reina kemudian ia menyelinapkan batangnya melalui robekan celana dalam Reina. Ada sensasi yang berbeda saat Andra menggerak-gerakkan batang penisnya berusaha mencari-cari sesuatu dibalik celana dalam Reina yang menjanjikan sejuta kenikmatan, saat dirasakan pas, Andra berkutat berusaha mengamblaskan batang penisnya kedalam cepitan vagina gadis itu.
“Ahh, ini dia, permisi ya Reiii, numpang nyoblos dikit ajaa, hi hi hi”
“Unnh, nhhhhhhh…!! Afffhh Uhhhh ??.”
Tubuh Reina mengejang merasakan penis Andra mendesaki belahan Vaginanya, dengan tekun dan giat Andra terus berjuang mendesakkan batang penisnya, Andra menggeram-geram gemas, dengan satu sentakan yang kasar dibongkarnya otot Vagina Reina yang membandel, JROSSSHH..!!
“brrrttt brrrttt krrrtttttttt…”
“AHHHHHHH…..!! awwwwhhhhh, Hee-ennhhs, AKKHHH..!!“
Reina mengeluh keras saat kepala penis Andra menguakkan selaput misteri liang kenikmatannya yang selama ini dijaga dengan hati-hati olehnya. Batang penis Andra menekan memasuki belahan vaginanya, tangan Andra mendekap bokong Reina. Sambil menarik pinggul Reina, Andra mendesakkan batang penisnya jauh kedalam. Penis Andra merangsek selaput dara gadis cantik itu, menjebol keperawanan Reina. Kini milik Reina yang paling berharga bukan hanya terluka namun hancur robek ditembus oleh batang penis Andra.
“Aduhhhh, saaa…kiiiiiitttt…, nnnnhhh, sudah.., akkhh, sudah,,!! Jangann..!!”
“Aje Gileee..!! Ohhh Reiiiii…!! UENAKK…GETHO LOHHH..!!”
Andra memeluk erat-erat tubuh Reina yang gemetar hebat, ia membetot batang penisnya perlahan hingga sebatas leher penisnya tertancap pada vagina Reina kemudian dengan satu sodokan yang kuat Andra mnjebloskan seluruh batang penisnya kedalam liang kenikmatan di selangkangan Reina yang menangis terisak.
“Unnnggghhhh…!! Aduhhh…, aduhhhhhhh” disertai suara lenguhan panjang, kepala Reina terkulai lemas dibahu Andra,
Reina
Tangan kiri Andra mengelus-ngelus punggung Reina yang berkeringat, sedangkan tangan kanannya mengusapi bokong dan sesekali meremas-remas buah pantatnya. Penis Andra menusuk-nusuk dengan kasar, isak tangis Reina membuat Andra semakin bersemangat merojoki liang vaginanya.yang peret.
“Ohhh, Ampun, Andraa, sakkiii……tttt!!AWWW, Emmmh Emmhhh..!!”
suara Reina teredam oleh Mulut Andra yang begitu rakus melumati bibirnya yang mungil. Andra semakin ganas dan rakus mengulum bibir Reina sementara batang penisnya bergerak maju mundur dengan lebih kasar menyodoki liang vagina Reina yang hangat nikmat. Reina menarik bibirnya dari bibir Andra ia kembali mengeluh kesakitan, pinggangnya melenting – lenting ke belakang, kedua tangannya mencengkram pinggang Reina yang ramping. Andra beraksi dengan prima mengayun-ngayunkan batangnya, menyodoki belahan di selangkangan Reina..
“Andraaa, !! sakitt, SAkiiittttt…..” jeritan Reina melengking, isak tangisnya semakin keras,
Batang penis Andra menusuk tanpa mempedulikan jeritan dan isak tangis Reina, menggali liang vaginanya, mengais kenikmatan di dalam celah sempit diselangkangannya.
“Clepp.. Cleppp.. CLeppp.. Cleppp!!” suara gecakan-gecakan becek terdengar keras saat batang penis Andra menumbuki belahan vagina Reina. Sesekali Andra menggoyangkan penisnya ke kiri dan ke kanan kemudian memutar-mutar melakukan gerakan mengaduk yang membuat Reina merintih-rintih keenakan, rasa sakit mulai memudar digantikan oleh rasa nikmat, setiap sodokan Andra membuatReina semakin dekat menuju pintu puncak klimaks.
“Aaa-euhhhh…??!! Crrrr Crrrrrrhhhhh….huuhhh ?? Huuhhh ??!!”
“Gimana Reii ?? Enak banget kann ??”
Wajah Reina mengernyit menahan rasa nikmat, ia tidak dapat mengontrol vaginanya yang berdenyutan. Cairan vaginanya meledak tak berdaya, batang penis Andra begitu rajin menyodok-nyodok celah kenikmatannya yang semakin banjir oleh lelehan lendir-lendir vagina. Nafas Reina berdengusan di sela isak tangisnya.
“Sudah Andraaa, nggak mauuu, sudahh hkkk hkkkksss..”
“belum Reii, belumm aku masih pengenn he he he”
Andra mulai mempersiapkan serangan berikutnya, ia mengaitkan tungkai kaki Reina pada tungkai lengannya, jemarinya membentuk cakar, kedua tangannya menopang mencengkram buah pantat gadis cantik bermata sipit itu yang masih terisak. Posisi Andra mirip seperti sedang menggendong Reina dari depan, batang penisnya menancap di cepitan liang vagina Reina. Andra mengayunkan batang kemaluannya dengan teratur, dibetot dan dibenamkannya berkali-kali pada belahan vagina Reina yang hangat nikmat..
“Ouhhh, ahhhhh, ahhhh..!!ahhhhh….”
Tubuh Reina terayun mengikuti irama sodokan-sodokan batang penis Andra. Ayunan tubuh Reina semakin cepat seiring dengan semakin naiknya nafsu Andra. Andra mendesakkan tubuh molek Reina ke sudut ruangan, batang penisnya bergerak memompa dengan cepat, Reina meringis – ringis rasa geli bercampur dengan rasa nikmat mengiringi gesekan-gesekan batang penis Andra dengan dinding vaginanya.
“CLEPP.. CLEPPP BLEPP CLEPPP…!!…”
“Ahh, ahhh-ah, awwww, aduhh akkhhh And-drah!!, Ahhhh!!”
Kedua mata Reina yang sipit merem melek keenakan, Andra tersenyum mendengar suara desah dan rintihan lirih gadis itu. Ia menurunkan tubuh Reina, kemudian dibalikkannya tubuhnya ke arah dinding, ditariknya celana dalamnya ke bawah hingga tersangkut di kedua lututnya, ditariknya pinggul gadis itu, batang terkutuk milik Andra mendesak dubur Reina dengan kasar Andra memaksa Reina menyerahkan kenikmatan yang tersembunyi di dalam liang anusnya..
“Jangan..!!, Jangan disitu, aku mohon Andraaa, toloongg..!! Akkkhhh”
“Diam kamu Reiii, diammmm…!! Hihhhhh….” Andra menjambak dan menarik rambut Reina ke belakang, batang penis Andra menusuk-nusuk kasar berusaha membobol dubur Reina..
“awww..!!Tii.. Tidakkk OWW..! BLesshhhhhh….ARHHH….!!!”
Gerakan kasar penis Andra menyobek otot anus Reina. Reina menjerit keras saat batang penis sipegulat tangguh merayap masuk menyodominya, air matanya kembali berderai , berulang kali terdengar suara jerit kesakitannya.
“He he he, Whuiihhh…!! Anjrittt Reiiiiiii…!!”
Andra berseru keenakan sambil mengamblaskan batang penisnya lebih dalam lagi menyodomi Reina. Kedua tangan Andra mencekal pinggang Reina, dengan bebas batang penis Andra mengaduk-ngaduk liang anus Reina. Ia tidak mempedulikan jerit kesakitan gadis cantik itu
“Pokkk.. Pokkkk.. Pokkkk…”.
“ANDRAAA.. ANDRAAAAAA…!! Ngeee-enhhhhHHHH”
“Reiii, lubang kamu , dua, duannyaaahh, enakkk… urrrhh”
“Sudah, Andraaa, Sakittt, Aduhhh Owwww…, sakit sekaliii..!!cabuttthhhh”
“tapi Aku enak bangett Reiii, Hiihhh…, Tahan Reii , TAHANN..!!”
“Aduhhh..!! OWW…, ADU-DUHH, AWWWW…!!”
Andra seperti sengaja mempermainkan Reina, batang penisnya menyentak-nyentak dengan kasar, mata Andra membeliak merasakan rasa nikmat saat batang penisnya bergesekan dengan dinding anus Reina. Liang anus Reina terasa panas dan nikmat, tubuh mereka basah kuyup dilelehi peluh. Siswi cantik itu mengeluh panjang saat Andra membenamkan seluruh batang penisnya beristirahat di dalam liang anusnya, buah pantatnya yang empuk bergesekan dengan selangkangan Andra. Ia menggesek dan mendesakkan selangkangannya pada buah pantat Reina yang bulat padat.
Setelah berhasil memulihkan tenaga Andra kembali memacu batangnya menyodomi Reina dengan lebih liar dan ganas. Reina meringis merasakan rasa ngilu yang menggigit anusnya saat batang penis Andra bergerak kasar menyodominya.
“Pokk Pokk Pokk Pokk Pokk Pokkk..!!”
“Andraa, cabutt, Aduh aduhh, OWW, Ngehhh, ngiluuu, aduuuhh…”
Setelah puas menyodomi Reina Andra menghentikan tusukannya kemudian ia berbisik ditelinga Reina. Gadis itu mengangguk, perlahan-lahan Andra mencabut batang penisnya dari dalam lubang anus Reina. Setelah melepaskan ikatan ditangan Reina, Andra membalikkan tubuhnya menghadap ke arahnya, tangan Andra mengusapi lekukan pinggang Reina. Mulut Andra melumat bibir mungil itu, kemudian mengajaknya untuk ber French kiss.
“Masukin Rei, ayoo, kalau tidak, aku sodomi lagi ..” Andra mengancam.,
“Iy-ya, Andra, Iya, aaaahhhhh…., slllepphhhh…”
Karena ketakutan Reina buru-buru menyambar dan menjejal-jejalkan penis Andra ke dalam vaginanya. Reina mendesah saat ia berhasil menyelipkan batang Andra ke dalam belahan vaginanya. Rasa nikmat mengiringi masuknya penis Andra, kini kemaluan Andra tertancap sebatas leher penis.
“Bagus Reii, gitu dongg, masa titit aku dibiarin kedinginan di luar memek kamu, enakan didalam, anget, ada empot-empotnya gitu…”
jantung Andra berdetak kencang merasakan kedutan-kedutan otot vagina Reina yang menggigit kuat batang penisnya, dinding vagina Reina berkontraksi meremas-remas kepala penis Andra. Sambil berkacak pinggang Andra mendesakkan batang penisnya agar masuk lebih dalam, ia menoleh ke arah Pak Agung yang membimbing Farida dan Vivi mendekati arena pertempuran. Pak Agung memasangkan STRAP-ON pada Farida.
“Buset dah?? Mau diapain pak ??HA Ha Ha “ Andra mendelik kemudian tertawa ngakak melihat sebuah benda dari karet yang menggantung di selangkangan Farida
Pak Agung hanya tersenyum penuh arti, Andra menonton suguhan gratis sambil kembali mengancam Reina agar bergoyang.
“REiiii !!! Goyang oiiiiii….!!”.
“Viii, nungging sayanggg…”
Pak Agung menyuruh Vivi menungging. Vivi menurut ia menungging di atas lantai. Pak Agung meremas-remas buah pantat Vivi kemudian ia mengarahkan bokong gadis itu ke arah Farida. Pak Agung meminta Farida bersujud tepat di belakang bokong Vivi. Pria itu lalu mengarahkan ujung STRAP-ON pada liang anus Vivi. Farida menuruti instruksi Pak Agung untuk menyodomi Vivi dengan STRAP-ON, dengan lembut Farida mendesakkan straponnya untuk menyodomi Vivi, sesekali ia menghentikan tusukan straponnya saat Vivi mengeluh., setelah STRAP-ON itu terbenam seluruhnya Pak Agung mengambil posisi berlutut di belakang bokong Farida. Sang guru menusukkan batang penisnya mendesak liang anus Farida melalui celah latex yang sepertinya memang disediakan untuk aksi sodomi.
“nah, Faaa, seperti inilah yang dirasakan oleh Vivi sekarang, gimana rasanya?? enak bukan ??Ayoo kamu juga goyang biar Vivi juga merasa enak..”
Pak Agung mulai mengayunkan penis besarnya mengolah liang anus Farida, Farida mencoba untuk mengayunkan STRAP-ON yang terpasang di selangkangannya. Saat Farida terdesak ke depan disodomi oleh Pak Agung, STRAP-ON itu juga ikut terdorong maju membelah anus Vivi.
“Ahhh…BAPAKK, Ahhhhh-ahhh”
“Plakk Plakk Plakkk..!!!” Farida mendesah saat Pak Agung semakin kasar menyodominya.
“Auhh, Ehssshhhh, Faaaa, pelan-pelannhhh uhhhhh..” Vivi merintih saat strapon di selangkangan Farida menusuk kasar liang duburnya.
“b-bukan aku Viii, Pak Agung nihh.., akhhhh…”
Dengan cara demikian, Pak Agung dapat membuat kedua muridnya yang cantik merintih disaat yang bersamaan, jika pak Agung menyodomi Farida dengan lembut, maka STRAP-ON diselangkangan Farida membelah Liang anus Vivi dengan lembut, jika pak Agung menyodomi Farida dengan kasar maka STRAP-ON itu membelah dubur Vivi dengan kasar.
“Edannn…!! Bapak bener-bener kreatif dahh, Rei jangan berhenti dong, digoyang Reiii, digoyangggg… aduhhhh, gimana sih, bandel amat…”
Andra masih juga protes karena Reina menggoyangkan pinggulnya dengan ogah-ogahan. Andra yang cerewet membuat Reina naik darah, sambil memeluk Andra, Reina menghempas-hempaskan vaginanya dengan liar, digoyang ke kiri, digoyang ke kanan, kemudian dihempas-hempaskannya lagi. Reina mendesah-desah keras saat menghempaskan vaginanya. Batang penis Andra keluar masuk di belahan vagina gadis itu.
“Anjrittt..!! Wadowww, Reiii, Heuh, UHH ?? Reiii Akhhh..!!”.
Tangan Andra membelit pinggang Reina, kali ini Andralah yang kewalahan, Reina begitu cantik dan liar, rintihan-rintihannya membuat angan Andra melayang tinggi ke udara. Andra mengeluh saat Reina menggoyang pinggulnya seperti sedang mengayak beras kemudian kembali menggoyangkan vaginanya dengan liar. Reina mendorong tubuh Andra hingga ia jatuh terjengkang ke belakang. Andra terlentang dengan posisi kedua kakinya mengangkang. Reina menerkam sesuatu selangkangan Andra.
“WHOAAHHHH, WAduhhhh…..!!,UAHHH”
Reina membetot Penis Andra dengan bernafsu dikocok-kocoknya batang penis yang telah merampas kehormatannya itu. Ada sedikit dendam, marah di antara nafsu liar Reina. Happp, dengan kasar Reina mencapluk kepala penis Andra, tubuh Andra mengejang, menggelepar menahan rasa nikmat, matanya mendelik-delik merasakan nikmatnya hisapan-hisapan mulut Reina yang begitu rakus mengemuti kepala penisnya.
“Jangan digigit Reiii, aduh, AWWW…!!WOAHH..!!”
Reina menggigit-gigit kepala penis andra , kemudian mengunyah penis Andra seperti sedang mengunyah sosis, lidahnya terjulur-julur menggelitiki memutari kepala penis yang bentuknya mirip sebuah helm kemaksiatan itu. Lalu ujung lidah Reina meruncing menggelitiki lubang penis Andra, pipi Reina mengempot-ngempot saat ia mengemuti biji kemaluan Andra. Tangannya terus mengocok-ngocok batang penis Andra dengan cepat dan kuat. Penis itu pun makin memar kemerahan akibat kocokan yang terlalu kuat.
“Hoahhhh…REiii!! Sprutttt.. Spruutttt… Croottt..!!”
“Slllrrrpp, slllrrrpp,, Nyummmmm, Nyott Slllrrrrrrpp Nyotttt”
Sperma Andra meledak, mirip seperti air mancur ditaman, mulut Reina membekap lubang penis Andra dan menyedot habis sperma Andra, bahkan dengan rakus lidah Reina membersihkan percikan sperma di selangkangan Andra hingga bersih. Reina naik ke atas tubuh Andra ia menggesek-gesekkan vaginanya yang becek oleh cairan vagina pada perut si gentut itu, kemudian ia merayap naik meneduhi wajah Andra.
“wahhh, makasih Reiii, kamu koq tau sich, aku paling demen ngisepin memek. Hemmm Mhhhh Ckkk.. Ceeekkhh,, Sleckkkkhh, Nyammm, lezatt Reiii, duhhhh, sedapppphhmmmmm”
Disertai nafas yang berdengusan, mulut Andra mencapluk, mengunyah belahan bibir vagina Reina yang terasa asin, gurih, beraroma khas. Reina mendesak-desakkan vaginanya pada mulut Andra yang ternganga lebar. Si pegulat tangguh mencapluk selangkangan Reina, lidahnya bergerak liar ke kiri dan ke kanan menampari bibir vagina Reina. Hidung Andra mengendusi jembut Reina yang harum, batang lidahnya menari membelai belahan bibir vagina gadis itu, tangannya menarik pinggang Reina ke bawah agar vagina Reina mendesak wajahnya. Mulut Andra semakin hebat melumat-lumat bibir vagina gadis itu dan batang penisnya kembali bangkit.
“Geser Reiii, aku pengen lagi nih….”
Andra mendorong pinggul Reina, Reina mendesah gelisah saat penis Andra menempel di pintu duburnya. Batang Andra mengetuk – ngetuk, meminta izin untuk dapat berselancar, menyodomi anus Reina. Tubuh molek Reina mengejang hebat menahan sesuatu yang mendesak otot anusnya, nafasnya terputus-putus saat merasakan liang anusnya direkahkan paksa oleh batang panas di selangkangan Andra.
“Awwwhhhhhhhhhh……!!! “
Tubuh Reina terdesak keatas saat Andra menghujamkan kepala penisnya ke atas menyodok liang anus siswi cantik itu. Bibir Reina meruncing, lidahnya sedikit terjulur keluar dari bibir mungilnya yang merekah saat penis Andra mendesak masuk semakin dalam menyodomi liang anusnya..
“Slepppp,, Sleppppp Pefffhhhh, befffh befffhhh”
Reina menaik turunkan anusnya pada kaitan batang penis Andra, si pegulat tangguh membantu dengan mengangkat-angkat pinggang Reina. Payudara gadis itu bergerak indah saat ia berusaha mengamblas-amblaskan batang penis Andra kedalam liang duburnya. Tangan Andra meraih dan meremasi payudaranya yang membuntal padat.
“PAKK, BAPAKKKK…!! Minta Dildo Pakkk…”
Andra berteriak meminta dildo pada pak Agung
“Nihhh, Tangkepp…!! “ Pak Agung melemparkan dildo ke arah Andra, saat dildo itu melayang di udara pinggul Reina bergoyang-goyang dengan dahsyat hingga konsentrasi Andra menjadi kacau.
“SPLAAKKKKK…!!, WADUHHHH….!! Mampus dahh…!!”
Dildo itu menempel di jidat Andra sehingga ia mengaduh sambil mengusap – ngusap jidatnya sebelum menyambar dildo yang terjatuh di samping tubuhnya, lalu diarahkannya ujung dildo berbentuk kepala penis itu ke belahan vagina Reina.
“Bleessshhhhh…!!akkkhhhhh” Andra menusuk belahan vagina Reina dengan dildo. Ia terkekeh saat tubuh mulus Reina menggeliat-geliat menahan rasa nikmat ketika dildo itu merayap memasuki belahan bibir vaginanya
“Nahh, Ayo Reiii, terus…terusssshh“
“Ahhh, Ussshhhhh, ah-ah, ohhhhh Andraaaa…!!”
Dengan sebatang dildo yang tertancap di vaginanya, Reina berusaha menaik turunkan anusnya pada batang penis Andra, ekspresi wajahnya seperti menahan rasa sakit yang sangat nikmat. Andra semakin aktif menghentak-hentakkan batang penisnya ke atas. Kedua tangan Andra kembali meremasi sepasang payudara Reina dengan penuh nafsu, butiran keringat mengucur deras membasuh dua sosok tubuh berbeda kelamin yang tengah berjuang menggapai secuil kenikmatan.
“ahh,aahhh, ahhh, aaaaaaa” Reina merintih keras sambil menghempas-hempaskan duburnya kuat-kuat
Gerakan-gerakan Reina mirip seperti artis-artis film porno. Jeritan – jeritan liar Reina bercampur dengan desahan-desahan kerasnya yang menggairahkan. Butir-butir keringatnya mengucur deras membasahi tubuhnya yang molek membuat kulit mulusnya berkilat-kilat indah.
“OOOOO…… hhhhhh…, crrutttttt.. crrrtt crrttt….”
Bibir Reina membentuk huruf O besar, kedua matanya yang sipit terpejam rapat, wajahnya mengernyit menahan denyutan-denyutan puncak klimaks, Andra semakin garang menyentak-nyentakkan penisnya ke atas, ia menggeram dan mengejan dengan kuat berusaha menembak liang anus Reina dengan semburan spermanya.
“Srooottt… crrotttt crooootttt…., HUakkHHH”
Mata Andra mendelik, spermanya muncrat di dalam liang anus Reina. Pak Agung tersenyum, ia berbisik ditelinga Vivi dan Farida, mereka mengangguk kemudian menghampiri Reina yang terlungkup memeluk tubuh Andra yang berada di bawah tindihan tubuhnya yang putih mulus. Reina mendesah saat Vivi mencabut dildo yang tertancap di vaginanya, setelah itu, Farida dan Vivi membantu Reina untuk berdiri. Farida tersenyum nakal, ekor matanya mengerling ke selangkangan Andra, benda terkutuk itu kini terkulai tanpa daya, mengkerut dan mengecil. Andra tergeletak dengan tubuh bersimbah keringat, kedua matanya terpejam rapat, dengus nafasnya berhembusan dengan kuat bagai hendak dicabut nyawa.
Vivi dan Farida menggandeng Reina masuk ke kamar mandi, terdengar suara kucuran air shower ketika ketiga siswi cantik itu saling membasuh tubuh masing-masing, +/- 25 menit kemudian mereka keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh terbalut selembar handuk masing-masing melilit ditubuh mereka yang mulus. Ketiga siswi cantik itu berdiri di hadapan pak Agung dalam jarak ½ langkah saja. Nafas Pak Agung tertahan saat tiga handuk berlainan warna itu terlepas dari tubuh pemiliknya, lekuk tubuh yang menggairahkan, mulus, indah tanpa cela kini tersaji di hadapannya. Reina diapit oleh Vivi di kiri dan Farida di sebelah kanan.
“Nahh, kalian berdua ajari Reina untuk mendeepthroat penis Bapak..”
Pak Agung mengangkangkang kakinya melebar, mereka bersujud seperti menyembah sesuatu di selangkangannya. Vivi menekan belakang kepala Reina ke selangkangan Pak Agung, sementara Farida mengusap-ngusap buntalan payudara Reina dari arah samping. Reina menggengam batang kemaluan pak Agung yang besar panjang, detak jantungnya semakin tidak beraturan ketika benda ditangannya berdenyut-denyut kemudian berdiri bagaikan sebuah tiang raksasa.
“Happp.., Hmuuffhhhh…”
Reina mencapluk kepala penis Pak Agung, centi demi centi Penis Pak Agung merayap ke dalam mulut Reina. Wajahnya mengernyit ketika kepala penis Pak Agung menyesaki kerongkongannya, ia buru-buru memuntahkan penis itu dari dalam mulutnya sebelum merayap lebih dalam lagi.
“Uhukk.. uhukkk.. ehmmm uhukkk…” Reina terbatuk, Farida menepuk-nepuk punggung Reina, Vivi tertawa nakal kemudian mencium pipi Reina, bibir Vivi mencumbui leher Reina, Farida tidak mau kalah ia menggeluti lehernya, suara rintihan Reina diiringi suara desahan Vivi, juga disambut oleh tawa kecil Farida.
“Reiii, kamu belajar ya, perhatikan caraku mendeepthroat penis Pak Agung”
Vivi mencoba mengajari Reina, Reina mengangguk pelan
Mulut Vivi meneduhi kepala penis Pak Agung, lidah Vivi bergerak lembut melingkari kepala penis Pak Agung. Setelah mengulas beberapa kali kemudian Vivi mengamblaskan penis Pak Agung ke dalam mulutnya, kerongkongan Vivi menerima penis Pak Agung, memanjakan batang penis Pak Agung yang besar panjang.
“Viii ?? !!ASTAGA…!!” Reina terkejut, mulut Vivi seperti menelan batang besar itu,
Farida memeluk Reina dari belakang, tangannya menangkup induk payudara Reina sebelah bawah. Pak Agung membelai-belai kepala Vivi, bahkan sesekali menekannya kuat-kuat hingga terdengar suara lenguhan dari mulutnya yang tersumpal penuh oleh penis pak Agung. Perlahan Vivi menarik mulutnya sambil menghisap kuat-kuat batang penis milik si guru bejat.
“Ehhh, Ehemmm, hemmm, yeee ini anak, disuruh belajar malah asik sendiri” Vivi berdehem beberapakali, ia menolehkan wajahnya ke arah Reina yang sedang asik-asiknya saling memangut dan melumat dengan Farida. Farida terus mengecupi bibir Reina, Vivi memisahkan mereka, kemudian menekankan kepala Reina kembali kepenis Pak Agung.
“Ayo Rei, jangan malu-malu, telan gih.. he he he” Farida berbisik nakal di telinga Reina, wajah Reina merona merah, mulutnya mencoba untuk menelan batang penis milik gurunya. Ccenti demi centi batang penis yang besar panjang mulai merayap memasuki kerongkongan Reina. Vivi membantu menaik dan menekankan kepala Reina, dengan lembut ia mengajari Reina untuk melakukan deepthroat sedalam mungkin. Pak Agung tersenyum, telapak tangannya membelai-belai kepala Reina, tampaknya Reina semakin pandai mendeepthroat sebatang penis besar di dalam mulutnya. Sesekali ia menarik kepalanya hingga penis pak Agung terlepas dari mulutnya untuk mengambil nafas kemudian kembali melanjutkan pelajaran sextrakulikulernya.
“Sini Vi, aku bantu!” Farida membantu memasangkan strapon pada Vivi,
Vivi berlutut dibelakang pinggul Reina, ia menggesek-gesekkan penis karet bergerigi itu pada belahan vagina Reina, perlahan-lahan Vivi mendesakkan pinggulnya, benda berbentuk penis itu merayap memasuki belahan Vagina Reina, pak Agung semakin kuat menekan belakang kepala Reina, batang penisnya mendeepthroat kerongkongannya lebih dalam lagi
“emmmhh.. emmmhhh mmhhh Faaa Emmmhhh”
Sambil mengayunkan pinggulnya Vivi berciuman dengan Farida. Ciuman Farida merayap ke leher, pundak, bahu, punggung, tanganya mengelus-ngelus bokong Vivi kemudian menarik buah pantatnya agar menungging. Farida menyelipkan dildo di tangannya melalui celah latex, ditusuknya vagina Vivi dengan sebatang dildo berulir, mirip seperti ulir sebuah sekrup.
“Sprepphh,, sprepphhhh.. spreppphhh…”
Farida tersenyum mendengar suara becek bibir vagina Vivi yang bergesekan dengan ulir-ulir dildo. Dengan teratur Farida menusuk-nusuk vagina Vivi dengan dildo, Vivi merintih dan mendesah keras menikmati setiap gesekan antara ulir-ulir dildo dengan bibir vaginanya. Pak Agung menghela nafas dengan keras. Sang guru mulai beraksi, setelah melepaskan strapon dari tubuh Vivi dan Farida. Pak Agung mendudukkan ketiga orang muridnya duduk bersandar berdampingan, kini Pak Agunglah yang berlutut sambil menggerayangi lekuk liku tubuh-tubuh molek putih mulus yang menggeliat kegelian.
“Ee-ehh, PAKK..!!” Reina menepiskan kepala penis Pak Agung yang menggesek belahan vaginanya, Reina ketakutan berdasar pada diameter dan panjang batang Pak Agung yang lebih besar dari milik Andra..
“Lhoo ?? kenapa ??”
“Takut PAkk…”
Reina menatap benda mengerikan diselangkangan Pak Agung, Vivi menggigit bibir dengan wajah merona merah, ia mengerti perasaan Reina, Farida berdehem, ia berpura-pura tidak mendengar kata-kata Reina.
“HA HA Ha HA, nyatei aja lagi, titit bapak ngak akan ngigit kamu koq “ Pak Agung hanya tertawa sambil meremas dan mengelus-ngelus buntalan susu Reina, dipilin-pilinnya puting susu Reina yang mengeras, dicubit dan ditariknya pentil meruncing di puncak susu siswi cantik itu yang berwarna merah muda.
“Emang nggak akan ngigit, tapi bisa jebol aku ditusuk barang sebesar itu” Reina mengeluh dalam hati,
Pak Agung menghadapkan dua jarinya yang merapat ke arah langit-langit ruangan itu, sambil tersenyum bijak pak Agung mengamblaskan kedua jarinya dengan perlahan, menggapai G-spot Reina. Vivi menahan kaki kanan dan Farida menahan kaki kiri Reina, nafas Reina mulai memburu saat Pak Agung mengusap-ngusap G-spotnya, sepasang kakinya yang halus mulus mengejang-ngejang, tubuhnya bergerak tak beraturan..
“Nahh Reii, ini yang namanya sensasi Gspot, gimana??”
“Nnkhh, nkkkhhh enkkhh. PAAAKKKK”
Usapan-usapan pak Agung pada G-spotnya membuat Reina semakin gelisah, resah. Pak Agung menikmati setiap ekspresi wajah Reina yang meringis-ringis menahan rasa nikmat. Vivi menambah kenikmatan itu dengan menjilat-jilat putting susu Reina yang mengeras, sedangkan Farida mengecupi bibir Reina, butir-butir keringat lembut kembali membalut tubuh mulus Reina yang berkilap indah dibawah rambasan sinar mentari, sambil mengusap-ngusap G-spot Reina, lidah Pak Agung terayun menjilat-jilat tonjolan kelentitnya.
“ah-ah! Ahhhh ahhhh!! Aduhhh, akhhhh”
Tubuh Reina menggelepar hebat , semakin hebat tubuh Reina menggelepar, semakin hebat pula lidah Pak Agung melindas-lindas tonjolan daging kelentitnya, dua Jari Pak Agung pun semakin aktif mengelus-ngelus G-spot Reina. Rintihan Reina semakin keras, dengus nafasnya semakin cepat tertahan-tahan. Kedua matanya yang sipit terpejam-pejam keenakan.
“Errrhhh, akhhhhh Crrr Crrrr Crrrrrrrrrrrr….”
Mulut Rena terbuka seperti akan mengucapkan huruf “A” besar, sekujur tubuhnya yang molek gemetar, butiran keringatnya mengucur dengan deras, entah sudah berapa kali rasa nikmat itu berulang dan berdenyutan diliang vaginanya,
Saat Pak Agung menarik jarinya, cairan vagina Reina meluap meleleh, aroma khas vaginanya tercium harum semerbak. Sang guru melumasi batang penisnya dengan cairan tersebut. Penis pak Agung berkilap seperti sebatang kayu besar yang dipernis. Reina memejamkan matanya rapat-rapat saat batang penis pak Agung menyentuh belahan vaginanya.
“Uw-WaaAHHHHH…!! NNN..KHHHHH…!!! OWWWW…!!” mata Reina membeliak, tubuhnya yang putih mulus mengejang saat batang Pak Agung melakukan penetrasi,
Bibir vagina Reina melesak-lesak saat Pak Agung mengamblas-amblaskan batang besarnya pada celah sempit di selangkangannya. Mendengar suara rintihan Reina, Pak Agung semakin bernafsu menggenjotkan penis besarnya , tubuh molek Reina melenting – lenting, menggelepar, kelojotan tanpa daya, Reina mengerang dan meringis saat penis besar pak Agung memasuki dirinya, tubuh Reina terguncang, terdesak-desak hebat oleh benda besar panjang di selangkangan Pak Agung.
“Emmh, emm-mmhh..Ohh BAPAKKK..!!”
Reina merengek saat Pak Agung menarik batang besarnya, bibir vagina Reina tertarik monyong, kemudian terlipat kedalam saat Pak Agung menusukkan batang besarnya dalam-dalam. Sang guru bekerja dengan giat membetot dan menjebloskan batang besarnya kedalam cepitan liang vagina Reina yang sempit peret.
“Dufffhhhh…!! Duffffhhh.., Duffffhhhh.. Peffhh. Depfffhhhhhh”
“ah-ah, ahhhhhhh, Bappp PHAKKKK…!! Owwwhhh” Reina menjerit, memekik dan melolong saat penis besar pak Agung menumbuk-numbuk belahan vaginanya,
Reina benar-benar merasa tak berdaya, ia bagaikan tengah menghadapi seekor banteng besar yang begitu gagah perkasa, tubuhnya terguncang-guncang semakin hebat saat liang vaginanya yang mungil dihantam semakin kuat oleh batang penis Pak Agung yang besar panjang.
“uuh-aah Phakk, Owww, OWWWW..!! UOWWWWW…KHEKKHH!!” Reina merengek-rengek menahan rasa nikmat luar biasa ,
Bibir Reina sering meruncing seperti hendak mengucapkan huruf “u”, wajahnya yang cantik semakin renyah ketika ia meringis nyengir kuda menahan nikmatnya sodokan-sodokan penis sang guru yang mengaduk-ngaduk liang vaginanya yang memar kemerahan.
“enhh, enhh ennhh enhhh, “
Sang Guru begitu pandai memainkan batang penisnya, saat Reina merengek kecil pak Agung mempercepat kocokan-kocokannya hingga suara rengekan Reina semakin keras menggairahkan. Saat ia merintih pak Agung memperlembut tusukannya hingga suara rintihan-rintihan Reina terdengar semakin lirih.
“Hek-shhhhhh, crrrr.., cretttt….” tiba-tba Reina menahan nafas, mata sipitnya terpejam rapat saat vaginanya berdenyutan,
pak Agung begitu bijak, ia menghentikan sodokan mautnya, membiarkan Reina menikmati kenikmatan puncak klimaksnya. Vagina Reina terasa lebih hangat saat cairannya muncrat, dinding vaginanya bergerinjal-gerinjal berkontraksi kuat meremas-remas batang penis Pak Agung.
“Enak ya Rei, he he he “ Pak Agung terkekeh telapak tangannya membelai wajah Reina kemudian mengusap cucuran keringat di leher dan dada Reina,
diusap-usapnya buntalan payudara, dengan aktif diremas-remasnya susu Reina yang kenyal. Sesekali Pak Agung mencubit putting susu Reina dan menarik-narik pentil susunya dengan gerakan yang lembut. Pak Agung mencabut batang penisnya dari vagina gadis itu.
“Nahh, siapa yang pengen disodok sama Bapak ?? “
“pakkk, mauuu…” Farida mengangkangkan kedua kakinya.
“Vivi juga mau pakkk….” Vivi merengek pada pak Agung.
Pak Agung mengatur Farida agar tidur terlentang sementara Vivi menaiki tubuh Farida, ia menungging sambil memeluk tubuh Farida yang berada di bawahnya. Payudara Vivi bergesekan mendesak payudara Farida, Farida balas memeluk tubuh Vivi.
“Ouhhh, ehhh Pakkk, Ohhhh-emmhhh-mffffhhhh, ummhh BAPAKK..! Ooh!”
Tubuh Farida mengejang, penis pak Agung menguakkan belahan vaginanya, bibir Vivi melumat dan mengecupi bibir Farida, tubuh Farida terguncang hebat saat batang penis Pak Agung menyerang belahan vaginanya. Pak Agung memacu batang penisnya dengan kuat dan cepat, dipacunya hingga vagina Farida memar kemerahan, setelah mengocok +/- 30 kocokan pak Agung memindahkan batang besarnya menusuk vagina Vivi yang sedang menungging. Kini giliran Vivi yang tersungkur-sungkur saat vaginanya disodok oleh Pak Agung.
“Plefffhh, Plefff, Plakk Plakk Plakk Pefffh Plakkk…”
“Slepp.. Sleppp… Peeepphhh…”
Bergantian Pak Agung menusuki liang vagina Vivi dan Farida. Guru bejat itu begitu lihai menggiring kedua sisiwinya yang cantik merangkak menuju pintu gerbang kenikmatan. Rintihan dan desahan terdengar serasi dengan geraman – geraman gemas Pak Agung yang menggecak-gecakkan batang besarnya pada liang-liang sempit nan nikmat. Reina ikut bergabung menyodorkan susunya kemulut Pak Agung, NYOT, NYOTTT, NYOTTTT, sang guru mengenyot-ngenyot puncak susu Reina, jari tangannya menyelinap mengaduk-ngaduk liang vaginanya. Suara rintihan dan desahan mewarnai pertarungan tiga lawan satu yang semakin memanas.
“eemmh Akhhhh srrr Srrr Crruttttt…”
“ohhhhhh, aaaaa Crrr Crruutttt..”
“Uhhhh Crettttttttttt.. Crettttttttttttt…”
Pak Agung menelentangkan tubuh mereka, berbaring berjajar agar siap untuk digarap lebih lanjut. Ia memeluk erat-erat tubuh ketiga siswi cantik yang bercucuran keringat, kemulusan dan kehangatan tubuh Vivi, Reina dan Farida membuat jantungnya berdetak dengan keras. Suara rintihan dan desahan diselingi suara helaan-helaan nafas keras, Pak Agung menggeser posisi penisnya kekanan menusuk vagina Reina.
“PAKKK, AWWWW…” Reina menjerit saat penis Pak Agung menusuk belahan vaginanya dengan kasar
Sang Guru memompai vagina Reina, sementara mulutnya mencumbui buntalan susu Vivi, tangan kirinya memainkan payudara Farida. Reina mencoba melakukan perlawanan dengan mengangkat-angkat pinggulnya menyambut tusukan batang penis Pak Agung, gerakan Reina disambut pak Agung dengan menghentak-hentakkan batang penisnya sekuat tenaga.
“clepp Blessk, Cfeeeepphhh, Pefffhhhh!!”
“Oww, Pakk, AUHHHH…UNNGGHHH” Reina melenguh keras,
Batang penis pak Agung menyerang dengan liar dan buas, menggecak-gecak liang vaginanya yang mungil. Mulut Pak Agung menggerayangi payudara Vivi dan Farida, , Reina memekik kecil saat ia mencapai puncak klimaks
“Bleppp, OWWWW…!!ADUHHH, AKHHHH” Vivi menjerit menerima sodokan maut pak Agung, tubuhnya terguncang hebat, sambil memompai vaginanya
Leher Pak Agung melenggok kekanan mengulum bibir Reina dan melenggok kekiri melumat bibir Farida, jeritan Vivi terdengar keras saat penis besar pak Agung menumbuki celah vaginanya dengan kekuatan penuh. Vivi menjerit liar bagaikan seorang wanita yang haus akan kenikmatan.
“Dhefffhh. Dhefffhhh!!! Dhufffhhh…Cleefffhh Dhuffhhh”
“Aaaa-aaaaaahhhhhh cretttttttttttt.. crerrtttttttt…”
Vivi menggigil hebat, cairan madunya meledak-ledak tanpa daya, bobol sudah pertahanannya, cairan vaginanya meledak dalam denyut kenikmatan. Pak Agung memindahkan batang penisnya bersiap melakukan pengeboran kembali pada sebuah lubang kenikmatan, lubang kenikmatan Farida…..
“HU-WAWWWWW ?? Ouchhh, PAKKK…!! OUKKKHHHH”
Wajah Farida mengernyit saat belahan vaginanya merekah dibongkar oleh batang penis Pak Agung,.Farida merengek keras, ia meringis saat benda besar itu menerobos menusukii celah vaginanya. Pak Agung menghentak-hentakkan penisnya, tubuh mungil Farida tersentak-sentak didesak oleh penisnya yang mencecar selangkangan gadis itu. Liang sempit di selangkangan Farida dihabisi oleh batang penis pak agung yang besar panjang, mulut Pak Agung menghisap-hisap puncak susu Vivi dengan rakus sementara tangan kanannya meremas-remas induk payudara Reina.
“Clepp Clepp Blepphh..!!”
Tubuh Farida menggelepar, nafasnya tersendat-sendat saat batang penis Pak Agung masih bergerak cepat menyodoki celah vaginanya. Pak Agung begitu bernafsu menggenjot-genjot liang vaginnya, dihajarnya sekuat tenaga, digecak, disodok sedalam mungkin hingga Farida mengeluh keras menahan sodokan-sodokan liar Pak Agung. Sang Guru terus berkutat hebat, memacu penisnya menusuki celah sempit Farida yang mengeluh resah menikmati setiap sodokan-sodokan batang penisnya.
“Heeenngggghhhhhh. Akhhhhsssshh Cretttt Crrrrrr….”
Setelah selesai mempecundangi Farida, Pak Agung memindahkan kembali penisnya mengebor vagina Reina hingga ia menggelepar mencapai puncak klimaks. Batang penis Pak Agung begitu rakus menggenjoti celah-celah sempit diselangkangan Vivi, Reina dan Farida. Sang Guru begitu gagah menggagahi dan menggiring tubuh-tubuh lemah ketiga siswinya bergantian mengapai puncak klimaks. Batang penis Pak Agung mengait belahan vagina Vivi, ia meminta Reina dan Farida untuk menungging.
“Angkat pinggul kalian setinggi mungkin, belum, terusss, lebih tinggi lagii, terusss, Yakkk, TAHANN…”
Jari tengah dan jari telunjuk Pak Agung sebelah kiri mencoblos celah vagina Farida, sedangkan jari kanannya mencoblos celah vagina Reina, sambil menyodokkkan batang penisnya menusuki liang vagina Vivi, dua jari kanan dan jari kiri Pak Agung mengais-ngais G-spot Reina dan Farida. Pak Agung menggeram gemas sambil mempergencar serangannya, Vivi, Reina dan Farida menceracau hebat, pak Agung benar-benar luar biasa!! Sang Guru mengerjai ketiga muridnya yang cantik sekaligus, dengan penis, dan juga dengan jarinya yang begitu ahli memainkan Gspot di dalam alat kelamin Reina dan Farida.,
“Oooo..!!!Srreettttt, kecrutttt. Cruutttt”
“Ooooo !!crrrttt Crrrtttt Crrruttt….”
“Oooo !!Serrrrrr, Crutt, cruttttt…”
Pada saat yang hampir bersamaan terdengar suara “O” keras dari bibir Vivi, Reina dan Farida., mendengar suara “O” keras itu Pak Agung semakin bernafsu menggecak-gecakkan batang penisnya, dihantamnya celah vagina Vivi hingga payudara Vivi terguncang-guncang dengan hebat, tubuh mulusnya yang terguncang, terdesak-desak oleh batang penis Pak Agung yang merangsek menyodoki vagina gadis itu.
“OAHHHHH, CRRRROOOOOOOOOOOTTT.. CRROTTT, BLuk..!!”
Tubuh Pak Agung ambruk menindih tubuh basah ketiga muridnya yang mulus, desah nafasnya bercampur dengan desah nafas Vivi, Reina dan Farida, sesekali ia melumat mesra Bibir Reina, Vivi, dan Farida yang termegap berusaha mengambil nafas. Cup, Cup , Cup, Pak Agung memberikan hadiah kecupan di kening masing-masing kepada Vivi, Farida dan Reina yang sudah memberikan sebuah sensasi kenikmatan yang luar biasa. Setelah berhasil menguasai diri Pak Agung bangkit dari atas tubuh ketiga siswinya yang cantik, matanya berbinar merayapi kemolekan lekuk liku tubuh mereka. Butiran keringat masih mengucur deras dari tubuh putih mulus ketiga siswi cantik keturunan Chinese yang tergeletak lemas setelah mereka menjadi korban pelampiasan nafsu bejat Pak Agung.
“Tiga lubang kecil yang nikmat….”
Pak Agung membatin dalam hati kemudian menyambar sekaleng Pocari Sweat diatas meja GLUK.. GLukk GLukkk, jakun di leher pak Agung bergerak turun naik. Batang penisnya kembali mengangguk – angguk kemudian mengeras, terdengar suara-suara pekikan ketika sang guru menerkam kembali tubuh-tubuh mulus yang mengeluh kewalahan menghadapi nafsu liarnya.
“Sudah pakkk cape…”
“Aduhh pak Aduhhh….”
“Owww Bapakkkk…!!”
Pertarungan 3 lawan satu kembali berlangsung dengan sengit, Pak Agung mengeluarkan seluruh kemampuannya, hingga akhirnya hampir bersamaan mereka berempat mencapai puncak klimaks, tubuh Vivi, Farida dan Reina tergeletak tak berdaya dengan rambut acak-acakan, belahan liang kecil di selangkangan mereka tampak memar kemerahan dihiasi lelehan lendir berwarna putih pekat. Butiran keringat memandikan tubuh mereka yang polos, Pak Agung berbaring dengan nafas termegap-megap setelah benar-benar puas melampiaskan nafsu bejatnya. Beberapa saat kemudian terdengar lah suara dengkuran pak Agung.
“Krokkk.. Krokkkkk…. Krokkkkk….” (Red : Weks…!!, mirip suara kodok…..he he he)
Sementara di dalam sebuah kamar yang terkunci dari luar….
“srekkk.. srekkkk.. srekkkk…” suara itu terus terdengar saat aku menggesek-gesekkan tali yang mengikat kedua tanganku pada siku lemari, dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk melepaskan diri, “Hiattttt…!!Yiatttt….. Hathhhhhhh….!!tassshhhhhh…!!”
To be
Kon ti nyu
^_^, thank For Reading
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini
Five Filters featured article: Into the Abyss. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.
Innocent Angels 3: Love, Power and Desire
May 31st, 2010Novi, the Kind Girl
May 28th, 2010
Novi
Aku sangat bosan di rumah karena tidak ada yang bisa kulakukan di rumah.
“hadoh, bt gue di rumah…ngapain ya yang enak?”, kataku bicara sendiri.
“gue telpon temen gue ah”, lalu aku mengambil hpku dan menelpon temanku.
Aku menunggu telponku diangkat, tapi tak diangkat-angkat oleh temanku itu. Berkali-kali aku mencoba menelpon temanku, tapi tetap tak diangkat, aku mengirim sms juga tak dibalas.
“ah,,kalo gitu gue langsung ke rumah dia aja deh,,”. aku mengganti baju rumahku dengan baju yang biasa kupakai untuk bepergian.
“Mah, mau pergi ke rumah temen dulu!”, teriakku karena ibuku sedang mandi.
“oh iya,,ati-ati ya,,”, balas ibuku.
Aku hanya pamit ke ibuku karena tentu saja ayahku sedang bekerja dan kakakku juga sedang kuliah. Aku keluar dari rumah dan mendekati ojek untuk mengantarkanku ke alamat rumah temanku. Setelah sudah deal, aku naik ke atas motor.
“neng…kok gak pegangan abang? nanti jatoh lho”.
“nggak ah”.
Aku tidak mau berpegangan ke tukang ojek itu karena aku takut jika tukang ojek itu ngerem mendadak, payudaraku yang berukuran 36 B bisa menempel ke punggungnya. Aku tidak mau itu terjadi lagi, aku berpegangan ke motor. Setelah sampai, aku membayar ongkos ke tukang ojek. Tukang ojek itu berusaha menggodaku, aku jadi illfeel dan langsung meninggalkan tukang ojek itu. Aku mengetuk pintu rumah dan memanggil nama temanku berulang kali, tapi tetap tak ada jawaban. Ketika aku berencana pulang, aku mendengar suara yang pelan. Aku menjadi penasaran dan ketika aku mencoba membuka pintu rumah temanku ternyata tidak terkunci sehingga aku bisa masuk ke dalam rumah temanku. Aku terus mendengarkan suara yang pelan sambil mencari sumber suara itu. Akhirnya, aku menemukan sumber suara itu dari dalam kamar temanku, aku menempelkan kupingku ke pintu kamar.
“oohh,,mmmhhh,,aahhh,,terusshh,,”, aku bisa mendengar suara itu sangat jelas sekarang. Suara itu ternyata adalah desahan dan aku bisa mengenali desahan itu adalah desahan temanku karena aku sangat hafal suara temanku. Aku masuk ke dalam kamar karena tidak terkunci dan melihat temanku dan seorang cowok sedang bersetubuh dengan sangat bersemangat.
“Maya”, kataku.
Mereka berdua sempat terhenti dan melihat ke arahku.
“oh Novi, gue kirahh siapahh”, kata Maya dengan nafas terengah-engah.
“neng Novi bikin kaget aja,,”.
“udahh…lanjuthh pak!”, pinta Maya ke orang yang penisnya sedang tertanam di dalam vaginanya sehingga orang itu melanjutkan memompa penisnya keluar masuk
Aku duduk di sofa yang tepat menghadap ke ranjang jadi, aku bisa melihat pemandangan Maya yang sedang keenakan. Setelah melihat dengan seksama aku bisa mengenali lelaki yang sedang asyik menggenjot penisnya ke vagina Maya. Lelaki itu bernama pak Joko, dia adalah ketua RT di komplek perumahan Maya. Pak Joko sudah berumur 47 tahun, seperti kebanyakan bapak-bapak perutnya gendut, rambutnya sudah botak, ditambah lagi mukanya jelek, tapi semenjak Maya diperkosa olehnya, Maya malah ketagihan karena pak Joko punya penis yang besar dan dia juga punya stamina yang bisa membuat gadis muda kewalahan. Melihat Maya dan pak Joko yang terlihat sangat menikmati permainan mereka, aku jadi bergairah sehingga tanpa sadar aku menutup mata dan mulai meremas-remas payudara kananku yang masih tertutup bh dan bajuku.
“ookkhh!!”, erang pak Joko.
Spontan aku membuka mata, aku melihat pak Joko sedang diam dan tubuhnya menegang yang menandakan kalau dia sedang menanam benihnya ke dalam rahim Maya sementara aku tetap meremas-remas payudaraku. 2 menit kemudian, pak Joko mencabut penisnya dari vagina Maya dan melihat aku yang sedang dalam keadaan benar-benar terangsang akibat melihat mereka berdua menyatu dalam hawa nafsu. Pak Joko tidak berkata apa-apa, malah dia mencium dan melumat habis bibir Maya. 2 menit kemudian pak Joko melepas cumbuannya dan membisikkan sesuatu ke Maya sehingga Maya langsung melihat ke arahku dan tersenyum.
Maya
“Nov…lo mau juga??”.
“ah ng…ng…nggak”, aku menghentikan aktivitasku karena malu dan aku jadi salah tingkah.
“ah lo Nov, udah biasa ama pak Joko pake malu-malu segala”.
“tau neng Novi, udah biasa ama bapak juga,,”.
“ya udah Nov,,gantiin gue dong,,”.
“tapi…”, kataku.
“tenang aja,,tadi gue ama pak Joko udah 3 ronde,,”.
“oh,,pantes aja,,tadi gue telpon gak lo angkat,,”.
“iya,,hehe,,”.
“gue gantiin lo? emang lo mau ngapain?”, tanyaku.
“gue ada urusan bentar,,gantiin gue makanya,,kasian pak Joko lagian tinggal 1 ronde terakhir,,”.
“iya deh,,”, jawabku tidak keberatan karena pak Joko hanya mampu 4 ronde, tapi setiap rondenya bisa berlangsung 30 menit lebih. Maya bangkit dari tempat tidur dan mulai memakai bajunya.
“May,,lo gak mandi ‘n bersihin vagina lo?”, tanyaku.
“ah,,gak usah,,pake minyak wangi juga cukup,,”.
“terus vagina lo?”.
“gak apa-apa, kan pejunya pak Joko gak apa-apa”.
“oh iya ya”, aku baru teringat kalau pak Joko tidak bisa membuat cewek hamil karena dia sudah diperiksa oleh dokter dan dinyatakan positif mandul sehingga aku tidak khawatir pak Joko bisa membuatku hamil.
“ayo neng Novi,,sini,,”.
“pak Joko udah gak sabar ya?”, aku meledeknya.
“iya,,udah lama gak ketemu nih,,”.
“woo,,dasar!!”
Pak Joko
“Dah,,pak Joko,,maen ama Novinya jangan kasar,,kasihan Novi,,”.
“iya Maya sayang,,ati-ati ya,,”, balas pak Joko.
Maya keluar dari kamar meninggalkanku dengan pak Joko.
“neng Novi,,buka bajunya dong,,bapak udah kangen pengen ngeliat body neng Novi,,hehe,,”.
“iya,,iya,,sabar dong pak,,”. Aku mulai membuka pakaianku dengan pak Joko berada di hadapanku yang melihat setiap gerakanku tanpa berkedip sekali pun. Dalam sekejap, aku sudah telanjang di hadapan pak Joko.
“nah,,gitu dong,,bapak kan jadi bisa ngeliat toket neng Novi yang mancung banget,,”.
“ah,,pak Joko bisa aja,,”.
Aku mendekati pak Joko yang sudah menungguku di atas ranjang dengan penisnya yang sudah berdiri tegak lagi.
“ayo neng…mulai yuk!!” Pak Joko mendekat kearahku yang duduk di depannya.
Dia mendorongku hingga aku tidur terlentang. Pak Joko mendekat, dia mencium bibirku, dia lumat bibirku dan kadang dia berhenti sehingga aku bisa membalas melumat bibirnya. Pak Joko sangat bernafsu melumat bibirku hingga aku agak kesulitan bernafas lalu ia menggunakan lidahnya untuk mencari lidahku. Ketika lidahku dan lidahnya bertemu, kami saling membelitkan lidah sehingga kami saling bertukar air liur. Kami berciuman seperti sepasang kekasih yang lama tidak bertemu, begitu panas dan sangat bergairah. Pak Joko melepaskan cumbuannya sehingga air liur kami yang menjadi satu bisa terlihat.
“bibir neng Novi emang manis banget, tapi bibir neng Maya lebih manis,,hehe,,”.
“heemmm…tau deh, yang sering ciuman ama Maya”, balasku.
“iya dong,,neng Novi,,bapak lanjutin ya,,”.
“silakan,,”.
Pak Joko kini memusatkan pandangan matanya ke arah payudaraku.
“neng Novi, toketnya kok mancung banget sih?”.
“ya mana Novi tau, dari sananya pak,,”.
“emang ukuran neng Novi berapa sih?”.
“36 B”.
“wuih…36 B, pantes mancung banget”.
“emang kenapa si pak?”.
“nggak kenapa-kenapa,,bapak cuma jadi gemes aja,,”.
“yee, pak Joko bisa aja nih”.
Pak Joko langsung memegang dan memencet payudaraku sehingga kedua putingku semakin mencuat ke atas, tanpa disuruh lagi dia langsung mengulum puting kiriku dan memencet serta memilin puting kananku.
“oouummhh,,”, desahku sangat pelan.
Aku tak tau harus berbuat apa dengan kedua tanganku jadi, aku menggunakan kedua tanganku untuk mengelus-elus kepala pak Joko yang sedang asik mengeksplorasi setiap senti dari kedua buah payudaraku yang putih, kenyal, besar, dan mancung. Setelah payudaraku sudah terbaluri air liurnya, pak Joko langsung membuka kedua kakiku lebar-lebar karena dia ingin menjilati vaginaku. Aku membantunya dengan melebarkan kakiku sendiri sehingga pak Joko bisa melihat vaginaku.
“wew,,memek neng Novi warnanya bagus,,”.
“ha? maksudnya?”.
“iya, warnanya merah menggoda gitu”.
“haha…bisa aja nih pak Joko, Novi jadi malu nih”.
“hehe…ya udah, bapak jilat ya!”.
Spontan, aku tersentak kaget ketika pertama kali lidah pak Joko menyentuh bibir luar vaginaku yang masih tertutup rapat.
“mmmhhh…terusshh!”, erangku keenakan.
Aku merapatkan kedua kakiku ketika pak Joko mulai menjilati rongga dalam vaginaku karena terasa begitu nikmat hingga badanku terasa ringan dan melayang-layang di langit. Tentu saja, kepala pak Joko terhimpit di antara kedua paha putihku, tapi pak Joko terus melanjutkan aktivitasnya sementara aku menggunakan tangan kiriku untuk meremas-remas kedua buah payudaraku secara bergantian dan kugunakan tangan kananku untuk memainkan klitorisku jika pak Joko sedang tidak menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya. 5 menit penuh kenikmatan, akhirnya aku merasakan kejutan gelombang listrik mengalir di sekujur tubuhku sehingga tubuhku mengejang yang menandakan aku mencapai klimaks.
“ssrruupp!!!”, bunyi seruput terdengar begitu jelas ketika pak Joko menyeruput habis cairan vaginaku.
Setelah selesai, ia menepuk-nepuk pahaku agar aku melepaskan himpitanku.
“enak banget,manis”, komentar pak Joko setelah aku merenggangkan kakiku.
“makasih pak”.
“sekarang maen jilat-jilatan yuk,,”.
“ayo, siapa takut”, jawabku.
Pak Joko tidur terlentang dan aku menaiki tubuhnya dengan posisi terbalik sehingga vaginaku berada di depan wajahnya dan penisnya berada di depan wajahku. Aku mulai dengan mengemut-emut kepala penis pak Joko yang membuat tubuhnya sedikit bergetar mungkin karena geli, ngilu, dan enak campur menjadi satu. Lalu aku menjilati batangnya dari bawah ke atas 3x kemudian aku menjilatinya dari atas ke bawah 3x juga. Aku memandikan penis pak Joko hingga benar-benar basah oleh air liurku sementara aku sendiri sudah 2x orgasme karena sudah lebih dari 10 menit. Setelah itu, aku langsung bangkit dan memposisikan vaginaku tepat berada di atas penis pak Joko. Aku menurunkan tubuhku hingga penis pak Joko menjadi penghuni vaginaku. Aku mulai mengangkat dan menurunkan tubuhku agar penis pak Joko bisa keluar masuk vaginaku, selama menggerakkan tubuhku sendiri, aku membiarkan pak Joko mengendalikan tubuhku dengan memegang payudaraku. Lama juga kami bersetubuh dengan posisi ini, pak Joko mengajakku berganti posisi. Pak Joko menggenjot vaginaku dari belakang dengan aku berpegangan pada kursi.
“aahh…aahh…aahh!!”, desahku.
Tiba-tiba pak Joko menarikku turun dari bangku lalu menarik kedua tanganku ke belakang. Dia menyuruhku berjalan sehingga kami berjalan pelan mengelilingi kamar dengan penis pak Joko terus tertancap di dalam vaginaku, bahkan kadang-kadang berhenti karena pak Joko menyodokkan penisnya kuat-kuat ke dalam vaginaku yang membuatku mengerang kencang. Lalu pak Joko mendorong tubuhku hingga tubuhku menempel di dinding tepat di sebelah pintu masuk kamar Maya.
Pak Joko mencabut penisnya dari vaginaku dan memasukkannya ke dalam anusku, tentu saja penis pak Joko masuk dengan mudah karena sudah berlumuran cairan vaginaku yang aku keluarkan dari beberapa orgasmeku. Sambil terus memompa penisnya, pak Joko menjilati kuping kiri dan kananku secara bergantian, kadang-kadang aku juga menolehkan kepalaku ke kiri atau ke kanan agar pak Joko bisa berperang lidah di dalam mulutku. Tiba-tiba pintu yang ada di samping kami terbuka dan Maya langsung masuk.
“Ya ampun, pak Joko belom selesai ama Novi?”.
Pak Joko menarikku menjauh dari tembok sehingga tubuhku tidak menempel lagi di tembok, lalu ia menghadap ke Maya sambil menggerakkan kedua tangannya meremas-remas kedua buah payudaraku, tangan pak Joko jadi seperti bh yang menampung kedua buah payudaraku. Dan karena pak Joko menghadap ke Maya, tentu saja aku dan Maya saling bertatapan muka.
“belum Maya sayang, abisnya memeknya neng Novi seret ‘n sempit banget, sayang kalo buru-buru”.
“oh,,yau da deh,,Maya nonton aja deh,,”.
Maya duduk di kursi sementara aku dan pak Joko kembali ke ranjang. Aku tidur terlentang membuka vaginaku untuk menerima penis pak Joko lagi. Pak Joko mendorong kakiku ke depan sehingga kakiku berada di samping kepalaku lalu dia mencoblos vaginaku. Kali ini, penis pak Joko terasa lebih masuk ke dalam vaginaku. Tidak beberapa lama kemudian, pak Joko menekan penisnya dengan sangat kuat ke dalam vaginaku dan akhirnya dia menyemprotkan spermanya ke dalam vaginaku. Sambil menunggu selesai, pak Joko menjilati seluruh wajahku hingga basah oleh air liurnya. Setelah isi penis pak Joko sudah disedot oleh vaginaku dan penis pak Joko juga sudah mulai menyusut, pak Joko mencabut penisnya dari vaginaku lalu dia duduk di depanku.
“gila,,neng Novi,,makasih,,bapak puas banget,,”.
“sama-sama pak,,”, kataku masih agak lemah.
“udah pak?”, tanya Maya.
“udah Maya sayang, bapak udah gak kuat”.
“ya udah, pak Joko pulang ya, soalnya Maya sama Novi mau jalan-jalan,,”, balas Maya.
“oke,,”.
Pak Joko memakai bajunya sementara Maya mendekatiku yang masih terbaring di atas ranjang.
“capek ya Nov??”.
“iya,,capek banget,,”.
“gimana kalo 3 ronde kayak gue,,bisa pingsan deh lo Nov,,”.
“iyaa,,lo kan udah biasa ama pak Joko,,gue sama ini kan baru 4x,,”.
“oh iya ya,,gue lupa,,”.
“bapak beruntung banget ya,,”, sela pak Joko ikut berbicara setelah memakai bajunya.
“kenapa pak?”, tanya Maya.
“iya,,bapak gak nyangka,,bisa gituan sama 2 gadis cantik, sexy, ‘n baek kayak Maya sayang ama neng Novi,,”.
“aah,,pak Joko bisa aja,,”, kataku.
“tau nih, si bapak nge gombal aja, udah sana pulang!”, kata Maya sambil mendorong pak Joko ke pintu kamar.
“iya, iya, tapi besok lagi ya”.
“iya, tapi besok ama Maya aja, Novi gak bisa”.
“yah, gak apa-apa deh, ma Maya sayang juga enak, hehe…”.
“woo dasar!!”, kata Maya.
Setelah mengantar pak Joko ke luar rumah, Maya kembali ke kamar.
“Nov…mandi yuk!!”.
“ayuuk!”. Maya langsung membuka bajunya sehingga kini kami berdua tanpa busana.
Kami langsung masuk ke kamar dan aku mulai mengeksplorasi tubuh Maya begitu juga sebaliknya khususnya daerah vagina karena kami ingin membersihkan vagina kami dari sisa-sisa sperma pak Joko. Setelah selesai, aku dan Maya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah bersih dan wangi kembali lalu kami memakai baju kami masing-masing hingga rapih.
“jalan-jalan ke mana nih May?”.
“kemana aja yang penting asyik”.
“oke,,”.
Kami menghabiskan waktu siang hingga malam dengan berjalan-jalan ke banyak tempat.
“Nov, gue pulang duluan ya!”, kata Maya sambil naik taksi.
“o ya udah,,ati-ati ya May, daah!”.
“daah,,”. Maya masuk ke dalam taxi dan meninggalkanku.
“hadohh,,lama banget nih,,”. tiba-tiba ada taksi yang berhenti di depanku dan penumpangnya membuka kaca.
“Novi,,”.
“eh Hendrik,,”.
“ngapain Nov,,malem-malem?”.
“tadi abis jalan-jalan ama Maya,,’n sekarang lagi nunggu taksi,,”.
“oh, kalo gitu bareng gue aja”.
“ah, nggak usah, tar ngerepotin”.
“gak apa-apa, lagian lama kalo nunggu taksi,,”.
“bener gak apa-apa?”.
“bener”.
“makasih ya Ndrik,,”.
“yo…santai aje”
Aku masuk ke dalam taxi dan mengobrol dengan Hendrik sampai aku lupa memberi taukan alamat rumahku. Selain itu, aku juga tertidur karena aku sangat kelelahan gara-gara seharian berjalan-jalan dengan Maya sehingga aku tidak tau kemana Hendrik membawaku.
Hendrik
Ketika aku membuka mataku, aku sudah berada di dalam ruang tamu, tapi bukan ruang tamu rumahku.
“hhooamm, di mane nih gue?”, kataku sambil menguap. Hendrik muncul dengan membawa minuman.
“Nov, minum nih!”.
“makasih, tapi gue dimana?”.
“ni rumah gue,,sori banget gue bawa lo ke rumah gue,,soalnya gue gak tau alamat rumah lo,,”.
“oh iya,,gak apa-apa,,salah gue juga,,kalo gitu gue pulang dulu ya,,”.
“tapi Nov, liat udah jam 11 malem”.
“oh iya…hadoh kalo gitu gue nginep semalem boleh gak?”.
“boleh,,boleh”.
“tapi ortu lo?”.
“lagi gak ada,,”.
“oh, eh Ndrik…gue mau nelpon ibu gue dulu ya,,”.
“kalo mau pake telpon rumah gue, pake aja”.
“thanks banget ya Ndrik”.
“seph,,”.
Aku meminta izin ke orang tuaku dan bilang kalau aku menginap di rumah Maya. Untungnya, orang tuaku percaya dan mengizinkanku untuk menginap. Hendrik dan aku mengobrol sambil minum hingga jam 12 malam. Tak sengaja, aku melihat ke arah selangkangan Hendrik sehingga aku bisa melihat penis Hendrik yang cukup besar tercetak di celana jeansnya, entah kenapa membuat darah yang mengalir di dalam tubuhku menjadi panas dan membuatku penasaran ingin melihat penis Hendrik secara langsung. Tapi, tentu saja aku tidak berani meminta langsung karena aku malu. Rupanya, aku dan Hendrik sama-sama penasaran karena aku sempat melihat dia mencuri-curi pandang ke payudaraku. Tiba-tiba dia bertanya sesuatu yang mengagetkan.
“Nov, lo udah pernah gituan?”.
“he? tiba-tiba kok nanya kayak gitu,,”.
“gak…maap…maap”.
“gak apa-apa, gue udah pernah, kenapa emang?”.
“ha? gue kira lo belum pernah”.
“ya gitu deh, emang kenapa sih??”.
“gak, dari dulu gue penasaran pengen liat toket lo, boleh gak?”.
“ha? mau liat toket gue?”.
“kalo gak boleh juga gak apa-apa kok,,maap ya Nov,,”.
“emm…boleh…asal gue boleh ngeliat punya lo?”.
“ha? deal”.
“gitu baru adil,,”.
“gak nyangka,,ternyata lo cewek agresif ya Nov”.
“iya dong”.
“sekarang gue buka baju lo ye,,”.
“silakan!”.
Aku dan Hendrik saling bertatapan mata lalu dia mulai membuka kaosku. Untuk memudahkannya, aku mengangkat kedua tanganku ke atas. Tinggal bhku saja yang menutupi kedua buah payudaraku.
“kulit lo mulus amat Nov,,”.
“bisa aja lo Ndrik,,”.
“sekarang gue buka ya bh lo”. Hendrik meraih pengait bhku yang ada di belakangku. Setelah bhku terlepas, payudaraku terbebas dari bh.
“wuih Nov! toket lo emang mantep banget, mancung banget!”.
“makasih Ndrik, gantian!”.
“oke, oke, tapi lo mau bukain?”.
“enak aja, buka sendiri dong!”.
“hehe,,kirain gitu”. Hendrik membuka baju dan celananya serta celana dalamnya sehingga dia telanjang bulat di depanku.
“kok masih tidur Ndrik??”, tanyaku karena penis Hendrik terlihat masih dalam keadaan tidur.
“ya emang belom bangun”.
“yah, berarti gue gak napsuin dong,,”.
“bukannya gitu Nov, tongkol gue emang gak bangun kalo belom disentuh ama cewek,,”.
“oh…kirain gue gak napsuin,,”.
“siapa bilang, lo napsuin banget kok”.
“makasih, tapi kok lo buka semuanya?”.
“tanggung abisnya, lo juga dong!”.
“iya, iya”, jawabku.
“perlu bantuan gak?”.
“gak usah, gue sendiri aja,,”.
“okeh,,”.
Aku membuka sisa pakaian yang masih menempel di tubuhku yaitu celana jeansku dan celana dalamku, kubuka semuanya hingga tubuhku yang putih mulus terekspos jelas tanpa sehelai benang pun ke Hendrik.
“anjrit,,body lo bagus banget Nov,,”.
“ah bisa aja boongnya lo Ndrik,,body gue kan gak bagus,,”.
“gak bagus apanya,,lo bohay tau,,”.
“ah,,bisa aja,,gue jadi malu,,”.
Tiba-tiba Hendrik langsung berdiri dan memeluk tubuhku, tentu saja wajahku dengan wajah Hendrik saling berdekatan sehingga aku dan Hendrik sama-sama bisa merasakan hembusan nafas. Hendrik mendekatkan wajahnya, dia langsung melumat bibirku sambil memelukku dengan sangat erat. Aku juga memeluk Hendrik sambil membalas melumat bibirnya. Lalu dia mengajakku bermain lidah, aku menyetujuinya dengan membiarkan Hendrik memasukkan lidahnya ke rongga mulutku. Sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku, Hendrik menurunkan kedua tangannya yang tadi ada di punggungku turun ke bawah hingga kedua tangannya berada tepat memegangi pantatku. Hendrik meremas-remas pantatku dengan gemasnya sambil sesekali menepuk-nepuk pantatku. Hendrik melepaskan cumbuannya, aku merasa begitu nikmat dicumbu oleh Hendrik.
“gile Nov,,bibir lo kok terasa manis ya?”.
“ah bisa aja,,”.
“iya bener,,lo juga jago nyipok,,”.
“hehe,,”.
“lanjut yuk di kamar gue,,”.
“oke,,”. Kami berdua berjalan masuk ke dalam kamar Hendrik. Hendrik langsung menyuruhku untuk tidur terlentang di atas ranjang, aku menuruti kemauannya dan membuka kakiku selebar-lebarnya untuk Hendrik. Hendrik langsung menempatkan kepalanya di tengah-tengah selangkanganku. Aku merasakan hembusan nafasnya yang hangat membuat sensasi tersendiri. Hendrik memulai serangan lidahnya terhadap vaginaku.
Dia menjilati dari lutut kananku terus menelusuri paha kananku hingga lidahnya menyentuh vaginaku, dia lakukan hal yang sama ke kaki kiriku. Setelah itu, barulah Hendrik menjilati daerah sekitar vaginaku berulang-ulang.
“oouummhh…ouummhh”, desahku ketika dia menyentil-nyentil serta menjilati klitorisku yang sensitif.
Lalu dia memutar-mutarkan lidahnya melingkari bibir luar vaginaku membuatku semakin melayang saja. Hendrik membuka bibir vaginaku kemudian memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam vaginaku, dia menggerakkan 2 jarinya keluar masuk vaginaku membuatku mendesah dan kadang aku megap-megap seperti ikan mas koki. Hendrik menghentikan aktivitasnya, tapi dia menyusupkan lidahnya ke dalam vaginaku sebagai pengganti 2 jarinya. Aku merapatkan kedua kakiku sehingga kepalanya terbenam di antara kedua pahaku. 5 menit kemudian, aku melepaskan orgasme dan cairanku langsung habis diseruput Hendrik hanya dalam beberapa detik saja. Aku meregangkan kedua kakiku agar Hendrik bisa bernafas lagi.
“Nov, cairan lo rasanya manis banget…mantep”.
Aku hanya tersenyum untuk membalasnya karena masih agak lemas sehabis orgasme tadi. Hendrik merayap ke atas tubuhku hingga wajah kami saling bertemu. Ia melumat bibirku sehingga aku bisa merasakan rasa cairanku sendiri yang menempel di bibirnya. Hendrik bangkit dari atas tubuhku dan kini dia yang tidur terlentang. Aku menaruh kepalaku di antara paha Hendrik. Tanpa disuruh, aku menjilati buah zakar Hendrik dulu, setelah itu barulah aku mulai membangunkan penisnya yang masih tertidur. Akhirnya, penis itu terbangun juga dari tidurnya dan mulai membesar di dalam mulutku. Aku gunakan semua teknik oral yang kuketaui dan kupelajari dari Maya dan Nita hingga Hendrik menggeliat-liat tidak tahan merasa kelihaianku memainkan lidahku untuk membaluri seluruh bagian penis Hendrik dengan air liurku tanpa terlewat 1 senti pun.
Aku memasukkan seluruh batang penis Hendrik dari kepalanya hingga pangkalnya ke mulutku. Aku memang menyukai jika penis laki-laki masuk sangat dalam ke mulutku, aku tak tau kenapa. Disaat penis Hendrik berada seluruhnya di dalam mulutku, Hendrik menyemprotkan spermanya ke dalam mulutku yang membuatku tersedak, tapi aku menahan sampai-sampai ada air mata keluar dari sela mataku. Setelah selesai, aku mengeluarkan penis Hendrik sedikit demi sedikit dari mulutku dan ketika tinggal kepalanya saja, aku mengemut-emut kepala penisnya sambil menyentil-nyentil lubang kencingnya dengan lidahku. Setelah penis Hendrik sudah seutuhnya keluar dari mulutku, aku langsung menelan sperma Hendrik yang ada di dalam mulutku.
“anjrit Nov! sumpah jago banget lo ngisepin kontol gue”.
“hmm…makasih”, aku tersenyum padahal di dalam hati aku sedikit kecewa karena baru kuoral selama 10 menit saja Hendrik sudah menyemburkan spermanya ke dalam mulutku, tapi aku terus memperhatikan penisnya yang masih tetap berdiri tegak tanpa menyusut sedikit pun.
“Ndrik, kok punya lo gak lemes?”.
“iya dong…bangunnya gak gampang, tidurnya juga gak gampang dong,,”.
“hm?maksudnya?”.
“iya, tadi kan harus disentuh dulu ma lo baru tongkol gue bangun”.
“he eh…terus?”.
“nah kontol gue gak bakal lemes kalo belum 2 jam,,”.
“waw! 2 jam?”.
“iya makanya, kayaknya kita tidur jam setengah 3an deh”.
“gak apa-apa”, kataku merasa sangat gembira karena berpikir aku akan terus menerus disetubuhi Hendrik selama 2 jam ke depan.
“ayo Nov, gue pengen nyobain memek lo!”.
“oke, beres bos Hendrik”.
Aku langsung menaiki tubuh Hendrik dan menuntun penisnya ke lubang vaginaku. Senti demi senti penis Hendrik yang besar memasuki liang vaginaku hingga hilang ditelan vaginaku. Vaginaku terasa penuh sama seperti ketika penis pak Joko memasuki vaginaku. Aku langsung menggerakkan tubuhku ke atas dan ke bawah agar penis Hendrik bergerak keluar masuk vaginaku.
“mmhh,,mmhh,,mmhh,,”, desahku.
“oh,,sempit ‘n seret banget Nooovv,,!!”.
Hendrik tak tahan melihat kedua buah payudaraku yang berguncang-guncang seiring tubuhku yang bergerak naik turun sehingga dia langsung memegang payudaraku dan meremas-remas payudaraku. Malam yang dingin sama sekali tidak terasa karena aku berkeringat dan aku juga sedang larut dalam kenikmatan. Hendrik memegangi tubuhku dan kini, dia yang menggenjot penisnya dengan sangat kuat dan cepat. Tak lama kemudian, Hendrik menyemprotkan spermanya ke dalam vaginaku. Meskipun aku sudah orgasme, entah kenapa aku sangat bersemangat sekali dan meminta Hendrik untuk langsung ronde kedua. Hendrik senang melihatku sangat bersemangat sehingga dia langsung buru-buru mengganti posisinya agar dia bisa mencoblos anusku.
“Nov,,susah banget nih masuknya,,”, kata Hendrik karena dia susah payah mendorong penisnya untuk memasuki lubang anusku.
“langsung teken aja deh,,”.
“tapi kalo ntar lo kesakitan?”.
“udah,,gak apa-apa kok,,”.
“oke deh kalo gitu”.
Dia langsung mendorong penisnya ke dalam anusku sehingga terasa sakit sedikit. Tapi, setelah menunggu sebentar, malah aku yang menggerakkan pantatku mundur ke belakang supaya Hendrik tau kalau aku sudah siap. Hendrik mengerti maksudku, dia langsung memompa penisnya keluar masuk anusku. Aku menutup mataku untuk merasakan nikmatnya penis Hendrik yang keluar masuk anusku. 15 menit kemudian, Hendrik menembakkan spermanya bersamaan denganku yang mengalami orgasme. Tapi, Hendrik terus memompa penisnya meskipun sedang menyemburkan sperma sampai akhirnya penisnya berhenti memuntahkan isinya. Dia terus memompa penisnya hingga dia menyemburkan spemanya lagi ke dalam anusku untuk yang kedua kali. Lalu, dia mencabut penisnya dari anusku dan menyodorkan penisnya ke mulutku.
Aku membuka mulutku dan Hendrik mendorong penisnya masuk ke dalam mulutku hingga masuk seluruhnya. Aku menggerakkan kepalaku maju mundur, aku sama sekali tidak jijik terhadap penis Hendrik yang baru saja menghuni anusku dan kini sedang berada di dalam mulutku mungkin karena aku sedang dalam keadaan BT (Birahi Tinggi). Sperma Hendrik kuminum tak bersisa ketika ia mulai menyemburkan spermanya ke dalam mulutku. Ronde demi ronde kulalui bersama Hendrik, wajah dan kedua buah payudaraku menjadi sasaran tembak bagi Hendrik untuk menembakkan spermanya sehingga wajah serta payudaraku sangat belepotan dengan sperma jadi, aku perlu meratakannya. 2 jam berlalu, badanku terasa begitu capek seperti ingin copot rasanya karena sudah berkali-kali aku orgasme, penis Hendrik pun sudah tak sanggup berdiri tegak jadi, kami memutuskan untuk tidur bersama tanpa busana dan saling berpelukan agar tetap hangat. Dengan mudah, kami berdua tertidur setelah saling melepaskan nafsu setan kami. Kejadian malam itulah yang membuatku dan Hendrik sering melakukannya lagi karena aku sangat ketagihan dengan penisnya dan ia juga sangat ketagihan dengan sempit dan seretnya lubang vagina dan anusku dan juga teknik oralku yang top markotop katanya. Aku benar-benar tidak tahan jika seminggu saja tidak disentuh Hendrik. Aku mencari tau kapan Hendrik ulang tahun dan akhirnya aku mengetahui kapan Hendrik ulang tahun sehingga aku menyiapkan kado yang sangat spesial untuknya. Tapi, aku masih bingung dimana aku akan menaruh kado spesial untuknya. Untungnya, orang tuaku hari itu pergi sehingga aku bisa menyiapkan kado spesial di rumahku. Tiba-tiba Hendrik menelponku.
“Nov, jalan yuk!”.
“kemana?”.
“kemana kek, gue bt di rumah”.
“okeh,”, aku menyanggupinya karena aku sudah menyiapkan kado spesialnya. Kami berdua jalan-jalan dari jam 2 siang sampai 6 sore.
“Ndrik, rumah lo lagi rame?”, tanyaku sambil menunggu taksi.
“iya nih, jadi gak bisa seneng-seneng deh,,”.
“kalo gitu di rumah gue aja”.
“rumah lo lagi kosong?”
“iya”.
“wah, asyik kalo gitu, nah kebetulan,,ada taksi, yok!”, kata Hendrik sambil menyetop taxi. Kami masuk ke dalam taxi dan tidak beberapa lama kami sampai di depan rumahku.
“yuk Ndrik, masuk!”.
“yuk!”.
“ntar di dalem langsung yee,,”.
“oke tuan putri,,”.
Aku menyuruhnya duduk di ruang tamu sementara aku langsung membuka bajuku sendiri hingga tubuh putih mulusku tidak tertutup apapun lagi.
“wah, Nov, kayaknya toket lo makin mantep aja”.
“ha? emang iya ya? mungkin gara-gara sering dipijet ama lo kali?”
“iya juga kali ya”, kata Hendrik sambil mendekat ke arahku yang sudah telanjang bulat.
“eit,,tar dulu”, aku memakaikan celana dalamku ke kepala Hendrik sehingga matanya tertutup.
“ada apa si Nov?”.
“udah, pokonya ikut gue dulu, gak boleh ngintip”.
“iya”. aku memegang tangannya dan menuntun Hendrik ke kamarku.
“nah, sekarang boleh dibuka”.
“okeh,,”, setelah Hendrik membuka celana dalamku yang menutupi matanya, aku langsung bernyanyi.
“happy birthday to you…happy birthday dear Hendrik…happy birthday to you!”,
Hendrik sangat kaget dan tak bisa mengedipkan matanya karena hadiah yang kusiapkan sangat spesial. Hadiah yang tak bisa di duga, mengagetkan, dan aku yakin hadiah ini menyenangkan bagi Hendrik. Hadiahnya terbaring di atas ranjang yaitu Maya. Maya telah menyetujui untuk menjadi hadiah spesial. Hendrik tidak bisa berkedip melihat Maya yang telah dihias. Maya menghias dirinya dengan krim kue sehingga vagina dan kedua buah payudaranya tertutup krim kue.
“nih Hendrik…kue ulang taun lo!”.
“Maya?! Bener nih kue ulang taun gue?”, tanya Hendrik sangat kegirangan.
“iya bener,,gue kue ulang taun lo”, jawab Maya.
“wah…asik!!”. Hendrik langsung menuju Maya yang menjadi kue ulang tahun Hendrik. Hendrik langsung menjilati krim yang ada di kedua buah payudara Maya terlebih dulu hingga krimnya tak bersisa. Hendrik masih menjilati setiap senti payudara Maya hingga payudara 32 C yang montok milik Maya benar-benar bersih dari krim. Lalu Hendrik langsung menjilati vagina Maya yang juga ditutupi krim hingga krimnya bersih dan Maya orgasme sehingga Hendrik bisa meminum cairan vaginanya. Aku yang menyaksikan Hendrik sedang ‘memakan’ Maya menjadi terangsang sendiri sehingga aku meremas-remas payudaraku sendiri dan mengelus-elus vagina dan klitorisku.
“gila…udah kuenya enak,,minumannya juga enak,,”.
“makasih Ndrik, hari ini gue ama Novi milik lo seorang, jadi lo boleh ngapain aja ke kita”, kata Maya.
“wokeh, ini ulang taun yang paling enak yang pernah gue alamin”.
Maya mendorong Hendrik hingga Hendrik tidur terlentang, Maya langsung menjilati penis Hendrik hingga penis itu bangun dari tidurnya. Aku menyaksikan dan mengabadikan dengan video mulai dari Hendrik menyemburkan spermanya ke dalam mulut Maya hingga 2 jam kemudian lubang vagina, anus, mulut, wajah, dan payudara Maya telah belepotan sperma Hendrik.
Aku memang tidak ikut campur sebelum Hendrik selesai melampiaskan nafsunya ke teman baikku itu, setelah Maya menjilati sisa-sisa sperma yang ada di ujung kepala penis Hendrik, barulah aku maju untuk menjilati sperma yang berceceran dimana-mana di atas tubuh Maya. Aku membersihkan tubuh Maya dari sperma Hendrik hingga benar-benar bersih, lalu aku melumat bibir Maya agar kami bisa sama-sama merasakan rasa sperma Hendrik.
“nah Nov, sekarang giliran lo!”, kata Hendrik.
“okeh, siapa takut?”.
Aku melayani Hendrik dan Maya mengabadikannya seperti yang kulakukan tadi. 2 jam kemudian, tubuhku jadi belepotan sperma seperti Maya tadi dan Maya membersihkan tubuhku dengan mulutnya juga. Ronde ketiga aku dan Maya mengeroyok Hendrik sehingga tidak heran kalau penis Hendrik mondar mandir dari mulut, anusku, dan vaginaku ke mulut, anus, dan vagina Maya begitu juga sebaliknya berulang kali hingga 3 lubangku dan 3 lubang Maya belepotan sperma Hendrik. Waktu menunjukkan sudah pukul 3 dini hari. Kami bertiga sudah tidak ada tenaga lagi sehingga kami bertiga memutuskan untuk tidur, tapi sebelum tidur kami foto-foto dulu dengan pose kami berdua sedang mencium penis Hendrik dan kadang sedang menjilat kantung buah zakar Hendrik sebagai kenang-kenangan dari ulang tahun Hendrik yang takkan bisa ia lupakan. Sejak saat itu, bukan hanya aku yang ketagihan disetubuhi Hendrik, tapi Maya juga. Kadang kami bertiga main dirumahku dan rumah Hendrik jika sedang sepi, tapi paling sering di rumah Maya. Kalau aku sedang tidak bisa, Maya yang melayani Hendrik, begitu juga sebaliknya. Jika Hendrik sedang tidak bisa, aku dan Maya ke rumah pak Joko yang selalu sepi dan jika Hendrik maupun pak Joko sedang sibuk, aku dan Maya saling memuaskan diri kami berdua. Pernah rumah kami bertiga tidak kosong sehingga aku dan Maya disetubuhi di rumah pak Joko oleh Hendrik dan tentu saja oleh pak Joko juga. Pak Joko benar-benar ketagihan dengan servis kami berdua sehingga dia mengadakan pesta bersama teman-teman sekantornya yang cowok semua dengan aku dan Maya sebagai hiburan utamanya. Kami berdua lah yang membuat pak Joko sukses dalam setiap proyeknya karena kami membolehkan klien-klien pak Joko untuk menyetubuhi kami. Dan untuk Hendrik, bukan hanya aku dan Maya yang pernah disetubuhi, tapi juga Nita karena kami berdua bercerita ke Nita betapa hebatnya penis Hendrik yang bisa bertahan selama 2 jam.
Jadi, aku, Maya, dan Nita resmi menjadi tempat pemuas nafsu bagi Hendrik bahkan aku, Maya, dan Nita menyebut diri kami Hendrik’s Angels karena kami bertiga merasa ada yang kurang jika satu minggu saja tidak disentuh Hendrik. Aku mengenalkan Nita ke pak Joko sehingga Nita juga sering disetubuhi oleh teman-teman bisnis pak Joko. Teman-teman pak Joko sangat puas dan ketagihan denganku, Maya, atau Nita sehingga sering diadakan pesta seks karena itu juga banyak om-om yang memberi hadiah kepadaku, Maya, atau Nita sebagai balasan. Aku, Maya, dan Nita selalu melayani Hendrik, pak Joko dan teman-temannya dengan senang hati karena kami bertiga menjadi maniak seks. Kami bertiga hanya berharap supaya tidak hamil karena kami belum siap
By: Anak Badung
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini
Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial – The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.
Aku dan Kak Lia
May 26th, 2010Disclaimer:
- Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat dan peristiwa, itu sebuah ketidak sengajaan.
- Cerita ini mungkin akan berdampak buruk kepada sebagian kalangan, karena mengandung unsur erotis yang dimungkinkan dapat mengundang birahi.
- Kepada sebagian kalangan yang tidak menyukainya dan masih dibawah umur harap segera meninggalkan dan tidak membacanya.
- Ucapan terimakasih saya berikan kepada Mr. Shushaku yang telah bersedia mengedit dan memposting tulisanku. Juga kepada seluruh pengunjung yang bersedia membacanya.
- Mohon dengan bijak pembaca dapat membedakan antara karangan semata dengan kenyataan.
- Sebagai penulis amatir, saya mohon kepada semuanya untuk bersedia memberikan masukkan dan saran demi kepuasan bersama.
Selamat membaca!
**********************************
Danu
Namaku Danu, aku tinggal di kota B terletak di jawa barat, umur aku 19tahun, wajahku gak bisa dibilang cakep, kulit aku juga gelap, tapi syukurnya aku punya tubuh yang bisa dibilang atletis, tinggi aku 179cm, itu karena kebiasaan aku dulu di sekolah sebagai anggota/pemain basket. Sebenarnya di usiaku yang terbilang masih muda, aku pengen manfaatin untuk kuliah, aku pengen buktiin ke semua orang kalau aku mampu bersaing di bidang pelajaran. Yah, lagi-lagi karena faktor ekonomi dan keadaan yang gak mendukung, ahirnya aku putusin bekerja saja. Kebetulan aku harus menjadi tulang punggung keluargaku, aku menggantikan posisi ayahku, karena beliau sudah tak ada lagi dan meninggalkan kita untuk selamanya. Namun selama beberapa kali pindah kerja, karena kurang cocok dan masih kurang untuk membiayai keluarga. Cari sana cari sini ahirnya aku dapat juga pekerjaan, yah bisa dibilang cukup layak, aku ditawarin kerja sebagai sopir pribadi seorang pengusaha kaya di Jakarta. Aku memang sudah biasa nyopir dari dulu, bahkan kemaren aku baru saja dapat order angkut pasir disebuah kota di jawa tengah.hhihi Tetapi yang membuat aku keberatan bekerja di Jakarta, aku harus meninggalkan keluargaku, aku harus pisah beberapa saat dengan ibu dan adik-adikku, tapi bagaimana lagi , tidak mengapalah yang penting bisa bahagiain keluarga.
**************************************
Pagi hari pukul 06:00 WIB
Setelah mempersiapkan semuanya, aku berpamitan kepada ibu dan adik-adikku, aku berjanji akan mengirim mereka uang setiap ada rejeki. Sudah berpamitan, aku berjalan mencari angkutan umum menuju terminal bus. Sambil menunggu angkutan datang, hpku berdering menandakan ada telepon masuk dan aku angkat,
“hallo dengan Danu?” terdengar suara lembut wanita diseberang sana menyapaku,
“iyya benar ini dengan siapa” jawab aku,
“Danu lagi dimana? Saya Lia”
“Ohh, maaf bu Lia saya tidak tahu, saya sedang menunggu angkutan menuju terminal, saya berangkat hari ini ketempat ibu Lia” jawab aku agak gugup,
“ga apa-apa, kamu hati-hati yah saya tunggu”.
Sesudah itu percakapan diputus dan ahirnya datang juga angkutan dan berhenti tepat di depanku, setelah aku naik, angkutan kembali berjalan menuju terminal. Selama perjalanan menuju Jakarta, aku selalu dibikin penasaran dengan sosok wanita calon majikan aku “Lia”. Aku jadi ngelamun sendiri, kalau dari suaranya dia belum terlihat tua deh, galak juga kayaknya enggak..hehe bodo ah liat aja nanti. Singkat cerita aku sudah sampai jakarta, kota yang diliputi dengan kebisingan suara dan asap kendaraan. Panasnya gak karuan saat itu kira-kira jam satu siang. Aku inget-inget, tadi bu Lia menyuruhku ketemu di rumah makan k****ck Dekat terminal ini, dan segera menghubunginya jika aku sudah sampai di rumah makan itu. Setelah aku memesan tempat duduk, aku segera menghubungi Bu Lia,
“siang bu, ini Danu sudah sampai Jakarta dan sudah di rumah makan yang ibu maksud”,
“oke Danu, saya ke sana sekarang, kamu tunggu bentar yah”.
20 menit berlalu dan aku telah menghabiskan satu botol t eh dingin. Dan tak lama berselang aku melihat wanita yang berjalan mendekat, dia cukup tinggi kalau aku taksir sekitar 169cm, rambutnya panjang bergelombang dengan warna coklat kemerahan, wajahnya cantik mirip-mirip
pemain sinerton yang belum lama mendapat penghargaan dari Movie Award 2010. Dia menggunakan pakaian semacam terusan yang mencapai setengah pahanya dipadu dengan stoking hitam yang mempertegas keindahan kakinya. Gila bener nih cewek, coba aja kalo di daerahku ada cewek seindah itu, wah bisa-bisa nikah muda neh, pikirku.hihi Detak jantungku semakin kenceng aja, semakin lama cewek itu semakin mendekat, duh rejeki aku bukan yaah. Memang hampir seluruh meja terisi penuh, kecuali meja yang aku tempatin.
Lia
Aku dikagetkan ketika cewek itu benar-benar berada tepat di depanku, dan menyapaku
“Danu yah?” dari suara, sepertinya gak asing buat aku, “Danu kan?’ tanyanya lagi dan aku
dengan gugup menjawabnya
“ii..iyya, ii…ini bu…” aku agak ragu dan aku ulangi sekali lagi “ini benar bu Lia?”,
Dia tersenyum manis sekali dan hanya menjawab dengan anggukan kepalanya,
“mm..maaf bu maaf, silahkan duduk” aku masih saja gugup.
Setelah dia duduk, kami bercakap-cakap untuk mengakrabkan diri, dan aku tahu, ternyata diaa amasih muda dan berhati baik.
“Danu, kamu manggil saya jangan ibu ah, saya malu kalaua dipanggil ibu, kamu manggil saya kakak aja yah”
Aku kaget mendengarnya,
“tapi bu, ibu kan majikan saya?”,
“dah…ga papa, saya tidak suka dipanggil ibu, saya lebih suka dipanggil kak aja biar lebih akrab Nu, sekalipun nanti kamu menjadi sopir saya oke”.
Beruntung banget rasanya, punya majikan seperti ini, udah kaya, cantik, seksi, masih muda, pokoknya saat itu aku lagi gembira banget deh, dan tanpa disadari aku mesem-mesem sendiri. Lagi-lagi aku dibikin kaget dan deg-degan gak karuan, soalnya ada yang nyubit lengan aku
sambil bilang
“Danu, kamu kenapa kok senyum-senyum gitu, ngelamun apa hayo?”
Setelah beberapa detik baru aku sadar
“mm..maaf bu, eh kak, tt..taadi ingget….ama??rumah aja akak” jawab aku sekenanya..
“Ah payah deh, badan aja yang oke, masa dah gede inget rumah mulu sih” duh aku malu bener.
Setelah selesai makan, akhirnya kita beranjak pulang. Kak Lia nawarin aku yang nyopir,
“Nu, kamu masih capek gak? Kalo dah gak capek tolong sopirin dong, kakak pengen lihat kamu nyopir” ,
“baik kak, aku dah gak capek kok dan siap mengantar kakak kemana aja”.
Selama di perjalanan menuju rumahnya aku dan kak Lia ngobrol panjang, dan setelah itu baru aku tahu, kalau status dia adalah janda yang belum memiliki anak, umur dia 29tahun (pantes aja keliatan muda), dia anak tunggal dan tinggal sendiri. Dipasrahi oleh kedua orang tuanya untuk memegang perusahaan kertas terkemuka di Jakarta, sedangkan ayah dan ibunya memutuskan untuk tinggal di New Zeland.
Sesampainya dirumah kak Lia, aku parkirkan mobil SUV miliknya di garasi samping. Aku dipersilahkan masuk. Megah sekali bangunannya dan bertingkat pula.
“kak, ga ada orang yah?”,
“Ada kok, cuma pembantu”. Kak Lia memanggil pembantunya, “bii..bii..kesini sebentar”,
“iya non Lia” jawab pembantu itu setelah mendekati kak Lia,
“ini bi, Danu temen aku dari kota B, tolong diantarkan kekamar atas ya” kata kak Lia pada pembantunya”,
“mari, mas Danu saya antar ke kamar atas”
Aku bingung banget, kenapa kak Lia gak bilang aja yah kalau aku ini sopirnya.
“Kak Lia, saya pamit dulu ke kamar”,
“iya nu, kamu biar mandi dan istirahat yah”
Mata kak Lia benar-benar indah kupandangi, entah kenapa seolah dia memberikan sebuah isyarat dengan kedipan matanya, tetapi aku tidak tahu apa maksudnya. Setelah menuju kamar yang super megah ini, aku sendiri gak percaya
“kok bisa seorang sopir dikasih fasilitas semewah ini?”
aku gak habis pikir, setelah merasa cukup pikir-pikirnya ampe bingung sendiri, ahirnya aku putusin untuk mandi. Setelah selesai mandi aku lihat jam dinding
sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Aku tiduran di kasur dengan bertelanjang dada sambil menatap sekeliling langit-langit. Sampai akhirnya aku tertidur, dan tidur aku pulas sekali. Sungguh benar-benar damai pikiranku saat itu, tidak memikirkan sesuatu yang akan terjadi besok-besok. Setelah terjaga dari tidur dan melihat jam sudah pukul 5 sore, aku kaget dah, merasa bersalah udah tidur terlalu lama. Lebih kaget lagi ada suara cewek menyapaku
“sudah bangun Nu?”
Astaga, ternyata kak lia ada di kamarku dan sedang duduk di sudut tempat tidurku,
“kak, duh maaf kak, aku tidur terlalu pulas, kakak mau pergi kemana, biar aku antar?’,
“Nggak Nu, kakak ga lagi ada acara keluar, kakak minta maaf yah dah masuk ke kamar kamu tanpa ijin”
duh aku benar-bener gak enak ama kak Lia.
“kak ini kan rumah kakak, jadi kakak bebas mau ngapain aja, kak maaf yah, seharusnya aku gak perlu diperlakukan seperti ini, perlakukanlah aku
sebagaimana wajarnya seorang pembantu”,
Mendengar jawabanku kak Lia jadi sedih dan matanya memerah berkaca-kaca, lalu memeluk aku,
“Danu, kakak mohon sama kamu, kamu mau yah jadi bagian dari kakak? Soalnya selama hidup kakak gak pernah merasakan kebersamaan, orangtua kakak lebih memilih berbisnis dan tinggal di New Zeland, kakak pernah menikah, tetapi kakak belum mendapatkan anak, sudah ditinggal pergi oleh suami kakak, setelah bertemu kamu kakak merasa punya harapan baru, dan kakak bisa merasakan kedekatan dengan kamu, kamu gak keberatan dan mau menghargai kakak khan?”
Dia terus menangis dan memelukku, ahirnya aku sudahi lalu mengusap kedua mata dan pipi kak Lia yang basah dengan air matanya,
“iyya kak, aku bersedia, aku akan selalu ada untuk kakak”,
dia kembali memelukku dan berkata “terima kasih kakak sepenuhnya percaya ama kamu.”
Setelah berpelukan, kita kembali saling bertatapan, kali ini lebih berarti dan aku dapat melihat pancaran mata kak Lia tersirat sebuah kebahagiaan yang selama ini terpendam padanya. Lama kita saling bertatapan, tanpa disadari antara wajah aku dan wajah kak Lia semakin mendekat dan pada akhirnya bibir kita saling bertemu, bibir masing-masing hanya diam tidak bergerak seolah sedang meresapi dan menyatukan perasaan kita berdua. Hanya diam dan merasakan hangatnya hembusan nafas kita berdua yang semakin lama semakin tidak beraturan, samar samar aku dengar ucapan dari kak Lia
“Danu, kakak sayang kamu, tolong berikan kakak kepuasan, dan nikmatilah tubuk kakak sesuka kamu”
Bagai tersambar petir, aku benar-benar kaget, antara tidak percaya, dan rasa gembira campur aduk memenuhi perasaanku.
“Kak, Danu siap memberikan apa saja yang kakak mau, Danu juga siap memberikan kepuasan batin untuk kakak sebaik mungkin”
Kegiatan berciuman kembali dilakukan kali ini lebih memanas, kak Lia menghisap bibir aku dengan kuat dan aku juga tak mau kalah, aku balas dengan lebih agresif memainkan lidahku dalam mulutnya. Lama lidah dan bibir kita saling bergelut, saling membalas, saling menghisap dan saling menikmati. Kegiatan tersebut berlangsung sekitar 10menit dan belum ada tanda-tanda akan berhenti, terlebih aku, aku sangat menikmati bibirnya yang lembut. Pada menit ke 15 lidahku berpindah turun menghampiri lehernya, harum sekali aromanya, aku cium dan cium lehernya tanpa henti, aku beri gigitan kecil yang meninggalkan tanda merah
Di lehernya, kak Lia hanya mendesah lirih. Desahan kak Lia makin keras ketika cumbuan aku pada lehernya berpindah ke tengkuknya dan di balik telinga bagian belakang. Terus aku berikan cumbuan, dan desahannya semakin menjadi dan sudah menyerupai jeritan, ketika aku beranikan meremas dadanya dibalik baju yang masih dikenakannya. Aku remas dengan agak kuat dadanya yang besar itu, kenyal sekal rasanya. Oh iyya pembaca, sebenarnya ini bukan pertamakalinya aku menikmati wanita, dari umur aku masih 16tahun aku sudah menikmati surga dunia dengan pacar-pacar aku dulu, meskipun kuakui seluruh wanita yang aku pacari tidak ada yang menyamai kecantikan dan keindahan kak Lia sedikitpun.
Kembali pada cerita, aku terus mencumbunya dan meremas-remas dadanya, sedangkan kak Lia terus mendesah, sampai ahirnya kak lia beranjak dari kasur dan berdiri. Aku kaget sekali, pasti dia akan marah besar, memaki dan mengusirku atas kelancanganku. Belum hilang rasa kagetku, tiba-tiba kak lia kembali tersenyum dan menghampiri wajahku sambil mencium pipiku, aku jadi bingung, dan setelah itu dia kembali berdiri dan dengan gerakan perlahan dia mulai melepas pakaiannya satu persatu dari baju terusannya berikut stoking hitam yang dia pakai ikut dilepas. Sampai hanya menyisakan bra hitam yang terlihat tidak sepenuhnya menutupi dadanya, dan cd nya yang juga berwarna hitam, namun terlhat transparan, bisa aku ketahui dari bulu-bulu vaginanya yang bisa kulihat dari balik Cd nya. Lega rasanya, aku jadi tambah yakin kalau kak Lia serius dengan ucapannya tadi. Secara reflek aku langsung menerkamnya untuk kembali mencumbuinya, namun ketika aku baru mau memeluknya, aku ditahan olehnya dan dipersilahkan untuk duduk kembali dikasur. Sudah aku duduk baru dia menghampiriku lalu jongkok dihadamanku, aku baru tahu maksud dia setelah dia memegang dan meremas penisku, perlahan tapi terasa sekali remasannya walaupun masih di balik celana aku. Lalu dia meminta aku melepas celana pendekku, aku langsung turuti saja perintahnya, dengan berdiri sejenak lalu aku lepas celana pendekku, dan munculah daging
yang memanjang menyerupai botol, penis aku gak gede-gede amat sih, panjangnya cuma 17,5cm diameternya sekitar 3,7cm an, begitu celanaku terlepas langsung saja penisku ikutan mencuat. Iyyah, memang aku sudah lama gak lagi make cd alasan gak nyaman aja. Setelah itu, aku duduk kembali dan penisku langsung disambut oleh tangan dan jari-jari lentik kak Lia yang kukunya dihiasi inai/kitek warna hitam, nyaman sekali penisku berada pada genggamannya. Tak lama kemudian penisku mulai dikocoknya maju mundur atas bawah, nikmat sekali rasanya, tanpa disadari dari mulut aku mulai kelur desahan nikmat ketika penis aku
mulai dikulumnya. Nikmat sekali kulumannya, dan tak lama kemudian dia mulai mengkombinasikan antara kuluman dengan permainan tangannya, sungguh luar biasa aku dibuat menjerit-jerit gak karuan. Kak Lia benar-benar menguasai teknik itu. Hampir-hampir aku mengeluarkan maniku, tetapi aku buru-buru menghentikan aktifitas kak Lia, dan aku segera membaringkannya lalu kembali mencumbu bibirnya yang kemudian turun ke lehernya dan ahirnya terfokus pada dadanya yang masih terbungkus bra hitam, secara perlahan aku mulai membuka branya yang menghalangi dadanya, dengan memohon agar kak Lia mengangkat sedikit punggungnya agar aku dapat melepas kaitan bra kak Lia, setelah terlepas baru aku dapat melepas keseluruhannya dan sekarang terpampang dengan jelas daging kembar yang besar dan kencang, dihiasi puting yang imut berwarna merah muda, merupakan pemandangan terindah yang pernah aku lihat. Aku kembali meremasnya, namun kali ini dengan keras, karena gemes sekali, sampai-sampai kak Lia sedikit menjerit dibalik desahannya
“Danu, sakiit, pelan-pelan aja sayang”
lalu aku kembali meremasnya dengan pelan, dan mulutku yang sudah gak sabar itu akhirnya aku tempelkan di payudaranya sebelah kiri, lidahku dengan agresif menjilat seluruh permukaan dadanya, dengan sedikit memberi gigitan kecil, sedangkan tangan kiri aku meremas-remas dada bagian kanannya. Aku terus lakukan kombinasi antara gigitan dan jilatan pada dada sebelah kirinya, kemudian penjelajahan bibirku berhenti tepat pada putingnya, dan tak sia-sakan itu, aku langsung lumat dan hisap habis putingnya sampai kak Lia menjerit keras. Begitu juga pada dada bagian kanannya aku perlakukan hal sama.
Selelah puas menikmati dada kembarnya, aku turunkan posisi aku, jilatanku turun pula dari dada kembarnya menuju perut dan terus turun sampai tepat mendarat pada selangkangan yang masih tertutup oleh cdnya, namun tetap saja dapat terlihat bagian dalamnya karena cdnya berbahan transparan, ketika tanganku menyentuh cdnya, owh, basah sekali, dan setelah hidung aku didekatkan, mulai tercium aroma kewanitaannya, entah seperti apa aromanya aku tak dapat menggambarkannya, namun benar-benar membuat nafsuku semakin tinggi, tak sabar lagi langsung hidungku aku tempelkan di cdnya dan aku hirup dalam-dalam aroma itu. Aku mulai menurunkan cdnya, aku turunkan sampai kelututnya dan sampai akhirnya terlepas jatuh kebawah oleh gerakan khaki kak Lia sendiri. Aku dibikin gelap mata oleh
pemandangan ini, vagina basah yang merah merekah, dihiasi klitoris imut plus bulu-bulu yang tidak terlalu lebat, tanpa membuang-buang waktu lagi, aku benamkan wajah dan lidahku ke vaginanya, lidah aku langsung menghisap dan menelan cairan birahi yang sudah membanjiri vagina kak Lia, hmm…rasanya biasa seperti vagina pada umumnya, namun vagina milik kak Lia lebih manis, aku jilat terus tanpa henti dan jilatanku mulai terfokus pada klitorisnya yang semakin mengeras, “sssshhh….ooowh..terusin nuu, ooooohhh nikmat nu, sedot yang kuatt, ahhh….nuuu…kakak hampir sampee….ahhh kakak pengen keluar” kak Lia terus tak henti-hentinya mendesah dan menceracau tak jelas dan meliak liuk seperti cacing kepanasan ketika aku memainkan lidahku pada klitorisnya dan menghisapnya kuat-kuat.
Mendengar jeritan dan rintihannya, aku terus menggosok klitorisnya dengan lidahku, sedangkan tangan aku keatas memainkan kedua bukit kembarnya, meremasnya denganlembut dan sesekali dengan gerakan agak kasar. Sampai aku mendengar teriakan kuat kak Lia dan rambutku ditarik kuat-kuat berikut
kepalaku dijepit dengan kakinya, dan tak lama kemudian
“aaaahhhhhsssshhh aaaawwhhhh nuuu nikkmaaattt” cairan kental putih keluar dari celah vaginanya.
Kak Lia mendapatkan orgasme pertamanya dengan singkat. Aku telan semua cairan cinta kak Lia sampai bersih. Aku hanya memandanginya dan ikut berbaring di sampingnya. Setelah 5 menit berlalu, nafasnya mulai tidak tersenggal-senggal lagi, kak Lia sudah dapat mengatur nafasnya. Melihat dia sudah tenang, aku sedikit bangkit lalu mengecup keningnya, kak Lia hanya tersenyum dan memejamkan matanya. Setelah aku kembali berbaring, kak lia memelukku dari samping dan membalas kecupanku. Kita sama-sama tersenyum dan berciuman sejenak, lalu kak Lia berkata jika tadi nikmat sekali, da sudah lama tak merasakan belaian laki-laki semenjak ditinggal oleh suami brengsek yang tega mencerainya. Kak Lia hanya berpesan kepadaku untuk setia kepadanya dan menyuruhku berjanji akan
selalu mendampinginya. Maka dengan tanpa paksaan aku menyetujuinya dan berjanji akan terus mendampinginya. Aku merasa damai sekali ketika berada didekatnya, begitu pula sebaliknya dengannya.
“Kak Lia sayang, masih capek gak?”
Dia mengerti maksudku dan mengucapkan maaf karena tahu aku belum ejakulasi,
“aduh, maaf yah sayang, kamu belum sampai yah, hhi masih tegang banget nih, iyya deh kakak puasin yah sayang”.
Kak Lia ahirnya duduk namun menyuruhku auntuk tetap berbaring terlentang, jari-jari lentiknya kembali menggenggam penisku dan mulai mengocoknya, aku mulai mendesah nikmat. Tak lama kemudian lidahnya ikut menyapu bagian atas, lalu dijilatnya bagian kepala penisku yang tegang kemerahan, terus turun ke leher penisku. Di sini aku mendesah lebih kuat dan merasakan nikmat sekali, setelah seluruh bagian penisku telah dijelajahi dengan lidahnya, baru kemudian perlahan ujung penisku dibenamkan ke dalam mulutnya, terus masuk dan menyentuh tenggorokannya,
“ahhhkkhh kaaaak, nikmat sekali,,ahhhoouh” ku akui dia benar-benar jago mengulum penis, aku benar-benar dibuat tak berdaya, terlebih lagi disertai dengan kocokan lembut tangannya yang seirama dengan gerakan maju mundur penisku dalam mulutnya.
Setelah 10 menit berlalu, aku menyuruh kak lia menghentikan aktifitasnya, karena bisa fatal nantinya, karena aku belum merasakan jepitan vaginanya.
“Kak berhenti dulu, ahh udah kak aku gak tahan,,,kak gantian aja,,memek kakak”
Kak Lia mengerti maksudku dan hanya tersenyum, lalu jongkok tepat di atas penisku.
“Dah gak tahan pengin nikmatin memek kakak yah?”
Aku hanya tersenyum, dan menganggukkan kepala. Kak lia secara perlahan mulai menurunkan pinggulnya, aku membantunya dengan mengarahkan penisku ke lubang vaginanya, perlahan dengan agak susah payah, namun akhirnya penisku dapat masuk bagian kepalanya. Kak Lia mendesah kecil seperti menahan sakit
“kak, sakit yah?”,
“Iyyah Nu, agak sakit,, kakak masukinnya pelan-pelan aja yah, gapapa kan sayang?”,
”iyyah, pelan-pelan aja kak”..
Setelah beberapa saat akhirnya penisku dapat masuk semuanya ke dalam vagina kak Lia, sempit sekali, penis aku seperti di pijat dengan kuat, dan aku seperti dapat merasakan kepala penisku menyentuh dinding rahimnya. Setelah beberapa saat sebagai penyesuaian, dengan perlahan kak Lia mulai menaik turunkan pinggulnya, diawali dengan ringisan seperti menahan sakit, namun tak lama berselang aku dapat merasakan dari ekspresi wajahnya seperti sedanga dilanda kenikmatan. Begitu pula padaku, aku merasakan nikmat yang luar biasa, melebihia vagina-vagina pacarku dulu, penisku seperti dijepit dan dihisap dengan kuat.
“Oowhh…sssshhh…….aaaaahhhhhhwhh,,nikmattt…awh…shhhhhhhhhh” itu yang keluar daria mulut kita berdua, kita berdua sama-sama saling menikmati, saling mendesah, salinga menceracau.
Tiada yang dirasakan kecuali kenikmatan dan kenikmatan. Kita semakin mendesah, suasana kamar itu memanas diliputi aura birahi, dengan ulah aku dan kak Lia. Sambil menikmati kak lia menaik turunkan pinggulnya, aku remas kedua dada kembarnya, kumainkan putingnya, sehingga desahan kak Lia lebih mendominasi di antara kita.
Setelah 20menit dalam posisi yang sama, kak Lia makin memdesah, dan menjerit dengan kuat. Begitu pula aku juga mendesah lebih kuat lagi dari sebelumnya, karena kali ini penis aku benar-benar dijepitnya dengan kuat, memberikan efek yang sangat nikmat tiada tara. Aku melihat kak Lia meringis-ringis, mendesah dan matanya menciut.
”Ahhhhhhhhhh,,Daaaanuu,,kakak sampai lagi, ayoo Nuu jangan lama-lama kita keluarin sama-sama!”,
“iyya kak, Danu juga mau keluaaarrr kak,,,aaaaoowh,,kak, Danu keluarin dimanaaa”?,
“Di dalam aja sayang, vagina kakak pengin disemprot manii kaammmu, ayoo keluarin sama-samaaa, cepetan sayang, keluarin seluruh mani kamu”,
Aahhh…akhirnya kita sampai bersama. Sebelum penisku menyemburkan cairannya, aku merasakan semburan cairan vagina kak Lia berikut pijitan dahsyat, yang membuat aku tak tahan kan diri, dan langsung menyemprotkan cairanku dalam jumlah banyak sampai-sampai tumpah keluar membasahi tautan kelamin kita
berdua dan sebagian mengenai kain kasur yang kita naiki. Tersirat kepuasan di aantara kita berdua, akhirnya kak Lia ambruk dan menindihku sambil memelukku. 10 menit kita menenangkan diri dengan berpelukan, dan aku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dua jam aktifitas yang membara. Kita kembali
berciuman sejenak, dan saling mengucapkan kata sayang, lalu berpelukkan kembali sebelum sampai akhirnya aku dan kak Lia tertidur sebentar. Lalu kita terbangun ketika mendengar ketukan pintu kamar ,
“mas Danu, ayo makan malam dulu” suara bibi pembantu kak Lia terdengar dari balik pintu.
“Iyya bi, sebentar saya nanti ke depan”.
Kak lia yang juga sudah terbangun, tersenyum padaku.
“Kak, yok bersihin badan dulu”,
Kami akhirnya memutuskan mandi bersama. Iyyah, di kamar kak Lia yang aku tempati ini terdapat kamar mandi di dalamnya, juga ber ac. Sungguh aku saat itu membayangkan ini adalah takdir terbaik buat aku. Sambil mandi kita juga mengulang kegiatan seperti tadi, namun kali ini dilakukan dengan berdiri, dan kita tidak mengalami kesulitan yang berarti sampai akhirnya kita mencapai puncak kenikmatan bersama. Setelah selesai mandi, kita kedepan menuju meja makan dan kita
makan bersama dengan mesra, aku menyuapin kak Lia, dan kak Lia juga menyuapiku, begitulah sampai makanan berhasil kita habiskan. Kemesraanku dengan kak Lia berikut perjalanan panjang percintaan antara aku dengannya, masih terus berlanjut.
Lanjut?
By: Man199
****************
Jangan lupa dapatkan koleksi Shusaku di sini dan koleksi tas cantik Shusaku di sini
Five Filters featured article: The Art of Looking Prime Ministerial – The 2010 UK General Election. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.